wisata sejarah

wisata sejarah (15)

Patung Tiga Tokoh Wanita Jepara

  • Wednesday, 17 May 2017 08:04
  • Written by

RATU SHIMA

 

Menurut catatan sejarah, Dinasti Tang tahun 618 – 906 Masehi di Cho-po atau Pulau Jawa terdapat kerajaan yang bernama Ho-Ling (Kalingga). Ratu shima menjadi ratu sejak tahun 674 Masehi.
Ibu kota kerajaan ini dikelilingi dengan benteng yang terbuat dari kayu atas perintah ratu Hsi-mo atau Shima. Ia memimpin dengan sangat keras, tegas, adil dan bijaksana sehingga kerajaan sangat aman dan tentram. Tidak ada yag berbuat kejahatan, sebab siapapun yang melakukan pelanggaran ia akan mendapatkan hukuman yang berat. Ratu Shima dibantu 28 Orang menteri sebagai penguasa wilayah dan 4 orang menteri utama yang berkedudukan di ibukota kerajaan.

Berdasarkan catatan I-Tsing pada tahun 664-665 Masehi ada seorang pendeta cina bernama Hwi-Ning Berkunjung ke Ho-Ling. Kerajaan ini menjadi salah satu pusat pengetahuan budha hinayana di jawa. Ia berada di kerajaan tersebut selama 3 tahun hingga 667 M untuk menerjemahkan kitab suci budha Hinayana ke dalam bahasa cina. dengan dibantu pendeta bernama Jnanabhadra. Kitab terjemahan ini antara lain memuat cerita tentang nirwana. Daerah kekuasaannya meliputi sebagian pantai utara Jawa dimulai dari Jepara hingga Pekalongan.

Penduduk kerajaan Ho-Ling bermata pencaharian penduduk kalingga adalah bertani, menambang, berdagang, nelayan dan berburu. Mereka juga sudah mengenal cara membuat perahu, pandai menulis dan mengenal ilmu perbintangan. Ratu Shima mulai mengembangkan kalingga sebagai salah satu bandar perdagangan yang banyak dikunjungi saudagar, baik dari Asia maupun Eropa. Kalingga telah menjadi salah satu pintu masuk para pendatang.
Konon ketika hamil 7 bulan, Ratu Shima ngidam ingin makan buah kecapi yang rasanya kecut. Sebenarnya banyak abdi yang ingin mencarikan, tetapi ratu Shima menolak karena ingin langsung memakan buah kecapi yang segar dan dipetik sendiri dari pohon. Akhirnya rombongan Ratu Shima berangkat menuju arah barat. Namun sampai tengah hari buah kecapi yang diinginkan tidak juga dijumpai. Ketika rombongan sampai di suatu wilayah yang banyak ditumbuhi pohon rembulung mereka beristirahat. Daerah tempat Ratu Shima beristirahat ini kelak bernama desa Bulungan. Setelah sejenak beristirahat, akhirnya rombongan berjalan lagi kearah selatan. Saat itu Ratu Shima melihat banyak melihat banyak pohon kecapi yang sedang berbuah. Karena senang Ratu Shima berteriak Kecapi.... kecapi.... kecapi....
Konon kelak wilayah ini nantinya bernama Desa Kecapi.

Menurut cerita parahyangan, Ratu Shima memiliki anak yang bernama parwati, yang menikah dengan Mandiminyak, putra mahkota kerajaan galuh. Mandiminyak kemudian menjadi raja kedua dari kerajaan Galuh. Dari pernikahannya dikaruniai anak bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga kerajaan Galuh bernama Brantasenawa. Mereka memiliki anak bernama sanjaya yang kemudian menjadi raja kerajaan sunda dan galuh.

Konon setelah ratu shima meninggal tahun 732 Masehi, Sanjaya menggantikan buyutnya menjadi raja di kerajaan kalingga utara yang kemudian disebut bumi mataram dan kemudian mendirikan dinasti atau wangsa sanjaya di mataram kuno. Pada akhirnya kekuasaan di sunda diserahkan kepada putranya yang bernama tamperan barmawijaya . kemudian raja sanjaya menikah lagi dengan sudiwara, putri dewasinga, raja kalingga selatan atau bumi sembara dan memiliki putra bernama Rakai Penangkaran.

Diperkirakan kerajaan kalingga yang berdiri sejak abad ke7 ini berada di Jepara hingga abad ke X. Setelah itu pusat kerajaan pindah ke kawasan pulau jawa sebelah selatan dan kemudian bergeser ke daerah timur.
Penemuan benda bersejarah oleh Rabinah tahun 1961 di dukuh drojo, Desa Tulakan berupa atribut dan perhiasan seorang Ratu yang terbuat dari emas, perak, perunggu dan monel diperkirakan berasal jaman ratu Shima. Penemuan Rabinah di dinding sungai yang beratnya mencapai 28 Kg lebih ini sangat menggemparkan. Benda yang ditemukan Rabinah di sebuah tempat seperti dandang besar ini antara lain terdiri dari topeng, perhiasan cincin,stempel,gelang, penutup dada, keropak, kendi, dan tempat perhiasan. Juga jenis-jenis perhiasan bagi bangsawan wanita lainnya. Ada yang mengatakan bahwa barang-barang tsb adalah peninggalan ratu kalinyamat yang dititipkan kepada ki leseh dan istrinya sebelum muali bertapa di tanah wangi.

Keberadaan Candi Angin serta Candi bubrah di desa tempur, kecamatan keling juga diyakini oleh sebagian masyarakat merupakan bukti bahwa kerajaan kalingga berada di sekitar keling, Jepara.
Jejak kerajaan hindu dan budha yang banyak tersebar di sekitar wilayah Jepara bagian utara mulai mlonggo, bangsri, donorojo juga merupakan bukti bahwa pada masa itu di kawasan ini telah berkembang sebuah kebudayaan.
Bahkan di wilayah ini banyak terdapat peribadatan umat hindu dan budha termasuk juga pemeluk agamanya. Hanya memang para ahli memang belum sepakat tentang lokasi kerajaan kalingga secara tepat. Sebab berdasarkan cerita tutur yang berkembang di daerah lain, Ratu Shima juga dikenal di daerah Kendal dan Purbalingga.

 

RATU KALINYAMAT

 

Ratu kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono cucu dari Raden Patah, sultan demak yang pertama. Nama aslinya masih menjadi perdebatan, ada yang menyebutnya Ratu Arya Jepara, Ratu Retno Kencana dan Raden Ayu Wuryani. Ia dikenal sebagai putri sultan yang cantik pintar dan berani. Ia memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.Waktu ia masih gadis dipercaya menjadi Adipati Jepara yang di daerah kekuasaannya meliputi  Jepara, Kudus, Pati, Rembang dan Blora. Kerajaan konon ada di Kriyan. Ada yng menyebut kerajaan di Mantingan.

Ratu Kalinyamat mengembangkan jepara menjadi wilayah yang maju bukan saja nampak pada kesejahteraan pada warganya, tetapi berhasil dikembangkan menjadi bandar perdagangan. Ia kemudian menikah dengan “Toyib” yang kemudian bergelar Sultan Hadirin. Ada beberapa versi tentang Toyib. Ada yang menyebut dia putra “Sultan Aceh Ibrahim” yang bergelar Sultan Mukhayat Syah. Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat waktu itu Toyib diutus ayahnya untuk belajar ilmu agama dengan pemerintahan di Kasultanan Demak. Ia pemuda tampan bijaksana memiliki ilmu agama yang luas dan sangat berani. Ia kemudian dijodohkan dengan Ratu Kalinyamat dan bergelar “Pangeran Hadirin”.

Ada versi lain tentang Toyib. Ia adalah putra Sultan Aceh. Karena memiliki kemampuan yang lebih dan berkepribadian yang baik, ia diangkat ayahnya menjadi Sultan Aceh. Namun kakaknya yang bernama “Takyim” tidak menyetujui sehingga terjadi perselisihan diantara mereka. Walaupun ayahnya bersih keras mengangkat menjadi Sultan, namun ia tidak bersedia. Karena perselisihan tersebut pangeran Toyib meninggalkan negerinya dan mengembara ke negeri Cina. Disana ia diangkat anak oleh seorang punggawa Kerajaan Cina. karena lafal bahasa Cina sulit menyebut nama Toyib, namanya kemudian dikenal dengan “Toyat”. Kurang lebih 5 tahun Toyib berada di Cina. Ia kemudian menuju ke pulau Jawa dan bekerja di istana Ratu menjadi tukang kebun.

Ada versi lain yang menceritakan asal-usul Pangeran Hadirin sebelumnya bernama “Juragan Wintang”. Ia seorang pedagang dari cina datang ke pulau  Jawa dengan 3 buah kapal yang penuh dengan berbagai dagangan dari Cina. Sampai di Ujung Lor, semua kapal tenggelam dikarenakan dihantam badai. Semua penumpang kapal meninggal termasuk istrinya, hanya Juragan Wintang yang selamat. Ia kemudian bertemu dengan Sunan Kudus.

Setelah masuk islam dan menjadi murid Sunan Kudus, kemudian diberi nama “Rakit”. Ia diperintahkan untuk bertempat tinggal di pinggir Sungai Kalinyamat. Lama - kelamaan tempat ini menjadi desa, dan dinamakan Kalinyamat oleh Sunan Kudus. Ia kemudian mulai berdagang dan dikenal  sebagai saudagar yang sangat kaya, juga memiliki galangan kapal dan menempatkan diri dibawah kekuasaan Sultan Trenggono dari Demak. Kemudian ia dinikahkan dengan putri Sultan Trenggono yaitu “Retno Kencono”.

Setelah pernikahan dengan Sultan Hadirin, kekuasaan adipati diserahkan oleh Ratu Kalinyamat kepada suaminya. Kemudian bersama-sama mengembangkan dan membangun Jepara.

Sayangnya, Pernikahan  Ratu Kalinyamat dengan Sultan Hadlirin tidak berlangsung lama. Sultan Hadirin dibunuh oleh orang suruhan Adipati Arya Penangsang pada tahun 1549.

Ada cerita rakyat yang mengisahkan pembunuhan pangeran Hadirin terjadi seusai upacara pemakaman Sunan Prawata. Kakak Ratu Kalinyamat tewas ditangan Arya Penangsang yang berambisi merebut tahta Kasultanan Demak. Mendengar berita tentang pembunuhan kakaknya, Ratu kalinyamat bersama suaminya menghadap Sunan Kudus untuk memohon keadilan. Setelah menghadap, Ratu Kalinyamat menilai Sunan Kudus memihak kepada Arya Penangsang. Sunan kudus mengatakan, bahwa Arya Penangsang melakukan pembunuhan sebagai pembalasan atas pembunuhan yang telah dilakukan Sunan Prawata terhadap ayah Arya Penangsang yaitu “Pangeran Sekar Seda Lepen”.

Mendengar jawaban itu, Ratu Kalinyamat dan suaminya segera pulang. Ketika ditengah perjalanan pulang ke Jepara, mereka di cegat oleh orang - orang Arya Penangsang, sehingga terjadi perkelahian yang mengakibatkan Pangeran Hadirin tewas. Setelah peristiwa pembantaian kakak kandung serta suaminya, Ratu Kalinyamat bersumpah akan menebus sakit hatinya. Ratu kalinyamat sangat sedih kehilangan suami dan kakaknya. Ia tidak pulang ke istananya, tetapi bersama dengan dayang-dayangnya bertapa di Bukit Gelang atau Gilang Mantingan, dimana tempat suaminya  dikuburkan. Ia kemudian memindah tempat bertapanya ke bukit Danarasa letaknya menghadap kelaut dan pindah lagi ke Danaraja.

Meninggalnya Sultan Hadlirin dan Sultan Prawoto membuat kepedihan mendalam dari Ratu Kalinyamat sehingga dia bersumpah mengadakan “ Tapa Ngrawe ” digunung Danarasa. Ada 2 versi penafsiran Tapa Ngrawe. Pertama bertapa tanpa menggunakan pakaian dan kedua bertapa melepaskan  semua atribut kerajaan. Sumpah ini dilakukan sebagai bentuk protes dan meminta keadilan, dari tuhan atas meninggalnya kedua orang yang sangat dicintainya. Ia tidak akan berhenti bertapa, sebelum keramas darah  Arya Penangsang dan menggunakan rambut Arya Penangsang untuk membersihkan kakinya.

Selain itu Ratu Kalinyamat juga bersayembara, barang siapa dapat mengalahkan Arya Penangsang kalau perempuan akan di akui sebagai saudara “Siniro Wedi” bila laki-laki akan mendapatkan kedua putri angkatnya bernama RR. Semangkin dan RR. Ayu prihatin untuk diangkat menjadi istrinya. Tindakan Ratu Kalinyamat membingungkan Sultan Hadiwijaya. Ia meminta Ratu Kalinyamat pulang ke keraton, ia menolak sebelum membalaskan kematian dari kakak dan suaminya.

Sultan Hadiwijaya berjanji akan berusaha untuk mewujudkan keinginan sang Ratu. Sultan Hadiwijaya mengadakan pertemuan, yang diikuti Ki Panjiwa, Ki pamanahan dan Ki Juru Mertani. Akhirnya Sultan Hadiwijaya memberikan pengumuman, barang siapa yang mengalahkan Arya Penangsang diberi hadiah “Bumi Pati atau Alas Mentaok”. Akhirnya Sutawijaya menyanggupi dan menjadi Senopati perang.

Menghadapi Arya Penangsang harus diatur strategi untuk menantang  Arya Penangsang, melalui surat yang disampaikan juru pencari rumput dengan memotong telinganya. Telinga tersebut kemudian diberi surat tantangan. Tukang pencari rumput kuda Arya Penangsang dengan mengerang-ngerang kesakitan mengadukan perihal surat tantangan ini bersama Patih Mataun.  Karna mendapatkan tantangan, Arya Penangsang tanpa berpikir panjang ia berlari dan menaiki kuda Gagak Rimang dengan membawa tombak saktinya.

Sutawijaya menunggu diseberang bengawan sore caket beserta 200 prajurit. Gagak rimang adalah kuda Jantan maka Sutawijaya menaiki kuda betina warna putih bersih. Akhirnya kuda Gagak Rimang menjadi binal dan naik birahinya sehingga mengejar kuda Sutawijaya. Karena lengah, Sutawijaya melemparkan tombak Kyai Pleret ke arah perut Arya Penangsang. Arya Penangsang sakti mandraguna terluka, ususnya terburai keluar. Ia mengalungkan ususnya ke gagang kerisnya bernama Brongot Setan Kober dan terus mengejar Sutawijaya. Arya semakin tidak terkontrol, merasa diledek dan ditantang. Akhirnya Keris Brongot Setan Kober dihunus dari warangkanya dan mengenai ususnya sendiri hingga akhirnya Arya Penangsang tewas.

Kematian Arya Penangsang disampaikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ratu Kalinyamat. Sejak itu Ratu Kalinyamat mengakhiri pertapaannya dan berkemas kembali ke istana kerajaan. Ia dinobatkan menjadi Adipati Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat dengan candra sengkala "Trus Karya Tataning Bumi” tahun 1549.

Pada pemerintahan Ratu Kalinyamat, kerajaan mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang antara lain : agama islam, ekonomi, perdagangan, sosial dan kebudayaan terutama seni ukir, pertahanan dan keamanan. Dalam menjalankan pemerintahanya, dipusatkan di Kaliyamatan. Untuk pesanggrahan dan pertapaan di desa Mantingan berdekatan dengan makam Sultan Hadirin.

Agar pesanggrahan dapat dijadikan tempat peristirahatan, dilengkapi dengan bangunan masjid. Masjid ini diberi beberapa ornamen yang dibuat oleh “Cie Wie Gwan”. Pembangunan masjid Mantingan ditandai candra sengkala, berbunyi ”Rupa Brahmana Warna Sari” tahun 1748.

Ratu kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perang ke malaka guna menggempur portugis tahun 1552 dan 1574. Orang Portugis menyebut sang Ratu sebagai “De Kranige Dame” artinya “Wanita yang gagah berani”. Seorang penulis berbangsa Portugis, De Coute dalam bukunya menyebut Ratu Kalinyamat sebagai Rainha De Japara, Senhora Paderosa e Rica artinya Ratu Jepara seorang wanita yang sangat kaya dan berkuasa.

Serangan sang Ratu melibatkan 40 buah kapal yang berisikan kurang lebih 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal. Sebab ketika prajurit Kalinyamat melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan portugis di Malaka, tentara Portugis dengan bersenjata lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Ratu Kalinyamat. Semangat patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 15 itu sedang dalam puncak kejayaan dan di akui sebagai bangsa pemberani di dunia.

24 tahun kemudian atau tepatnya Oktober1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar ke Malaka. Ekspedisi militer kedua melibatkan 300 buah kapal di antaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengirim armada kedua ini dipimpin oleh panglima “Quilimo”, Sebutan dari orang Portugis. Ekpedisi kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka.

Tindakan Ratu Kalinyamat yang gagah berani ini telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara. Ini terbukti dengan bebasnya dipulau jawa dari penjajahan portugis di abad 16. Sebagai peninggalan sejarah perang besar antara Jepara dan Malaka, sampai sekarang masih terdapat dikomplek makam yang disebut makam tentara jawa di Malaka. Akhirnya Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di Desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya.

 

RADEN AJENG KARTINI

 

1. Masa Kelahiran Kartini

                Sewaktu R.A. Kartini dilahirkan pada tanggal 21 april 1879, ayahnya masih berkedudukan sebagai wedono mayong, sedangkan ibunya adalah seorang wanita berasal dari desa teluk awur yaitu mas ajeng ngasirah yang berstatus garwo ampil.R.M.A.A. Sosroningrat dan urutan keempat dari ibu kandung mas ajeng ngasirah, sedangkan eyang  R.A. Kartini d pihak ibunya adalah seorang ulama besar pada jaman itu bernama kyai haji madirono dan hajjah siti aminah.

Istri kedua ayahnya yang berstatus garwo padmi adalah putri bangsawan yang dikawini pada tahun 1875 keturunan langsung bangsawan tinggi madura yaitu raden ajeng woeryan anak dari R.A.A. Tjitrowikromo yang memegang jabatan bupati jepara sebelum R.M.A.A. Sosroningrat.perkawinan dari kedua istrinya itu telah membuahkan putra sebanyak 11 (sebels) orang. Mula pertama udara segar yang dihirup R.A. Kartini adalah udara desa yaitu sebuah desa di mayong yang terletak  ±25km sebelum masuk jantung kota jepara. Disinilah dia dilahirkan oleh seorang ibu dari kalang rakyat biasayang dijadikan garwo ampil oleh wedono mayong R.M.A.A. Sosroningrat. anak yang lahir itu adalah seorang bocah kecil dengan mata bulat berbinar-binar memancarkan cahaya cemerlang seolah menatap masa depan yang penuh tantangan.

2. Masa Kepindahan Kartini dari Mayong

                Hari demi hari beliau tumnuh dalam suasana gembira, dia ingin bergerak bebas , berlari kian kemari, hal yang menarik baginya ia lakukan meskipun dilarang. Karena kebebasan dan kegesitannya bergerak ia mendapat julukan TRINIL dari ayahnya. Kemudian setelah kelahiran R.A. Kartini, yaitu pada tahun 1880 lahirlah adiknya R.A. Roekmini dari garwo padmi. Pada tahun 1881 diangkat sebagai bupati jepara dan beliau bersama keluarganya pindah kerumah dinas kabupaten di jepara. Jadi bertepatan kartini usia 2 tahun itulah diboyong dari tempat kelahirannya mayong menuju btempat tinggal yang baru dirumah dinas kabupaten jepara.pada tahun yang sama lahir pula adiknya yang diberi nama R.A. Kardinah sehingga si trinil senang gembira dengan kedua adiknya sebagaiteman bermain. Lingkungan pendopo kabupaten yang luas megah itu semakin memberikan kesempatan bagi kebebasan dan kegesitan setiap langkah R.A. Kartini.

3. Masa Kartini Mengikuti Pendidikan

Sifat serba ingin tahu R.A. Kartini inilah yang menjadikan orang tuanya semakin memperhatikan perkembangan jiwanya. Memang sejak semula R.A. Kartini paling cerdas dan penuh inisiatif dibandingkan saudara perempuan lainnya. Dengan sifat kepemimpinan  R.A. Kartini yang menyolok, jarang terjadi perselisihan diantara mereka bertiga yang dikenal deng nama (TIGA SERANGKAI) meskipun dia agak diistimewakan dari yang lain. Agar putrinya keliling dengan menaiki kereta kuda. Secara terarah agar putrinya kelak akan mencintai rakyat dan bangsanya, sehingga apa yang dilihatnya dapat tertanam dalam ingatan R.A. Kartini  dan adik-adiknya serta dapat mempengaruhi pandangan hidupnya setelah dewasa. Saat mulai menginjak bangku sekolah (EUROPENES LAGERE SCHOOL) terasa bagi sesuatu yang mengembirakan. Karena sifat yang ia miliki dan kepandaiannya yang menonjol  R.A. Kartini cepat disenangi teman-temannya kecerdasan otaknya dengan mudah menyaingi anak-anak belanda baik pria maupun wanitanya, dalam bahasa belanda pun R.A. Kartini dapat diandalkan. Menjelang kenaikan kelas disaat liburan pertama, NY.Ovink Soer suaminya berserta adik-adiknya roekmini dan kardinah menikmati keindahan pantai bdan andengan letaknya 7 km  ke utara kota jepara, yaitu sebuah pantai yang ndah dengan hamparan pasir putih yang memukau sebagaimana yang sering digambarkan lewat surat-suratnya kepada temannya stella di negeri belanda. R.A. Kartini Dan kedua adiknya mengikuti NY.Ovink Soer  mencari kerang sambil berkejaran menghindari ombak, kepada    R.A. Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut dan dijawab dengan singkat yaitu pantai bandengan.

Kemudian NY.Ovink Soer mengatakan bahwa di Holland  pun ada sebuah pantai hampir sama dengan bandengan namanya (Klien Scheveningen) secara spontan mendengar itu menyela kalau begitu kita sebut saja pantai bandengan ini dengan nama Klien Scheveningen. Selang beberapa tahun kemudian setelah slesai pendidikan di EUROPENES LAGERE SCHOOL, R.A. Kartini berkehendak ke sekolah yang lebih tinggi, namun timbul keraguan di hati karena terbentur pada aturan adat apalagi kaum bagi ningrat bahwa wanita seprti dia harus menjalani pingitan.

4. Masa Kartini Memasuki Usia Pingitan 

Memang sudah saatnya R.A. Kartini memasuki masa pingitankarena usianya telah mencapai 12 tahun lebih, ini semua demi keprihatinan dan kepatuhan kepadatradisi ia harus berpiash pada dunia luar dan terkurung oleh tembok kabupaten. Dengan semangat dan keinginannya yang tak kenal putus asa R.A. Kartini berupaya menambah pengetahuannya tanpa sekolah karena menyadari dengan merenung dan menangis tidaklah akan hasilnya, maka satu-satunya jalan untuk menghabiskan waktu adalah dengan tekun membaca apa saja yang di dapat dari kakak dan juga dari ayahnya.

Beliau pernah juga mengajukan lamaran untuk sekolah dengan beasisiwa ke luar negeri belanda dan ternyata dikabulkan oleh pemerintah Hindia Bleanda, hanya saja dengan berbagai pertimbangan maka beasiswa tersebut diserahkan kepada putra lainnya yang namanya kemudian cukup terkenal yaitu H.Agus Salim.

5. Masa Kartini Menjalani Masa pingitan

walaupun  R.A. Kartini tidak berkesempatan melanjutkan sekolahnya, namun himpunan murid-murid pertama kartini yaitu sekolah pertama gadis-gadis priyayi bumi putra elah dibina diserambi pendopo belakang kabupaten. Ketika itu sekolah kartini memasuki pelajaran apa yang kini dikenal dengan istilah krida R.A. Kartini dimana sedang menyelesaikan lukisan dengan cat minyak. Murid-murid sekolahnya mengerjakan pekerjan tangan masing-masing. Ada yang menjahit dan ada yang membuat pola pakaian dan lain-lain.

6. Masa Kartini dapat Lamaran & Menikah

Adapun bupatai RMAA. Sosroningrat dan Raden Ayu tengah menerima kedatangan tamu utusan yang membawa surat lamaran dari Bupati Adipati Djojodiningrat yang sudah dikenal berpandangan maju dan modern. Tepat tanggal 12 Nopember 1903 RA. Kartini melangsungkan pernikahannya dengan Bupati Rembang Adipati Djojodiningrat dengan cara sederhana

7. Masa Kartini Melahirkan Putra Pertama

Pada masa kandungna RA. Kartini berusian 7 bulan, dirinya merasakan kerinduan yang amat sangat pada ibunya dan kota jepara yang sangat berarti dalam kehidupannya. Suaminya telah berusaha menghiburnya dengan musik gamelan dan tembang – tembang yang menjadi kesayangannya, namun semua itu membuat dirinya lesu. Pada tanggal 13 september 1904 RA. Kartini melahirkan seorang bayi laki – laki yang diberi nama Singgih / RM. Soesalit

8. Masa Wafat Kartini

Tetapi keadaan RA. Kartini setelah melahirkan putra pertamanya itu semakin memburuk meskipun sudah dilakukan perawatan khusus, dan akhirnya pada tanggal 17 september 1904 RA. Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 25 tahun. Kini RA. Kartini telah tiada, cita – cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dicapai kaum wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan penannya semasa hidup yang kita kenal dengan buku (HABIS GELAP TERBITLAH TERANG)

 

 

Goa Sakti

  • Wednesday, 03 May 2017 14:26
  • Written by

LEGENDA

Lubang pada tanah yang terjadi secara alami sampai pada saat sekarang belum ada yang mampu memprediksi sejak kapankah terjadinya lubang itu. Hanya dalam legenda yang menjadi cerita rakyat bahwa lubang tersebut adalah tempat "Mbah Langkir" bertapa sampai akhir hayatnya (moksa) atau hilang jiwa raganya. Maka lubang tersebut diberinama "GUA LANGKIR" seiring dengan berjalnnya waktu, gua itu juga pernah jadi tempat bersarangnya kelelawar (lowo) dengan jangka waktu yang cukup lama. Maka para pendatang kemudian kemudian memberi julukan "GUA LOWO (Gua Kelelawar)" gua ini. 

ASAL MUASAL NAMA GUA SAKTI

Singkat cerita, pada zaman dahulu ada seorang seniman yang bernama "MBAH KARTAWI" dia adalah salah satu seniman Emprak, dan Reog Barongan Desa Plajan yang pada masanya sangat tersohor. Konon setiap ada pentas selalu membawa barongannya ke gua untuk disemedikan selama berhari -hari di dalam gua tersebut. Menurut keyakinannya, dengan disemedikan maka dapat menambah energi mistis pada barongan itu sendiri dalam setiap kali pertunjukannya serta seolah - olah dapt membius para penonton hingga terbuai dalalm pementasan barongan yang diadakan oleh "MBAK KARTAWI". 

Dahulu juga banyak orang -orang yang datang ke gua tersebut guna melakukan ritual (ZIARAH). Pada saat mereka berziarah, mereka melihat keanehan - keanehan yang terjadi di sekitar gua itu. Inilah mengapa dijulukan atau nama - nama yang terdahulu tidak lagi dipakai dan diganti dengan "GUA SAKTI"

KLENTENG HOK TOK TENG - PECINAN JEPARA

  • Wednesday, 03 May 2017 12:52
  • Written by

Mnurut keterangan yang diberikan oleh pengurus klenteng wang fu atau furianto klenteng ini dibangun pada tahun 1881 Masehi. Keterangan ini juga diperkuat dari kesaksian anggota keluarga Giok Hwa yang menjadi pengurus kelenteng sejak tahun berdirinya kelenteng ini. Disamping kitab suci penganut kepercayaan Tri Darma di kelenteng atau rumah ibadah HOK TOK TENG yang beralamat dijalan P. Diponegoro Jepara ini ada semacam kitab ajaran tentang silsilah keturunan manusia yang mencapai pencerahan yang ikut andil dalam pembangunan tempat ibadah ini. Nama kitab ini bernama Sam Ho Bio yang menurut Purniati (salah satu pengurus) yang bearti” urutan pencerahan “.

Asal muasal terbentuknya komunitas ibadah di Hok tok teng ini sebenarnya berawal dari awal perkumpulan para pekerja dari orang-orang cina yang datang ke jawadwipa yang subur. Namun setelah sampai di holing mereka saking asiknya dengan kemakmuran jawadwipa hidup mereka sangan berubah dan cendurung melakukan perbuatan yang melanggar norma dari adat tiong hoa.

Karena perkumpulan itu lebih cenderung keperbuatanya menyimpang maka Giok Hwa seorang wanita yang dipercaya suci mempunyai ide untuk menangulani itu semua dibangunlah tempat ibadah Hok Tok Teng ini. Pembangunan ini awalnya diabangun dengan cara swadaya dari seluruh warga tiong hoa yang mampu saat itu, sebenarnya pembangunan kelenteng atau tempat pemujaan ini menurut Wang Fu fu juga mengandung ideologi perlawanan terhadap kristenisasi terhadap warga keturunan china diJepara. Pada zaman dahulu Jepara digunakan oleh orang-orang barat Portugis maupun Belanda untuk melakukan program penyebaran agama kristen, sedangkan pada waktu yang mempunyai hubungan lebih dekat ketimbang pribumi adalah warga China maka tidak mungkin kalau banyak warga china yang diberikan fasilitas lebih dengan satu alasan agar mau masuk agama kristen waktu itu.

Kelenteng ini terahir direnovasi pada 14 Desember 1997 atau dalam tahun baru china 15 CAP IT GWEE 25648. Pembangunan tempat ibadah ini atas prakarsa dana dari Nyonya OH IE DJIANG dari keluarga OH KIAN LIEN Salatiga. Penelitian ini jadi tidak maksimal karena bukti tertulis yang disimpan dikelenteng ini tidak boleh dilihat apalagi orang luar sehingga kami sebagai peneliti tidak bisa mengkroscek sumber.

 

 

Ruang Pingit R.A. Kartini

  • Friday, 21 April 2017 09:44
  • Written by

Ruang Peringgitan

Ruang ini dulu untuk menerima/ menjamu tamu terbatas, sampai saat inipun tempat ini masih dipergunakan untuk dhahar prasmanan dan menerima tamu. Namanya rono kaputren (yang ukirannya tembus) atau berlubang dan yang blok ukir namanya rono kaputran. Di sebelah kiri itu dulu adalah ruangan kerja untuk Bapak Sekwilda dan sebelah kanan adalah ruangan kerja Bapak Bupati. Rono/penyekat ini dulu yang membatasi RA Kartini dipingit.

    

Makam dan Masjid Mantingan

  • Saturday, 28 January 2017 11:54
  • Written by

Pada saat Sultan Hadirin berkuasa, pusat pemerintahan berada di Kalinyamat. Namun ia memiliki pesanggrahan dan pertapaan yang letaknya cukup jauh yaitu di desa Mantingan. Pada saat Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat menghadapi persoalan yang penting, mereka akan bersemedi di tempat ini. Karena tempat ini sangat berarti, maka ketika Sultan Hadirin wafat karena di bunuh oleh orang suruhan Arya Penangsang dan dimakamkan di pesanggrahan yang dikenal masyarakat sebagai tempat keramat. Ratu Kalinyamat memulai pertapannya menuntut keadilan atas kematian suaminya, ia juga melakukan di bukit Gelang atau Gilang tempatnya tidak jauh dari makam suaminya dibangun, setelah sepuluh tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat sering mengunjungi makam suaminya, ia ingin membangun masjid. Pembangunan masjid ditandai dengan candrasengkala yang berbunyi Rupa Brahmana Warna Sari tahun 1559.  

Masjid ini adalah masjid tertua kedua setelah masjid Demak. Masjid yang terletak diatas bukit ini dihiasi dengan ornamen ukiran yang terbuat dari batu putih, dindingnya dihiasi dengan relief berbentuk bundar, bujur sangkar, persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk garis kurawal. Motif hiasannya berupa bunga teratai dan hewan yang telah disesuaikan dengan nilai budaya islam. Masuknya budaya islam dalam ornamen ukiran yang ada dimasjid Mantingan konon berasal dari Sunan Kalijaga yang masih nampak unsur Hindu dan Budaya Tiongkok, nampak juga pada gapura makam yang menggunakan gerbang candi bentar. Gerbang ini salah satu ciri khusus bangunan candi Hindu.

   

 

Ukiran Masjid Mantingan ini dibuat oleh Chi Hui Gwan, ayah angkat Sultan Hadirin yang berasal dari Tiongkok. Karena keahliannya mengukir yang luar biasa beliau dikenal juga dengan panggilan Patih Sungging Bandar Duwung. Masjid ini di buat Chi Hui Gwan dengan di bantu oleh penduduk setempat yang sebelumnya telah mendapatkan bimbingan seni ukir. Bahannya menggunakan batu putih yang saat itu banyak tersedia di Mantingan.

Pada Ornamen masjid Mantingan, hiasan binatang disamarkan dalam huruf Arab dan menjadi kaligrafi yang indah. Bentuk binatang yang tersamar dalam huruf Arab ini merupakan jalan keluar terhadap larangan dalam islam untuk menggambarkan makhluk hidup.

Makam Mantingan terletak di belakang masjid. Letaknya membujur kebelakang, terdiri atas tiga bagian. Masing masing bagian dibatasi dengan tembok dan memiliki pintu gerbang. Sesuai dengan bentuk makam kuno, letak makam menunjukkan kedudukan sosial dari orang yang dimakamkan. Teras pertama letaknya paling bawah merupakan pemakaman umum, tersas kedua untuk pemakan orang yang statusnya cukup tinggi termasuk abdi terdekat Ratu Kalinyamat. Sedangkan teras ketiga adalah makam orang-orang yang statusnya tinggi, terutama yang di dalam cangkup.

Teras terbawah, pintu gerbangnya berupa candi bentar yang terbuat dari batu bata. Pintu ini seperti candi terbelah yang ditengahnya bisa untuk di lewait pengunjung. Diantara teras bawah dan teras berikutnya diberi sekat berupa tembok keliling yang juga terbuat dari batu bata merah. Sedangkan teras teratas pintu gerbangnya berupa Paduraksa, yaitu semacam candi yang bagian tengahnya berlubang. Pada lubang ini ada pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Bentuk gerbang semacam ini dalam pemakaman jawa dikenal sebagai tempat suci atau disucikan. Pada teras teratas, terdapat bangunan cungkup makam terbuat dari bata merah dan memiliki 2 pintu. Diantara 2 pintu ini terdapat papan batu putih bertuliskan ‘’ Yasanipun Kanjeng Raden Mas Panji Sosroningrat. Tumenggung Nagari Jepara 1812’’. Pada makam didalam cangkup ini dimakamkan Ratu Kalinyamat, Pangeran hadirin dan keluarga dekatnya.

 

Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan hadirin sering dikunjungi oleh peziarah umatnya saat memperingati  meninggalnya Sultan Hadirin yaitu pada tanggal 17 Robiul Awal, sehari sebelum hari jadi jepara.

Pada saat seperti itu dilakukan prosesi buka luwur yaitu mengganti penutup makam Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadirin. Makam mantingan sampai saat ini masih dianggap keramat bahkan sebagian masyarakat meyakini bahwa pohon pace yang tumbuh disekitar makam memiliki kasiat, bagi seorang istri yang belum memiliki anak buah ini dapat menjadi obat. Namun hanya buah yang jatuh yang memiliki khasiat dan cara makannya harus dimakan bersama suaminya.

Hal lain yang dianggap keramat adalah air yang ada di komplek makam tersebut. Air keramat ini sangat ampuh untuk menguji kejujuran seseorang. Karena itu air ditempat ini sering digunakan untuk menyelesaikan sengketa atau perselisihan. Caranya dengan doa dan minum air ini, bila bersalah dan tidak mau mengakui kesalahannya, maka akan mendapatkan hukuman dari yang maha kuasa.

Masjid dan Makam Mantingan terletak 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara di desa Mantingan kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, sebuah yang menyimpan peninggalan kuno islam dan menjadi salah satu aset wisata sejarah di jepara, dimana disana berdiri megah sebuah masjid yang dibangun oleh seorang islamik yaitu PANGERAN HADIRIN suami Ratu Kalinyamat yang dijadikan sebagai pusat aktivitas penyebaran agama islam dipesisir utara pulau jawa dan merupakan masjid kedua setelah masjid Agung Demak.

 

 Artikel ini dikutip dari buku :

  1. Sejarah Budaya DINAS PARIWISATA & KEBUDAYAAN KABUPATEN JEPARA 2013
  2. Legenda Jepara, Hadi Priyanto 2014

Candi Angin

  • Saturday, 28 January 2017 11:52
  • Written by

Rangkuman dari buku “Legenda Jepara 2014“, Penerbit Hadi Priyanto

Menurut cerita tutur yang diyakini oleh masyarakat setempat, candi angin terletak didukuh petung desa tempurini, dibangun untuk tempat peribadatan umat Hindu yang ada diujung utara pulau jawa, pada zaman ratu shima. Candi ini dibangun jauh sebelum candi Borobudur. Candi ini merupakan tempat untuk menyembah dewa angin yang dalam jagad pewayangan dikenal sebagai dewa bayu.

Penempatan candi angin yang letaknya kurang lebih 1500 meter diatas permukaan laut ini konon diyakini sebagai usaha untuk mendekatkan diri pada dewa yang disembah/Yang Maha Kuasa. Karena letaknya yang tinggi serta tiupan angin kencang setiap saat membuat candi ini hancur/bubrah. Ada yang beranggapan kerusakan candi ini kemungkinan disebabkan oleh gempa bumi. Walaupun tidak ada ornamen Hindu Budha dalam bentuk ukiran batu, candi angin dibangun dengan teratur dan ada pembagian ruang. Ada tempat yang rendah dan tinggi.Artinya ada ruang-ruang /tingkatan tertentu untuk pemujaan para dewa yang disembah. Candi angin adalah candi yang bubrah atau hancur dan tidak pernah dikunjungi oleh orang karena letaknya yang tinggi. Ketika diketemukan beberapa petilasan berupa tiga makam dan juga benda-benda  bersejarah seperti patung kecil yang terbuat dari tanah. Sampai sekarang tidak diketahui siapa yang dimakamkan ditempat itu. Orang sering datang ke candi pada bulan Syuro hingga maulud. Orang yang memohon sesuatu dan doanya terkabulkan, biasanya akan kembali lagi ke candi angin membawa ketupat-lepet sebagai tanda terima kasih dan tanda syukur.

Untuk masuk ke dalam candi orang harus minum air kelapa muda, dan untuk masuk makam atau petilasan yang ada, pengunjung harus membawa minyak telon dan juga kembang telon. Sebelumnya juga diingatkan untuk masuk kedalam komplek candi,ada pantangan yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh kencing dan buang air besar. Setiap perempatan jalan yang dilalui untuk menuju ke candi, perjalanannya sangat melelahkan. Ada pantangan yang tidak boleh diucapkan yaitu mengeluh kelelahan. Apabila ada yang mengeluh kelelahan biasanya ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Masyarakat setempat menganggap candi angin sebagai salah satu peninggalan purbakala dan sekaligus sebagai tempat yang dikeramatkan. Dikomplek candi angin terdapat berupa punden bertingkat. Sedangkan dipadukuhan Duplak yang ada dibawah candi angin, terdapat sumur batu yang bentuknya seperti duplak. Anehnya sumur ini pada musim hujan tidak terendam dan pada musim kemarau tidak kering. Masyarakat setempat meyakini sumur duplak ini ada hubungannya dengan keberadaan candi angin dan sapto argo. Sapto argo terletak disebelah timur candi angin. Ada anggapan masyarakat bahwa ratu shima dahulunya bertapa di candi angin dan kemudian menyempurnakan semedinya di sapto argo. Masyarakat meyakini, kehadiran dan keberadaan candi angin di wilayah dukuh petung desa tempur ini, membawa pengaruh pada kondisi masyarakat tempur. Masyarakat setempat menganggap, di desa ini tidak akan ada orang yang kaya atau terlalu kaya dan juga tidak ada orang yang miskin atau terlalu miskin sehingga tidak bisa makan. Sebab masyarakat dilindungi oleh pandawa lima. Tokoh pewayangan ini yang membuat desa selalu tenteram dan damai. Hal ini sesuai dengan sifat pandawa lima dalam cerita wayang tidak pernah membuat persoalan dan hidup bersama saling tolong menolong.

 

 

 

Catatan kaki :

http://agusmacan.blogspot.com/2009/09/gebyar-kupatan-candi-angin-2009-tempur.html    

 

ANGIN TEMPLE

 

From “LEGENDA JEPARA” book, writer HADI PRIYANTO:

According to the story which is believed by local people, Angin temple located in the Petung hamlet, Tempurini village, built for the Hindus worship existing on the North of Java island, at the era of Queen Shima. This temple built before Borobudur temple. This temple is the place to worship the God of winds, in the puppet known as DewaBayu.

The placement of Angin temple is located approximately 1500 meters above the sea is reputedly believe to be an effort to get closer to God. Because it is high and the wind blowing all the time makes this temple destroyed. People think the damage of this temple caused by an earthquake. Although there are no Hindu Buddhist ornament in the form of stone carvings, Angin temple was built with regularly and division of space. There are high and low places. It means that there are spaces to some worship of the God. Angin temple is a destroyed temple and never visited by people because the place is too high. When found three tombs and historical object such as figurines made of soil. Until now, people do not know who was buried on this place. People often come to the temple in Muharram until Mawlid. People who pray something and his prayer come true, it usually will go back to the Angin temple bring ketupat-lepet(rice cakes boiled in plaited coconut leaves) as a token of thanks and gratitude.

To entrance the temple, the visitors should drink coconut water, and to entrance the tombs or historical sites. Visitors should bring aromatic oil, and bring telonflowers (three flowers for offerings such as roses, jasmine, and ylang-ylang). Before entrance the temple complex, the visitors also reminded that there are the restrictions that must be followed, should not urinating and defecating. Each intersections of the road to go to the temple, the journey is very tiring. There are restrictions that should not be spoken is complaining of fatigue. If anyone complained about fatigue, there are usually something unexpected happens. The local people consider that Angin temple as one of the archeological heritage and also as a sacred place. There is a step pyramid In the Angin Temple complex. While in the Duplak hamlets under Angin temple, a well stone look like duplak(stone with a hole in the middle). Surprisingly, these well is not submerged in the rainy season and does not dry during the dry season. Local people believed that duplakwell has a connection with Angin temple and Sapto Argo. Saptoargo is located on the East of Angin temple. There is a public perception that Queen Shima was meditating in Angin temple, and then perfecting her meditate in Argo sapto. People believes, the presence and the existence of Angin temple in petung hamlet, Tempur village, had an impact on the condition of people of Tempur village. The local people considers, in this village there will be no one who is rich or too rich, and no one who is poor or too poor to be able to eat. It is because five Pandavas protect the societies, the puppet characters that make the village always serene and peaceful. This is appropriate with the five Pandavas in the puppet story that never made problems and help each other to live together.

 

 

 

Museum R.A Kartini

  • Saturday, 28 January 2017 11:51
  • Written by

MUSEUM R.A. KARTINI

Museum RA. Kartini terletak di pusat kota atau tepatnya di sebelah utara alun-alun kota Jepara. Museum RA Kartini termasuk jenis museum umum dan sekaligus sebagai Obyek Wisata Sejarah atau Edukasi yang dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara selaku Dinas Teknis yang ditunjuk oleh Pemerintah Daerah. Museum ini dibuka setiap hari dan sering dikunjungi para wisatawan baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara (wisnus). Museum RA Kartini didirikan pada tanggal 30 Maret 1975 pada masa pemerintahan Bupati Soewarno Djojomardowo, SH, sedangkan peresmiannya dilakukan pada tanggal 21 April 1977 oleh Bupati KDH Tingkat II Jepara, Soedikto, SH.

            R.A. Kartini Museum located in the center of the city at the northern of Jepara town square. The museum has Two functions, both for historical tourism object and also for educational tourism object for public, managed by the Departement Of Tourism And Culture as the technical institution choosen by the local goverment. The museum opens seven days a week and visited by many tourists (domestics and international tourists). R.A. kartini museum was built on march 30th 1975 in the era of Regent Soewarno Djojomardowo, SH. While the official opening was on April 21st 1977 by the 2nd level “KDH” Regent, Soedikto, SH

Tujuan didirikan museum ini adalah untuk mengabadikan jasa-jasa perjuangan RA Kartini dengan cara mendokumentasikan, memamerkan, dan memvisualkan benda-benda bersejarah peninggalan milik kakak kandungnya serta benda warisan budaya lainnya yang banyak ditemukan di daerah Kabupaten Jepara. Gedung museum dibangun di atas areal seluas 5.210 m2 dengan luas bangunan 890 m2 dan terdiri dari tiga buah gedung.Bila dilihat dari atas, maka gedung tersebut berbentuk huruf K, T, N, yang merupakan singkatan dari KARTINI. Untuk tahun 2016 terdapat penambahan sebuah Bagunan Gazebo yang disebut “ Paseban Museum Kartini ”

In purpose to documenting Kartini”s dedications in her struggle in ancient time, the goverment made the documentations, showed and visualized all of Kartini’s and her older brother’s historical heritages that found in Jepara. The museum was built on area with 5.210 m2 in width which the building has 890 m2 in width and has three rooms from the upper view we can see that the rooms formed the three letters, they are K, T, and N which the obbreviation from Kartini. In 2016 there’s an addition, a “Gazebo” which called “Paseban Museum Kartini”

1.      Gedung K

Digunakan sebagai ruang koleksi atau sebagai tempat untuk menyimpan benda – benda peninggalan dari R.A. Kartini, RMP. Sosrokartono, benda – benda bersejarah, dll.

 

The K Building

Used as a Collection room or as the place to keep the heritage stuffs from R.A. Kartini, RMP. Sosrokartono, the historical stuff and etc

 

 

2.      Gedung T

Digunakan Sebagai Ruang Aula dan Kantor pengelola Museum R.A. Kartini

 

The T Building

Used as the hall and as the office of R.A. Kartini Museum’s manager

 

3.      Gedung N

Sementara Waktu digunakan untuk ruang TIC Jepara (Tourism Information Center Jepara), ialah sarana pemberi informasi kepariwisataan Jepara untuk wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara dalam mencari informasi baik mengenai penginapan, tempat wisata, tentang jepara ataupun tentang karimunjawa.

 

The building N

For now (temporary) used as Jepara TIC (Tourism Information Center) office. It is the place for giving the informations to the domestic and also international tourists about accomodations, tourism objects, about Jepara history or in general and about Karimunjawa island.

 

4.      Bangunan Gazebo (Paseban Museum Kartini)

Digunakan sarana atau wadah sebagai tempat pentas seni atau treatikal, tempat meeting Komunitas dan sebagai Transit atau rumah jagong pengunjung museum kartini yang berada di tengah kota.

 

The Gazebo building ( Paseban Museum R.A. kartini)

Used as the place for perfoming arts or the theatricals, meeting place for communities and as the transit place for Jepara tourism visitors

 

Adapun penyajian untuk ruang koleksi museum (Gedung K) dibagi menjadi 3 ruangan sebagai berikut :

The presentation of the collection room (The K Building) divided into 3 rooms, as follows :

 

1.     Ruang 1 (Ruang Kartini) – Room 1 (Kartini’s Room)

Ruang ini berisi koleksi peninggalan RA Kartini berupa benda-benda dan foto-foto miliknya semasa masih hidup antara lain : (Satu) set meja kursi tamu yang masih asli terbuat dari kayu jati dengan ukiran khas motif Jawa kuno; Lukisan wajah beliau pada saat melangsungkan pernikahannya dengan Bupati Rembang, Raden Mas Adipati Djoyodiningrat pada tanggal 12 Nopember 1903; Foto contoh tulisan dalam bahasa Belanda yang ditujukan kepada sahabatnya di negeri Holland; Foto putera satu-satunya yaitu Raden Mas Singgih yang waktu kecilnya bernama Soesalit (Jawa : susah wiwit alit atau dalam bahasa Indonesia susah sejak kecil), Foto ayahandanya, RMAA. Sosroningrat yang pernah menjabat sebagai Bupati Jepara yang waktu itu pusat pemerintahannya berada di Pendopo Kabupaten, Foto ibu kandungnya, MA. Ngasirah yang berasal dari desa Telukawur Jepara, Meja belajar, Piring dan mangkok, Hasil keterampilan tangan muridnya berupa renda, Alat untuk membatik berupa canting milik RA Kartini, Silsilah RA Kartini, Serambi belakang pendopo Kabupaten, Botekan: sebuah tempat untuk menyimpan jamu sebagai persiapan pada saat RA Kartini akan dilahirkan, Mesin jahit kepunyaan muridnya yang sampai sekarang masih dapat dioperasikan.

Contains R.A. Kartini’s heritage collections, they are some stuffs and some of Kartini's pictures, those are : (one) original set of the living room teak wooden chairs and tables with the typical carving of ancient Javanese motives, Kartini’s face painting when she got married to the Rembang regent, Raden Mas Adipati Djoyodiningrat on November 12th 1903; the sample of Kartini’s hand write in dutch refered to her friend in Netherlands, the picture of Kartini’s only one son, Raden Mas Singgih. Who had the chilhood name as Soesalit (in Javanese means : “ Susah Wiwit Alit” or Someone who had the hard time since he’s been born), Kartini's father picture, RMAA. Sosroningrat who ever ruled as a regent of Jepara when Jepara front verandah as the center of the goverment, Kartini’s mother real picture, MA. Ngasirah Who came originally from Teluk Awur village, Jepara, the desk, plates (dishes) and bowls, the laced handicrafts from Kartini’s students, kartini’s “canting” as the tool to drew “batik”, Kartini’s family tree, the back porch of Jepara front verandah (picture), “Bothekan” a place to put the herbs as the preparation when the time before Kartini’s mother gave birth to her, the sewing mechine that belongs to Kartini’s student and still in good condition until to day.

 

Di ruang ini kita akan menjumpai benda-benda peninggalan maupun foto- foto dari kakak kandungnya, Drs. RMP. Sosrokartono. Tokoh yang turut berjuang dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia sekaligus sebagai motivator dan pendorong bagi cita-cita mulia RA Kartini, menguasai 26 jenis bahasa dan pandai dalam bidang pengobatan dengan menggunakan “Air Putih” sebagai media perantara. Beliau terkenal dengan sebutan “Joko Pring” atau “Mandor Klungsu” dan orang-orang sering memanggil beliau dengan julukan “Ndoro Sosro”.Selain itu beliau terkenal lewat ilmunya “Catur Murti” yaitu perpaduan antara ucapan, perasaan, pikiran, dan perbuatan. Menurut ajaran ilmu tersebut bilamana orang menguasai dan mampu memadukan keempat unsure di atas niscaya orang itu akan menjadi manusia yang sejati (Jawa : Mumpuni). Beberapa benda peninggalan dan foto-foto yang ada di ruangan ini antara lain: Kursi-kursi untuk antri para pasien yang kondisinya masih asli; kursi sofa untuk istirahat; tempat pengobatan sekaligus tempat pembaringan terakhir pada saat beliau wafat; foto gambar gunung Lawu dan Merapi yang diambil tidak melalui pesawat terbang maupun satelit, namun dari suatu tempat tertentu dengan kekuatan ilmu yang dimilikinya; ruang semedi; meja marmer asli; gambar huruf Alif yang terpasang pada bingkai sebagai tanda untuk mengetahui berhasil atau tidaknya dalam mengobati pasien; dll.

 

In this room we can see the heritages of Kartini’s older brother, DRS. RMP. Sosrokartono.The great figure who fight for Indonesia’s independence and also as Kartini’s motivator and her spirit booster in achieved her goals, he spoke in 26 languaages and he anbility to cured diseases by used fresh water only as the media. He’s well known as“Joko Pring” or “Mandor Klungsu”. Beside that, people also called him with “Ndoro Sosro”. He’s also well known with his guidance science”Catur Murti”, which means the combinations of words (Speak), heart, mind and deed. According to “Catur Murti” someone will be a true human if he succeed to combines those four things. It’s believed that he will be areally true person, then (in javanese : Mumpuni) some of his heritages in the museum areas the original chairs used by his patients to lined, the sofa for relax, the treatment altar which also be the last place for him in his last breath ; mount Lawu and mount Merapi’s picture,the picture that taken through his magic / supranatural journey with his magic skills, the meditation room, the original ceramic (marmer) table, “Alif” letter drawing in the frame used as his media to found out if he succeed to cured his patients ; etc

 

2.      Ruang 2 (Ruang Jepara Kuno) – Room 2 ( The Ancient Jepara Room)

Benda-benda yang ada di ruangan ini meliputi benda-benda purbakala periode abad VII yaitu peninggalan Ratu Shima. Ratu Shima adalah penguasa kerajaan Kalingga di daerah Keling Kabupaten Jepara dan benda-benda kuno bernilai sejarah yang ditemukan di wilayah Jepara, antara lain : Foto beberapa barang kerajaan yang terbuat dari emas dan platina, patung arca trimurti dan siwa mahaguru, yoni dan lingga, kepingan mata uang gopeng yang terbuat dari logam, potongan ornament batu berukir yang sekarang ini masih dapat dilihat pada dinding masjid Mantingan Jepara, Seperangkat gamelan kuno, bak mandi dan guci untuk menyimpan air yang terbuat dari tanah liat, beberapa barang keramik yang ditemukan di sekitar perairan Jepara dan perairan Karimunjawa, dll.

 

The things here are the prehistoric heritages found in Jepara from the 4th century, heritages of queen Shima. Queen Shima was the leader of Kalingga kingdom in Jepara. The prehistoric heritages found in Jepara, as follows : Some pictures of the kingdom’s heritages made from gold and platinum, trimurti statue, and the grand master’s follower (student), “lingga” and “yoni”, the coin strips, the piece of stone with carving ornaments which people can see the examples now on the Mantingan Great Mosque’s walls, a set of ancient Javanese music instruments,the bathub, and the clay ewer as the water container at the ancients time, ceramics that found around / in Jepara water areas and Karimunjawa island, etc.

 

Di ruang ini juga dapat kita lihat kerangka ikan raksasa “Joko Tuo” yang memiliki panjang 16 meter, lebar 4 meter dan tinggi 2 meter dengan berat 6 ton. Ikan tersebut ditemukan tahun 1989 di Pulau Karimunjawa dalam keadaan mati namun masih ada dagingnya. Menurut pakar sejarah /arkeologis bahwa ikan ini sebangsa ikan gajah, karena pada bagian kepalanya terdapat semacam gading seperti yang dimiliki hewan gajah serta ada bahasa latin dan spesies khusus untuk hewan tersebut. Namun kebanyakan para pengunjung menyebut ikan itu dengan nama ikan Paus.

 

In this room there’s also a giant fossil of  “ Joko Tuo’s “ Fish, which has 16 meters in length, 4 meters in width and 2 meters in height with 6 tons in weight. The fish found dead in Karimunjawa in 1989 with some flesh on it. According to the archeologist, it is said that the fish was the kind of elephant fish, because it had kind of ivories on its head like elephants have. There’s also a name for this kind of fish in latin language, it also has particular species for this fish. But most of the visitors called it as a whale.

 

3.      Ruang 3 (Ruang Kerajinan) – Room 3 (the craft room)


Di ruangan ini diperlihatkan tentang beberapa contoh barang hasil kerajinan dari Jepara yang terkenal yaitu : Patung dan ukir dari desa Mulyoharjo, souvenir kayu dari kawasan Pasar Tahunan, tenun ikat tradisional dari desa Troso, monel (logam baja putih) yang tidak berkarat atau stenlis steel dari desa Kriyan, rotan dan anyaman bambu dari Welahan, gerabah dan tanah liat yang berasal dari desa Mayong.

 

This room shows the visitors some examples of the well known crafts in Jepara, as follows : Mulyoharjo carving and statue, wooden souvenir from Tahunan district, the traditional bundle woven from Troso village, “monel” (white steel) with anti – rust quality, or stainless steel from kriyan village, rattan and the webbling bamboo from Welahan district, pottery and clay craft from Mayong district.


Jam Operasional (Setiap Hari Buka): 08.00 – 16.00 WIB

Kontak Person Manajer : 085225841999 (Subiyanto)

 Opens everyday from 8.00 a.m. to 4 p.m.

the Manager : Mr Subiyanto (phone: 085225841999)

Benteng Portugis

  • Saturday, 28 January 2017 11:50
  • Written by

 

Benteng Portugis di Jepara merupakan salah satu Benda Cagar Budaya, Kawasan ini mempunyai nilai sejarah yang penting bagi perkembangan Kabupaten Jepara dan potensi alam yang menarik, sehingga kawasan disini perlu dilestarikan dan ditata dalam perencanaan untuk dikemas dan dipresentasikan sebagai sarana pariwisata yang mempunyai nilai edukatif dan rekreatif. Kawasan Benteng Portugis secara administrasi, berada pada wilayah Desa Banyumanis Kecamatan Donorojo. Lebih jelasnya disajikan pada peta berikut ini.

Kawasan Wisata Benteng Portugis sebagai salah satu situs arkeologis di Jepara memiliki banyak potensi yang sangat bermanfaat bagi seluruh warga masyarakat yang perlu dikembangkan menjadi Kawasan Wisata Sejarahyang mempunyai nilai edukatif  dan rekreatif  agar dapat meningkatkan ekonomi lokal kawasan sekaligus dan meningkatkan jati diri Kabupaten Jepara. Hal ini tentunya dapat diintegrasikan dengan prioritas program di sektor transportasi, kelautan, kebersihan dan pertamanan, kependudukan serta penataan bangunan dan lingkungan guna mendukung sektor pariwisata dan budaya di Kawasan Wisata Benteng Portugis.

Benteng Portugis di Jepara merupakan salah satu Benda Cagar Budaya yang sudah tercatat di BP3 (Badan Penyelamatan dan Pelestarian Benda cagar Budaya). Kawasan ini mempunyai nilai sejarah yang penting bagi perkembangan Kabupaten Jepara dan potensi alam yang menarik, sehingga kawasan disini perlu dilestarikan dan ditata dalam perencanaan untuk dikemas dan dipresentasikan sebagai sarana pariwisata yang mempunyai nilai edukatif dan rekreatif.

 

PESONA WISATA ALAM

Selain Benteng Portugis sebagai Destinasi wisata sejarah dan budaya, juga memiliki potensi keindahan alam yang besar dan terlengkap di Kabupaten Jepara. Potensi alam yang mendukung Destinasi wisata Benteng Portugis antara lain wisatawan dapat melihat pemandangan bukit , gunung cagar alam Clering , laut , dan pantai ,serta hamparan batuan sedimen yang jarang dijumpai di pantai lain dan merupakan ICON Destinasi wisata Benteng Portugis serta dapat melihat keindahan Pulau Mondoliko yang letaknya tepat berada di utara Benteng Portugis.

Dengan didukung oleh sumber daya alam yang besar pemandangan di sekitar Destinasi Wisata Benteng Portugis sangat menarik dan menakjubkan. Keindahan alam tersebut dapat kita jadikan sebagai slogan wisata “ BACK TO NATURE “ . Keindahan alam yang mendukung ini , sangat disukai wisatawan mancanegara yang setiap tahunnya mengalami peningkatan arus kunjungan ke Destinasi wisata Benteng Portugis.

PESONA WISATA SEJARAH

Benteng ini dibangun pada tahun 1632 oleh Kerajaan Mataram pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyockrokusumo yang bekerjasama dengan Bangsa Portugis yang pada saat itu berseteru dengan VOC Belanda .Benteng ini strategis untuk kepentingan militer zaman dahulu dengan menempatkan beberapa meriam dengan kemampuan jarak tembak 3 Km.Fungsi dari keberadaan Benteng ini sebagai markas tentara Portugis dan untuk menghalau kapal –kapal niaga VOC yang melintas bahkan yang ingin mendarat di pantai utara Jawa.Kenyataannya Malaka yang sebagai kota utama Portugis dapat direbut VOC pada tahun 1641 , dan tahun 1642 Bangsa Portugis angkat kaki dari Benteng ini.

Di Benteng Portugis ini terdapat 2 ( dua ) buah gua , yaitu gua vertical letaknya di atas Benteng disebelah sudut kanan Benteng dan gua lainnya berada di pinggir pantai sebelah barat yang menghubungkan Benteng Portugis dengan gua tritip berjarak 2 Km dari Benteng Portugis dan Gua Lawa batu gedek yang berada di pegunungan depan Benteng Portugis.Disebelah barat Benteng terdapat Benteng Pengintai berukuran 2,5 x 4 meter yang berfungsi sebagai tempat pengintaian musuh dan penempatan senapan laras panjang tentara Portugis di lubang – lubang kecil yang berjejer di Benteng Pengintai tersebut.

 

PESONA WISATA RELIGI

Makam Mbah Leseh. Mbah Leseh adalah  keturunan Mataram Islam dan merupakan abdi dalem atau Nayoko Projo Kanjeng Ratu Kalinyamat ( Retno Kencono ; Nama asli ). Saat itu beliau kelelahan dipantai untuk mencarikan tempat bertapa atau semedi Kanjeng Ratu Kalinyamat , yang terkenal dengan tapa Sindang Rekma ( bertapa dengan rambut terurai dan lamanya bertapa seakan –akan tidak mengenakan pakaian yang kelihatan badannya tertutup oleh rambutnya ) . Untuk mencari tempat pertapaan dibagi beberapa kelompok diantaranya , kelompok mbah Leseh dan kelompok Syayyid Utsman dan kelompok Mbah Suto Mangun Joyo Diceritakan karena kehausan dalam mencari tempat bertapa buat Kanjeng Ratu Kalinyamat sampai di pantai , melihat orang yang sedang mengambil bisik ditepi pantai , mintalah minum .Setelah diambilkan minum tiba – tiba beliau tidak ada atau hilang entah kemana ( bahasa Jawa : Lentang Sukmo ).  Makam yang sekarang ada ini diyakini masyarakat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Jika peziarah mandi di sekitar makam tersebut pada hari sabtu pahing, atas ijin dan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa ,penyakitnya akan sembuh .Ketokohan dari Mbah Leseh tersebut diwarisi dan digambarkan pada perayaan sedekah bumi JEMBUL Desa Tulakan sebagai tokoh yang menguasai Dukuh Drojo dan Pejing.

Makam Mbah Syayyid Utsman di pantai sebelah selatan Pulau Mondoliko yang berpasir putih.Awal cerita Mbah Syayid Utsman adalah salah satu nayoko projo dari Kanjeng Ratu Kalinyamat yang mempunyai kelebihan berdakwah atau menyebarkan ajaran agama islam. Dan Mbah syayid Utsman merupakan tokoh masyarakat yang pernah menyebarkan ajaran agama islam di daerah pekalongan , Pemalang dan batang .Sehingga banyak penziarah yang datang berziarah berasal dari kota tersebut.Serta Mbah Syayid Utsman tersebut menetap tinggal di Desa Toelakan ( sekarang ; Tulakan ) menjadi seorang ulama besar di desa Tulakan tersebut. Ketokohan Mbah Syayyid Utsman digambarkan pada Jembul Tulakan Krajan pada pesta sedekah bumi Desa Tulakan

 

PESONA WISATA MINAT KHUSUS

Wisata minat khusus pada Destinasi wisata Benteng Portugis adalah mancing , Tracking , Out Bond , Camping , Hiking dan wisata meditasi.Bagi yang gemar atau memiliki hobby mancing dapat menyalurkan hobby tersebut dengan mincing di atas batuan sedimen atau karang yang berada di tepi pantai  Benteng Portugis.Tangkapan ikan yang dihasilkan seperti ; kakap merah , bawal , kerapu , Patikoli , dsb.

 

Bagi anda yang gemar tracking atau hiking dapat menelusuri bukit benteng portugis yang terdapat bebatuan besar serta pepohonan yang rindang , juga kemiringan tebing bukit yang membuat andrenalin anda gemetar saat menuruni tebing tersebut.Selain itu bagi yang gemar kegiatan out bond dan camping dapat menggunakan area terbuka hijau untuk kegiatan tersebut.

Sedangkan fasilitas yang dapat digunakan dalam kegiatan Camping antara lain ; mushola , toilet / WC , panggung gembira , lampu penerangan dan lain sebagainya. Selain fasiitas tersebut para peserta Camping mendapatkan pelayanan keamanan dan ketertiban selama 24 jam.

Jadi untuk kegiatan Camping tersebut , dikondisikan dalam keadaan aman , nyaman , tertib , dan keramahan dari petugas Destinasi wisata Benteng Portugis.

Selain itu di Destinasi wisata Benteng Portugis dilengkapi aneka mainan anak – anak dan fasiltas pendukung lainnya diantaranya Paviliun Kampoeng Portugis , area parkir dan beberapa gazebo atau gardu pandang.

Penginapan di Area "Benteng Portugis" :

PONDOK PARIWISATA BENTENG PORTUGIS

 Apa itu Pondok Pariwisata ?

ialah beberapa penginapan yang dikelola oleh " Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara ", yang diperuntukan bagi wisatawan. Pondok pariwisata untuk sekarang ini tahun 2016 baru ada  2 yaitu Pondok Pariwisata Benteng Portugis dan Pondok Pariwisata Karimunjawa. Keduanya berada di tengah - tengah kawasan atau area Pariwisata. Hal ini tentunya menguntungkan khusunya bagi wisatawan yang akan menginap di sini. Selain itu, untuk harga menginap tidaklah sama dengan penginapan umum lainnya. dikarnakan pengelolaan oleh pemda daerah jadi biaya yang dikenakan untuk menginap per-malam hampir sama dengan tarif penginapan kelas melati tetapi fasilitas yang diberikan kelas VIP. Berikut mengenai Pondok Wisata Benteng Portugis :

Pondok Pariwisata Benetng Portugis terletak di dalam area wisata Benteng Portugis tepatnya di tepi pantai barat Benteng Portugis yang dari pantai hanya berjarak kurang lebih 10 meter.

Di teras pavilliun dapat melihat pantai , laut , dan gunung serta dapat melihat lalu lalang para wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata Benteng Portugis.

Bangunan Pavilliun arsitekturnya bergaya klasik dipadu dengan gaya minimalis.

FASILITAS

  • Luas kamar 4 x 7 meter
  • Air Conditioner
  • TV Parabola 50 Chanel
  • Kamar Mandi dalam Shower
  • Garasi Mobil 3 x 4 meter
  • Free Soft drink / Air mineral

HARGA KAMAR  Rp 200.000 (without breakfast)

Harga tersebut sudah termasuk pelayanan dan pajak.Bagi anak berusia dibawah 5 tahun tidak dikenakan biaya tambahan.

Fasilitas lainnya yang ada di dalam kamar :

  • Almari pakaian
  • Meja rias
  • Sofa
  • Kipas Angin

Pelayanan dan fasilitas lainnya :

  • Room Service 24 Jam
  • Massage
  • Souvenir Shop
  • Drug Store

 

 

 

 

Sedangkan untuk Kuliner !!!

MENU KHAS BENTENG PORTUGIS

  • Pindang Srani ( Patikoli ,Tuna , Gerik , Kuro dan Tengiri )
  • Ikan Bakar ( Patikoli , Tuna , Kakap , Kuro dan Tengiri )
  • Udang soas tiram
  • Udang : Dogol,  SB Alberbeque, Rebus saos tomat.
  • Sate ikan Hiu
  • Cumi :  De Squire, saos tiram, tinta hitam
  • Mangut
  • Lontong Pecel
  • Es Klamut
  • Es Cleopatra

Kontak Person Manajer / Pengelola : 

Iwan Nugroho : 4277146/081326468467 / 081390964946

 

BENTENG PORTUGIS

Benteng portugis is one of cultural heritage object located in Jepara. This place has historical value which important for the development of interesting nature and for Jepara regency itself. Benteng Portugis needs to preserved and managed in well plan, so this place can be packed and presented as tourism tool, which has educative and recreational value. According to administration, Benteng Portugis located in Banyumanis village Donorejo sub district. For more information, look at the map below.

As one of the archeological site in Jepara, Benteng portugis area has many benefit potentials for the society. This tourism object needs to develop as the Historical Tourism Object which has educative and recreative value to increase local economy also identity of Jepara regency itself. Surely, it can be integrated with program priority in several sectors such as transportation, marine, sanitation and landscaping, demography and site plan to support tourism and culture object in Benteng portugis tourism object.

Benteng Portugis Jepara is one of cultural heritage object that has been listed in BP3 (the rescue and preservation of cultural heritage). This area has important historical value for the development of Jepara regency and interesting nature. This area needs to preserved and managed in well plan, so this place can be packed and presented as tourism tool, which has educative and recreational value.

THE WONDERFUL OF NATURE

Beside as historical and cultural tourism destination, Benteng portugis also has big natural beauty and the most complete destination in Jepara regency. The natural potential which support Benteng Portugis Tourism Destination such as tourists can see the beautiful view of the hill, Gunung Clering National Park, sea and beach. The tourist can also see spread out of the sedimentary rocks that rarely seen in another beach. This area is the ICON of Benteng Portugis Tourism Object. In addition, tourists can enjoy the beautiful view of Mondoliko Island which is located in the north of Benteng Portugis.

Support with huge natural resources, the surrounded view of Benteng Portugis Tourism Destination is very fascinating and fabulous. The tourists of Benteng Portugis very interest with the beautiful natural tourism so the visitors increase year by year.

THE WONDERFUL OF HISTORICAL TOURISM

Benteng Portugis was built in 1632 by Mataram Kingdom during Sultan Agung Hanyockrokusumo period who collaborate with Portuguese. At that time, Portuguese was hostile with Dutch East India Company (VOC). This fort is strategic for military with placing some gun with gunshot around 3 KM. The function of this fort as Portuguese army port and drive away the East India Company’s (VOC) commercial ship that across even drop their ship in northern coast of Java.  Reality, Malaka as the main Portuguese city taken by VOC in 1641, and Portuguese left the fort in 1642.

In this Benteng Portugis there are two caves, they are vertical cave located on top of the fort in the right corner and the other cave located in the west of seaside that connect Benteng Portugis with Tritip cave about 2 KM from Benteng Portugis and Lawa Batu Gedek cave. Thus objects located in Benteng Portugis Mountain. In the west of the fort there is 2,5 x 4 meters spotter fort as the spot enemy reconnaissance. The other function of the spotter fort is to place Portuguese army’s rifles on the small holes in a row the spotter fort.

THE WONDERFUL OF RELIGION TOURISM

Mbah Leseh’s Tomb. Mbah Leseh is a descent of Mataram Islam and a courtiers or Nayoko Projo Kanjeng Ratu Kalinyamat ( Retno Kencono ; surname ). At that time, He felt tired of finding a place in the beach to meditate which called Kanjeng Ratu Kalinyamat Meditation. The meditation is also well-known as sindang rekma meditation. Sindang rekma meditation means doing a meditation with the hair fall down. The hair covers all of the body and it makes him look like he doesn’t wear any clothes. To find a place to meditate, people are divided into three, they are Mbah Leseh group, Syayyid Utsman group and Mbah Suto Mangun Joyo group. It was told that because of the thirst in finding a place to meditate, they asked for a drink to a person they met in the seashore. After someone gave them a drink suddenly the person gone (Javanese: Lentang Sukmo).

People believe that this tomb can heal many diseases by taking a bath in the water near the tomb on sabtu pahing (a day in Javanese calendar). With God permission many diseases can be healed. To give a tribute to mbah leseh there is a Sedekah Bumi-a post-harvest thanksgiving ceremony called JEMBUL at Tulakan village. Tulakan village s

While Mbah Sayyid Ustman’s tomb is in the south of Mondoliko Island-an island with a white sand. At the beginning, Mbah Sayyid Ustman is one of Kanjeng Ratu Kalinyamat’s courtiers. He was the one who great on dawah. Mbah Sayyid Ustman is a person who spread Islam in Pekalongan, Pemalang and Batang. So, people who pilgrim in the tomb mostly come from those regions. Mbah Sayyid Ustman lived in Toelakan village (Now: Tulakan) became an ulema in Tulakan village. To give a tribute to Mbah Sayyid Ustman, there is a Sedekah bumi-a post-harvest thanksgiving ceremony at Jembul Tulakan Krajan in Tulakan village.

THE WONDERFUL OF SPECIAL INTEREST

Special interests Tourism in Benteng Portugis Tourism Destination are fishing, tracking, out bond, camping, hiking and meditation tourism. For people who interested in fishing activity, they can do their hobby on the sedimentary rocks or in the edge of coral Benteng Portugis. The catching fish are, red snapper, pomfret, grouper, patikoli (kind of local fish in Jepara and it is smoked), etc.

For people who interested in tracking and hiking, they can trace Benteng Portugis hill that there are some huge rocks and shady trees. Climbing the slope of the hill make tourists adrenalin rising when they go down of the cliff. Besides, for people who interested in out bond and camping activity can use the outdoor area for thus activities.

The facilities that can use for camping activity such as, mosque, restroom, theatre, illuminator, etc. The other facilities is camping participants get excellent service and safety 24 hours nonstop. So, any camp activity would be guaranteed safe, comfortable, disciplinary, and the friendliness from the officers of Benteng Portugis Tourism Destinantion.

In addition, Benteng Portugis Tourist Destination equipped with various toys and the other facilities like Paviliun Kampoeng Portugis, parking area and some gazebos.

 

 

PAVILIUN KAMPOENG PORTUGIS

Pavilliun Kampoeng Portugis located on the west coast seashore of Benteng Portugis around 10 meters from seashore.

From pavilion terrace, tourists can see the beautiful beach, sea, and mountain. The tourists also can see the activities of the other Benteng Portugis’s visitors.

FACILITIES

·         The room is 4 x 7 meters

·         Air Conditioning

  • Satellite TV with 50 Channels

·         Bathroom, shower

·         3 x 4 meters garage

·         Free soft drink/mineral water

PRICE IDR 200,000 (without breakfast)

The price is include service and tax. There is no additional fee for children under five years.

Bedroom Facilities:

·         Wardrobe

·         Dressing Table

·         Fabric Sofa

·         Fan

Other Services and Facilities:

  •  24 hours Room Service
  • Massage
  • Souvenir Shop
  • Drug Store
  •  

 Benteng Portugis Cuisine:

·         Pindang Srani (patikoli, Tuna, gerik, kuro, tenggiri)

·         Roasted Fish  ( Patikoli , Tuna , snapper , Kuro dan Tengiri )

·         Shrimp with oyster sauce

·         Shrimp: Dogol, SB Alberbeque, tomato sauce

·         Mangut

·         Shark satay

·         Squid: De Squire, oyster sauce, tinta hitam (squid ink)

·         Mangut

·         Lontong Pecel

·         Coconut Ice

 

·         Cleopatra Ice

Gong Perdamaian Dunia

  • Saturday, 28 January 2017 11:50
  • Written by

Lokasi: Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji Jepara

Replika Gong Perdamaian Dunia atau World Peace Gong dibuat pada akhir tahun 2002 yaitu pasca” Bom Bali-1” oleh Djuyoto Suntani (Presiden Komite Perdamaian Dunia) bersama Gde Sumarjaya Linggih (anggota DPR-RI), dan beberapa tokoh nasional lain seperti Esy Darmadi, Lius Sungkharisma. Berkat dukungan bapak Susilo Bambang Yudhoyono (Menkopolkan RI waktu itu), gong ini akhirnya ditabuh untuk pertama kalinya Presiden dan Wakil Presiden RI di Bali pada tanggal 31 Desember 2002, tepat pukul 00.00 WITA dihadapan seluruh took bangsa untuk mencanangkan “Tahun 2003 sebagai tahun perdamaian Indonesia”.

Gong Perdamaian Dunia dibunyikan untuk yang kedua kalinya oleh Sekjen PBB di Geneva (Eropa) pada 5 Februari 2003 untuk membuka acara “Second Global Summit on World Peace” yang diikuti oleh para tokoh dunia dari 179 negara.

Selanjutnya, Gong perdamaian Dunia kembali dibunyikan untuk yang ketiga kalinya oleh Presiden RI pada tanggal 14 April 2003 untuk membuka acara “PATA Conference”yang ke -52 di Bali. Lalu Gong besar ini kembali dibunyikan untuk yang keempat kalinya oleh Presiden RI dikota Magelang (Jawa Tengah) pada tanggal 14 Juni 2003 untuk membuka acara “Borobudur Internasional Festival”. Selanjutnya, gong ini dibawa berkeliling dunia guna menggemakan pesan mulia tentang pentingnya perdamaian bagi seluruh umat manusia dimuka Bumi.

Gong Perdamaian Dunia adalah satu-satunya sarana persaudaraan dan pemersatu umat manusia diplanet ini. Dengan adanya Gong Perdamaian Dunia, diharapkan seluruh umat manusia dapat disatukan tanpa mengenal perbedaan ras, suku, bangsa, idiologi, ataupun sekat-sekat pemisah lainya , juga, umat manusia diharapkan hanya mengenal satu kesatuan yang utuh dengan mengatas namakan satu keluarga yang tidak lain yaitu”kelurga bumi”

Gong Perdamaian Dunia memiliki banyak symbol yang memiliki makna tersendiri yang dapat mengontrol atau mengakomodir aspirasi dan kepentingan umat manusia. Pada lingkaran tengahnya terdapat tulisan “ World Peace Gong “, gambar bunga, serta tulisan dalam bahasa Indonesia ‘Gong Perdamaian Dunia’

Tulisan dan bunga merupakan peneguhan identitas jati diri Gong Perdamaian. Bahasa inggris ditampilkan karena merupakan bahasa komunikasi internasional.

Sedangkan bahasa Indonesia dimunculkan untuk menegaskan bahwa sarana agung ini berhasil dari Indonesia. Sementara gambar bunga digunakan karena bunga digunakan karena bunga merupakan lambang keindahan, kebahagian serta perdamaian.

 

BERASAL DARI GUNUNG MURIA –INDONESIA

Gong Perdamain Dunia paling awal berasal dari Desa Plajan Kecamtan Pakis Aji Kabupaten Jepara , Jawa Tengah. Gong sakral ini telah berusia 450 tahun dan dijaga oleh ibu Musrini sebagai pewaris milik gong generasi ketujuh, yang bertempat tinggal Desa Plajan dilereng Barat Gunung Muria. Gong ini dibuat oleh seorang wali yang berasal dari kerajaan Demak dan digunakan sebagai sarana dakwah dalam mengajarkan agama islam ke daerah pegunungan yang pada waktu itu msyarakatnya masih menganut kepercayaan animisme,

Tokoh dunia peraih”Nobel perdamaian” yang berkali-kali menjadi perdana Menteri Israel, Shimon Parez, menyambut Gunung Muria di Jawa Tengah (Indonesia) memiliki kekuatan aura magis luar biasa. Yesser Arafat (Presiden Palestina ). Juga peraih” Nobel Perdamaian ,” mengatakan Gunung Muria merupakan gunung pilihan Allah untuk dijadikan gunung perdamaian. Kedua tokoh peraih nobel asal Timur Tengah itu berpendapat bahwa Gunung Muria yang ada di Yerusalem (Palestina) karena memiliki struktur ukuran tinggi dan besar yang sama.

Namun Muria (Moria) berasal dari bahasa ibrani (Ibrahim), bearti “Pilihan Allah”. Gunung Muriah (Palestina)juga dianggap sebagai tempat yang sacral, mulai dari Zaman Nabi Ibrahim , Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi Sulaiman(Solomon). Nabi Isa, hingga Nabi Muhammad.

Replika Gong Perdamaian Dunia di desa Plajan terdiri dari:

  1. Gong Perdamaian Nusantara. Gong ini terpasang di 5 kota Indonesia:
  • Taman Pintar Yogyakarta
  • NTT
  • Singkawang, Kalimantan Barat
  • Palu, Sulawesi Tengah
  • Istana Negara, Jakarta
  1. Gedung Perdamaian Dunia

Gong ini dipasang di 202 Negara.

  1. Gong Perdamaian Asia Afrika

Gong ini terpasang di:

  • Museum Asia Afrika Bandung
  • Kantor Kepresidenan Afrika Selatan

HTM

  • Dewasa  : Rp 4.000
  • Anak      : Rp 2.000

(Pelajar disediakan harga paket)

 


WORLD PEACE GONG

Location: Plajan village Pakis Aji Jepara sub-district.

Gong is a traditional musical instrument. The replica of Gong Perdamaian Dunia or World Peace Gong was made in the end of 2002, when thefirst bombing happened in Bali. The Gong was made by Djuyoto Suntani (President the World Peace Committee) with Gde Sumarjaya Linggih (House of Representatives of the Republic of Indonesia), and some of national figures such as Esy Darmadi, Lius Sungkharisma. Because of the support from Susilo Bambang Yudhoyono (Coordinating Minister for Political, Legal, and Security Republic of Indonesia at that time), finally the gong had been played for the first time on 31th December 2002, at 00.00 Indonesia Central Standard Time (ICST). It was declared that “2003 is Indonesia year of peace”.

World Peace Gong had been played for the second time by Secretary General of the United Nations in Geneva (Europe) on 5th February 2003 to start the event of “Second Global Summit on World Peace”, which was followed by world figures from  179 countries.

Then, World Peace Gong had been played again for the third time by President of Republic Indonesia on 14th April 2003 to start the 52th event of “PATA Conference” in Bali. The Big Gong played for the fourth time by President of Republic Indonesia in Magelang city (Central Java) on 14th June 2003 to start the event of “Borobudur International Festival”. The Gong was brought around the world to spread the precious message about the importance of peace for all of humans on Earth.

World Peace Gong is the only facilitating brotherhood and humankind unification in planet earth. People are expected to realize the philosophy of mankind all over the world as “One Family of Earth.”

World Peace Gong has many symbols, with special meaning to control or accommodate aspiration and human needs. In the middle of the circle there is an inscription “World Peace Gong”, image of flower and Indonesian inscription “Gong Perdamaian Dunia”.

The inscription and the image of flower are the identity of World Peace Gong. The English is written in the gong as an International language. While Indonesian is written to explain that the great media came from Indonesia. The image of the flower is used to explain the beauty, happiness and peace symbol.

 Coming from Mount Muria - Indonesia

World Peace Gong came from Plajan village Pakis Aji Jepara sub-districts Jepara Regency, Central Java.  This 450 year-old-gong is kept by Mrs. Musrini as the heir of the gong from the seventh generation. She lived in Plajan village in the west slope of Mount Muria. The gong was made by Wali who came from Demak kingdom. It was used for da’wah (the preaching of Islam) in the mountains, where the local people still believed in animism.

World figure who reached “The Nobel Peace” is Shimon Parez. He also became Prime Minister of Israel for several times. He told that Mount Muria in Central Java (Indonesia) has an incredible magical power. Yesser Arafat (President of Palestine) also reached “The Nobel Peace”. He told that Mount Muria was a chosen Mount from God as a Mount of Peace. Both of the figures who reached “The Nobel Peace” who came from Middle East thought that Mount Muria in Jerusalem had a similarity with Mount Muria in Central Java, because it has the same height and large structure.

However, Muria (Moria) is a term in Hebrew (Ibrahim), which means “Chosen by God”. Mount Muriah (Palestine) is also considered as a sacred place, since by Prophet Ibrahim, Prophet Musa, Prophet Daud, Prophet Sulaiman (Solomon), Prophet Isa and Prophet Muhammad.

The replica of World Peace Gong in Plajan village consists of:

1. Archipelago Peace Gong. The Gong was placed in 5 cities in Indonesia:

  • Taman Pintar, Yogyakarta
  • East NusaTenggara (NTT)
  • Singkawang,West Kalimantan
  • Palu, Central Sulawesi
  • Istana Negara (Presidential Palaces), Jakarta

2. The Building of World Peace

The gong was placed in 202 countries in the world.

3. Asian-Africa Peace Gong

The Gong was placed in:

·        Asian Africa Museum in Bandung

  • Office of the President of South Africa

Entrance Fee:

·        Adult                : IDR 4,000

·        Children           : IDR 2,000

(Special package for student)

 

 

 

 

 

Benteng VOC - Fort Japara

  • Saturday, 28 January 2017 11:49
  • Written by
 
 
letak  : di sebuah bukit sekitar 0,5 km arah utara alun-alun Jepara dengan ketinggian 85 meter dari permukaan laut (mdpl)
---------------------------------------------------------------------------------------------------

Akses Menuju Obyek Wisata : Dapat dilalui Kendaraan Roda 2, Roda 4 dan Bus.

Kondisi Jalan: Beraspal

-----------------------------------------------------------------------------------------------------

OVERVIEW

Benteng VOC lebih dikenal oleh masyarakat Jepara sebagai Lodji Gunung diperkirakan dibangun pada abad XVII Masehi oleh Belanda yang mengatasnamakan kepentingan penguasa Jepara pada masa itu.

Benteng ini, terletak di sebelah timur terdapat kompleks makam kuno yang berisi makam orang-orang Cina dan Belanda. Terdapat pula "Taman Buah Fort Japara" dan "Taman Makam Pahlawan Giri Dharma". Gerbang masuk lokasi benteng dibuat cukup megah, bertuliskan "Fort Japara XVI", di dalamnya dibentuk taman dari tanaman hias dan bunga serta pohon jenis palem. Dari tembok benteng sebelah barat, kita dapat memandang teluk Jepara dan kemegahan stadion Gelora Bumi Kartini yang menjadi kebanggaan masyarakat Jepara. Tempat ini cukup representative untuk wahana rekreasi keluarga khususnya warga kota Jepara dan sekitarnya karena baik di dalam maupun di luar benteng dipenuhi taman buatan. Bahkan di depan gerbang sebelah kiri terhampar taman buah yang berisi tanaman mangga, belimbing, jambu, bahkan sukun.

————————————————————————————————————————-
SEJARAH / HISTORI
 

Di Benteng VOC terdapat makam tua Belanda yang konon ada makam Kapten Francois Tack (perwira VOC senior yang ikut berjasa dalam penumpasan Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa). Sehingga sejarah Jepara, bahkan mungkin bisa juga sejarah Nasional akan kabur jika Benteng VOC Jepara jadi dipugar.

Yang menarik disini adalah ternyata ada berbagai versi yang menyangkut dengan keberadaan makam Kapten Tack itu sendiri. Ada yang mengatakan makamnya ada di Jakarta, namun sebagian pihak mempercayai makam Kapten Tack ada di Jepara, tepatnya di Benteng VOC. Penulis merasa tertarik untuk menelusuri jejak Kapten Tack :

Amangkurat II berhasil naik takhta berkat bantuan VOC, namun disertai dengan perjanjian yang memberatkan pihak Kartasura. Ketika keadaan sudah tenang, Patih Nerangkusuma yang anti Belanda mendesaknya supaya mengkhianati perjanjian tersebut.

Pada tahun 1685 Amangkurat II melindungi buronan VOC bernama Untung Suropati. Kapten Francois Tack datang ke Kartasura untuk menangkapnya. Amangkurat II pura-pura membantu VOC. Namun diam-diam, ia juga menugasi Pangeran Puger supaya menyamar sebagai anak buah Untung Suropati.

Dalam pertempuran sengit yang terjadi di sekitar keraton Kartasura pada bulan Februari 1686, tentara VOC sebanyak 75 orang tewas ditumpas pasukan Untung Suropati. Pangeran Puger sendiri berhasil membunuh Kapten Tack menggunakan tombak Kyai Plered. Disini ada beberapa analisa yang mana keberadaan makam Kapten Tack lebih condong ada di Jepara :

  1. Jenazah Kapten Tack begitu meninggal langsung dibawa ke Semarang, karena Kartasura pada waktu itu adalah masih kota baru sehingga masih belum ada Residen Belanda yang ditempatkan di sana.
  2. Kondisi kota Kartasura yang hancur akibat perang sehingga Jenazah Kapten Tack langsung segera dibawa ke Semarang untuk dilakukan upacara secara militer.
  3. Dari Semarang jenazah kapten Tack dibawa ke Jepara di benteng VOC untuk dimakamkan
  4. Jika jenazah Kapten Tack dibawa ke Batavia, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan pihak Belanda, diantaranya :
    1. Jalan raya Deandels waktu itu belum ada sehingga tidak bisa dilewati iring-iringan kereta berkuda, sedangkan jalan raya Semarang – Solo pada era tahun 1600 an sudah bisa dilewati kereta berkuda.
    2. Banyaknya pengikut Untung Suropati (pada waktu perang Untung Suropati, banyak bupati-bupati di Jawa Tengah dan Jawa Timur yang mendukung perjuangan Suropati), sehingga sangat membahayakan iring-iringan pasukan VOC di tengah jalan.
    3. Jarak Kartasura – Batavia yang terlalu jauh sehingga membahayakan kondisi jenazah sang Kapten yang matinya dalam keadaan luka-luka.
    4. Benteng VOC di Jepara pada waktu meninggalnya sang Kapten termasuk relatif baru, sehingga apabila ada perwira Belanda yang dimakamkan di sana akan menjadi kebanggan pihak Belanda sekaligus untuk menghargai jasa-jasanya.

     

----------------------------------------------------------------------------------------------------

HTM (Harga Tiket Masuk) : belum ada

---------------------------------------------------------------------------------------------------

Obyek Wisata Sekitar:

- Alun- alun jepara

-  Museum kartini

-------------------------------------------------------------------------------------------------

Akomodasi Sekitar Obyek Wisata

1. Penginapan:

– Hotel Asia

2. Rumah Makan / Restoran

– Pondok rasa

– Scj

-------------------------------------------------------------------------------------------

 

Galeri foto

IMG_2377 (Copy) IMG_2599 (Copy) IMG_2598 (Copy)

  

  

  

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

KALENDER EVENT

November 2017
S M T W T F S
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30