Sentral Industri

Sentral Industri (11)

Sentra Seni Ukir dan Patung

  • Friday, 21 April 2017 14:12
  • Written by

Jepara sangat terkenal sebagai kota ukir. Ukiran adalah kerajinan utama dari kota Jeparayang sangat terkenal di Indonesia maupun manca negara. Yang dimaksud disini adalah ukiran yang berasal dari kayu jati, mahoni, sengon dan lain-lain. Di kota Jepara hampir seluruh kecamatan mempunya mebel dan ukir kayu sesuai dengan keahlian sendiri-sendiri. Hasil kerajinan ukir Jepara bermacam-macam bentuk mulai dari motif patung, motif daun, relief dan lain-lain.

Pemerintah Jepara telah menetapkan Desa Mulyoharjo sebagai desa wisata tempat pembuatan kerajinan seni ukir dan patung. Desa Mulyoharjo sendiri terletak di kecamatan kota Kabupaten Jepara. Desa ini dapat dijangkau dengan mudah oleh kendaraan mengingat letaknya berada dipinggir jalan raya Jepara – Bangsri pintu masuknya ditandai dengan simbol tugu patung kuda yang berjarak 2 km dari pendopo kabupaten jepara

 

Selain pahat patung di Desa Mulyoharjo ini juga terdapat kaligrafi, relif, mebel ukir, hiasan interior, patung abstrak, soufenir yang unik yang semuanya itu terbuat dari satu kayu utuh tanpa terputus atau sambungan kayu. masyarakat yang ramah dan anehnya hampir semua warganya bisa mengukir baik itu pria maupun wanita. Salah satu jenis ukiran yang melegenda atau terkenal adalah macan kurung (nama sebuah ukiran ) yang cara membuatnya itu satu bahan kayu glondong di buat kurungan dan di dalamnya terdapat macan di atas kurungan terdapat naga dan langsug di buat ukiran tanpa sambungan,kalo kita bayangkan wah betapa sulitnya.

Namun untuk jenis ukiran macan kurung ini sudah langka karena lamanya waktu pemesanan dan tingkat kesulitan yang tak sembarangan orang bisa untuk membuatnya. Di daerah ini pun sering di kunjungi oleh wisatawan dari mancanegara maupun lokal untuk kepentingan bisnis atau hanya sekedar jalan-jalan. Selain di pasaran lokal seni pahat patung di Desa Mulyoharjo ini mampu menembus pasaran iternasional, itu terbukti dengan bayaknya barang-barang yang di ekspor sampai ke luar negeri.

 

Jika anda sedang berliburan ke Jepara jangan pernah lupa untuk mengunjungi tempat yang satu ini, karena di sini bayak toko toko atau showroom yang menjual hasil seni kerajinanya. dan anda pun langsung bisa membeli sofenir kecil kecil nan cantik atau lainya untuk menghiasi rumah anda.

 

LEGENDA

Dikisahkan seorang ahli seni pahat dan lukis bernama Prabangkara yang hidup pada masa Prabu Brawijaya dari Kerajaan Majapahit, pada suatu ketika sang raja menyuruh Prabangkara untuk membuat lukisan permaisuri raja sebagai ungkapan rasa cinta beliau pada permaisurinya yang sangat cantik dan mempesona.
Lukisan permaisuri yang tanpa busana itu dapat diselesaikan oleh Prabangkara dengan sempurna dan tentu saja hal ini membuat Raja Brawijaya menjadi curiga karena pada bagian tubuh tertentu dan rahasia terdapat tanda alami/khusus yang terdapat pula pada lukisan serta tempatnya/posisi dan bentuknya persis. Dengan suatu tipu muslihat, Prabangkara dengan segala peralatannya dibuang dengan cara diikat pada sebuah laying-layang yang setelah sampai di angkasa diputus talinya.

Dalam keadaan melayang-layang inilah pahat Prabangkara jatuh di suatu desa yang dikenal dengan nama Belakang Gunung di dekat kota Jepara. Di desa kecil sebelah utara kota Jepara tersebut sampai sekarang memang banyak terdapat pengrajin ukir yang berkualitas tinggi. Namun asal mula adanya ukiran disini apakah memang betul disebabkan karena jatuhnya pahat Prabangkara, belum ada data sejarah yang mendukungnya.

 
SEJARAH
  1. Pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat, terdapat seorang patih bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa (Kamboja) ternyata seorang ahli memahat pula. Sampai kini hasil karya Patih tersebut masih bisa dilihat di komplek Masjid Kuno dan Makam Ratu Kalinyamat yang dibangun pada abad XVI.
  2. Keruntuhan Kerajaan Majapahit telah menyebabkan tersebarnya para ahli dan seniman hindu ke berbagai wilayah paruh pertama abad XVI. Di dalam pengembangannya, seniman-seniman tersebut tetap mengembangkan keahliannya dengan menyesuaikan identitas di daerah baru tersebut sehingga timbulah macam-macam motif kedaerahan seperti : Motif Majapahit, Bali, Mataram, Pajajaran, dan Jepara yang berkembang di Jepara hingga kini.

SENTRA KONVEKSI

  • Thursday, 20 April 2017 12:13
  • Written by

Sejak dinobatkan sebagai sentra industri konveksi di Jepara, hampir seluruh warga Desa Sendang, Kecamatan Kalinyamatan mulai menekuni peluang bisnis konveksi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka setiap harinya. Di desa yang terletak sekitar 20 kilometer dari Kota Jepara ini

 

 

 

 

 

 

 

 

 

SENTRA KALIGRAFI

  • Thursday, 20 April 2017 11:35
  • Written by

Desa senenan kecamatan tahunan kabupaten jepara

Bahan dasar yang di gunakan dalam membuat kaligrafi ukir jepara adalah dengan bahan dasar kayu jati maupun kayu mahoni. Kedua kayu tersebut mempunyai kualitas yang sangat baik, maka dari itu kami menggunakan bahan dasar kayu jati dan mohoni untuk saya jadikan bahan kaligrafi ukir kayu.

Bahan yang kedua yaitu bahan finishing atau pewarnaan pada kaligrafi ukiran kayu. kami menggunakan cat NC untuk bahan finishing ukiran kaligrafi ini. Cat NC mempunyai kualitas warna yang sangat bagus, bisa di sesuaikan dengan permintaan yang di sukai pelanggan kami.

   

 

 

SENTRA TENUN TROSO

  • Thursday, 20 April 2017 11:15
  • Written by

Troso adalah nama salah satu desa yang terdapat di kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara. Di Desa inilah tempat komunitas pengrajin tenun ikat troso berada. Sebenarnya Tenun Troso adalah teknik tenun gedok dan kemudian dalamkurun waktu yang cukup panjang, berkembang menjadi tenun ikat.Sebenarnya Tenun Troso adalah teknik tenun gedok dan kemudian dalam kurun waktu yang cukup panjang, berkembang menjadi tenun ikat, Namunmasyarakat Kabupaten Jepara & sekitarnya lebih mengenal dengan sebutan “Tenun Troso”.

 

 

 

    

 

Kerajinan tenun ini tumbuh dan berkembang sejak jaman Belanda dan terus dilestarikankan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, yang saat ini sudah pada generasi yang kelima.Terdapat 2 (dua) motif tenun hasil karya cipta komunitas Desa Troso, yaitu :
– Motif/pola Cemara (pohon cemara)
– Motif/pola Lompong (daun Tales)

Tenun motif cemara dan lompong adalah jenis motif yang ditorehkan pada kain sarung. Dengan kain sarung tersebut Desa -Troso menjadi dikenal oleh khalayak ramai (terkenal). Namun seiring dengan perjalanan waktu, motif tenun cemara & lompong sudah jarang dibuat oleh pengrajin, yang dikarenakan tidak adanya permintaan pasar Padahal kala itu kain tenun yang bermotifkan lompong dan cemara pernah mengalami jaman keemasan. Namun jaman keemasan tersebut telah sirna ditelan waktu yang disebabkan oleh beberapa persoalan yang sangat komplek, diantaranya adalah : Sulitnya medapatkan bahan baku dengan jumlah banyak dan yang konsisten spesifikasinya. Suhu Politik saat itu kurang kondusif yang dikarenakan terjadinya perang saudara. (tragedi G 30 S/ PKI)
Keinginan Pemerintah Daerah Jepara untuk mengedepankan kerajinannya selain meubel ukir, diantaranya adalah tenun troso. Salah satu upaya Pemerintah Daerah adalah membantu penyerapan pasar hasil kerajinan tenun troso yang berupa kewajiban kepada jajaran Pemerintah Daerah untuk menggunakan pakaian seragam tenun ikat yang dibuat oleh pengrajin Desa Troso. Seragam tersebut wajib dikenakan pada hari yang telah ditentukan pula. Kewajiban tersebut adalah bentuk keseriusan Pemerintah Daerah Jepara dalam melestarikan dan melindungi asset kekayaan budaya daerah yang berupa pengetahuan tradisional dan upaya Pemerintah Daerah Jepara dalam mewujudkan keinginannya untuk menggali potensi daerah serta mengedepankan industri kerajinan selain meubel ukir, untuk dijadikan produk unggulan daerah Kabupaten Jepara. Dengan kewajiban memakai tenun ikat untuk kalangan pegawai Pemerintah Daerah tersebut, pengrajin mulai bergairah kembali untuk membuat (produksi) tenun ikat yang selama beberapa kurun waktu ini mengalami kelesuan pasar.

Produk tenun ikat yang banyak diproduksi oleh pengrajin adalah kain jok meubel, gorden, pakaian seragam & pakaian adat Kabupaten Jepara serta beberapa jenis motif kain tenun ikat yang bermotifkan etnik dari daerah lain di Indonesia seperti motif tenun dari daerah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Bali dan sebagainya, karena motif dari daerah yang telah disebutkan diatas,
pasarnya masih terbuka luas.

Berbagai motif kain tenun troso dapat kita jumpai pada berbagai showroom / ruang pamer yang ada di desa Troso, jaraknya sekitar 12 km dari ibukota Jepara.

 

WOVEN TROSO

Troso is the name of one of the villages in Pecangaan sub-district, Jepara Regency, Central Java. This village is the place of weaving Troso artisan community. Actually,Troso weaving is a technique of Gedokweaving, the name “Gedhok” is taken from the sound of the loom, “Dhok-Dhok” or “knock-knock” during the weaving.Over a long period time woven Gedhokdeveloped into woven Ikat(Ikatis dyeing technique used to create the designs). However, people of Jepara and its surrounding prefer to call their woven product as “Woven Troso” or “TenunTroso”.

This weaving craft has grown and developed since Dutch colonial era and continue to be preserved from one generation to the next generation, which is now in the fifth generation. There are 2patterns of woven created by the communities in Troso village:

-          Pattern of Cemara(spruce)

-          Pattern of Lompong (Taro leaves)

Woven cemara(spruce) and lompong(taro leaves) patterns are patterns that are inscribed in sarongs. Because of the sarong, the public knows Troso village. Overtime, woven with cemara and lompongpatterns were rarely made by the artisans dues to the lack of market demand. In the past, Woven with cemara and lompongdesignshad reached its popularity. However, the popularityendedbecause of some issues, such asdifficulty to obtain raw materials in large quantities with consistent specifications. At that time, the political situation was also less favorable due to civil war related to 30 September movement.

Besides hand carved Jeparafurniture which is very famous,Local Government wishes to promote the craft of Jepara, especially Woven Troso. One of the efforts of the Local Government is to help the promotion of Woven Troso by issuing the rule for the Local Government officer to wear Woven Troso in the office. The uniform must be worn in a certain day during the week. The obligation shows the seriousness of Local Government of Jepara in preserving and conserving the local culture knowledge and assetin realizing their desire to explore the potential of the region as well as promoting the handicraft industry to be a superior product of Jepara Regencybesides carved furniture. This obligation for wearing woven Troso has made the Troso artisan excited and become productive again in making woven Troso which period of time has been cutback.

Ikat products of Troso village includeupholstery fabrics furniture, curtains, uniforms and traditional clothing of Jepara Regency. Some types of ikat has many kinds of ethnic patterns from other parts of Indonesia such as patterns from East Nusa Tenggara, West Nusa Tenggara, Borneo, Bali, and the others. They are also made because the patterns fromthose areasattractconsumers in the market.

Various patterns of woven Troso can be found in various showroom in Troso village, located about 12 km from the city of Jepara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KERAJINAN ANYAMAN ROTAN / BAMBU - DS.TELUK WETAN

  • Thursday, 20 April 2017 11:09
  • Written by

Jepara memang terkenal memiliki kekayaan akan kerajinan dan keseniannya, salah satu kerajinan yang dimiliki Kabupaten Jepara yaitu kerajinan anyaman  rotan dan bambu. Pusat atau sentra kerajinan anyaman rotan dan bambu ada di Desa Teluk Wetan  Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, atau lebih tepatnya sekitar 29 KM ke arah selatan dari pusat Kota Jepara. Pengembangan kerajinan rotan tak hanya menggunakan bahan rotan asli, namun juga menggunakan bahan rotan sintesis. Lebih menarik lagi, kerajinan rotan dan bambu ini bisa dipadukan dengan bahan baku lainnya misalnya seperti furniture, hiasan interior, perkakas, dan souvenir. Kerajinan rotan dan Bambu dari Jepara memiliki kualitas yang tinggi sehingga mampu bersaing di pasar internasional. Selain itu juga, untuk desain, bisa disesuaikan dengan keinginan pemesan.

Produksi yang dihasilkan dari kerajinan anyaman rotan dan bambu antara lain :

  1. Kursi Set
  2. Ayunan dan Kursi Santai
  3. Dan kerajinan lainnya

 

 

 

CRAFT WOVEN RATTAN - BAMBOO

Jeparais a regency that has the diversity of craft and arts, Jepara is also well known for its rattan and bamboo handicraft crafts. TelukWetan village in Welahan sub-district of Jepara, which is about 29 Kilometersto the south of Jeparacity is the center of rattan and bamboo handicrafts. Rattan handicrafts in Jepara do not only use natural rattans for its material, but also the synthetic materials. More interestingly, rattan and bamboo are combined with the other materials such as woods to create furniture, interior decoration, home furnishings, and souvenirs. Rattan and bamboo crafts from Jeparahas high quality sothey are able to compete in international markets. In addition, the designs also can be customized, based on the customers’ preferences.

The products of woven rattan and bamboo handicrafts include:

1.       Chair sets

2.       Swing and Longue Chairs

3.       And  many others.

 

 

Industri Kue dan Roti - Desa Bugo

  • Saturday, 28 January 2017 12:28
  • Written by

Sejarah Singkat Industri Roti

Pada tahun 1960 – an ada 2 orang penduduk desa Bugo yang bernama bapak Sunar dan bapak Kaswi yang bekerja pada perusahaan roti milik orang Cina di Kudus. Setelah beberapa tahun bekerja di perusahaan roti tersebut mereka akhirnya mengusai cara dan teknik pembuatan roti. Kemudian pada tahun 1970an setelah merasa mampu dan menguasai cara pembuatan roti, mereka memutuskan untuk usaha mandiri dalam bidang pengolahan kue dan di desaBugo.

Pada awalnya mereka membuat kue dan roti bolang baling,roti moho, roti manis dan untir untir. Namun saat itu usaha pengolahan kue kue dan roti belum bisa berkembang , karena masyaraka masih asing dengan produk produk tersebut. Bahkan poduk produk tersebut masih di anggap makananmewah yang hanya dapat dibelioleh kalangan menengah ke atas. Namun dengan kesabaran, ketekunan dan keuletannya lambat laun produk produk ini mulai di kenal dan diminati masyarakat.

Pada saat itu beberapa orang penduduk desa Bugo bekerja sebagai tenaga kerja di perusahaan kue dan roti milik Bapak Kaswi dan Bapak Sunar . Akhirnyasemakin banyaklah orang desa Bugo yang menguasai cara pengolahan roti dan kue kue tersebut, dan mulai semakin bertambah banyak pula masyarakat desa Bugo yang mendirikan usaha pengolahan kue dan roti dalam skala industri rumah tangga ( home industri ).

Selain Bapak Kaswi dan Bapak Sunar, akhirnya muncullah nama nama yang lain seperti Bapak Kliwon, Bapak Sukamat,Bapak Kuat, Bapak Rahmat, dan Bapak Sugono yang mendirikan usaha pengolahan roti dan kue –kue dalam skalahome industri di desa Bugo Welahan Jepara ini.

Pada sekitar era 80- an Bapak Kuat dan Bapak Sukamat berusaha mengmbangkan usaha pengolahan aneka kue dan roti ini di Jakarta. Ternyata usaha mereka di Jakarta maju dengan pesat. Kondisi ini membuat warga Bugo yang lain tertarik mengikuti mereka untuk merantau dan berusaha di Jakarta. Pada saat itu bahkan usaha pengolahan aneka roti dan kue dari pengusaha desa Bugo ini berkembangdi kota kota Jawa Barat seperti Banten, Cikampek, Bogor, Krawang dan sebagainya.

Namun pada tahun 1987 banyak dari warga Bugo ini yang akhirnya kembali ke kampung halamannya untuk mengembangkan usahanya di daerah sendiri. Usaha pengolahan aneka kue dan roti di desa Bugo ini akhirnya dari tahun ke tahun tambah pesat. Kondisi ini membuat inisiatif warga desa Bugo untuk mendirikan koperasi yangberbadan hukum dengan nama ” KOPINKRA KARYA BOGA ” ( Koperasi Industri Dan Kerajinan Karya Boga ) yang anggotanya adalah para pengrajin kue dan roti dari desa Bugo. Kemudian koperasi ini juga telah menjalin kerja sama dengan perusahaan produk tepung teriguyaitu ” Sri Boga Ratu Raya ” dari Semarang.

Desa Bugo saat ini benar benar telah menjadi sentra industri kue dan roti yang di buktikan dengan di resmikannya desa Bugo sebagai pusat dan pasar perdagangananeka kue dan roti oleh Bapak Bupati Jepara . Dengan demikian dalam memasarkan produknya masyarakat produsen kue dan roti tidak perlu memasarkan sendiri ke konsumen, melainkan ada para pedagang yang mengambil langsung ke pusat produk di desa Bugo ini untuk di pasarkan ke kota Jepara, Kudus, Rembang, Pati, Semarang, Demak dan kota kota lainnya.

 
 

Cake and Bakery industry

A brief history 

In 1960, there were two villagers from Bugo village ( a village in Jepara) named Mr. Sunar and Mr. Kaswi who worked on a bakery company. The company was owned by a Chinese and located in Kudus, Central Java. After ages working there, they mastered on how to make bread and what are the techniques. In 1970’s, they felt that they were able to make their own, so they decided to go out and build their own industry in Bugo Village.

At the beginning, they produced kind of local breads like bolang-baling, moho, sweet and untir-untir. Sadly, people were still strange to this kind of products, so it developed slowly. The people thought that that just kinds of luxury food that could only be bought by a middle class up to high class people. By their persistence, patience and ability, the products were starting to become familiar among the people.

Some of the villagers were worked there to help Mr.Kaswi and Mr.Sunar. Time by time, more and more people joined. The people started to know how to make the bread and build their own home industry.

Instead of Mr. Kaswi and Sunar, there were others name who started the industry. They are Mr. Kliwon, Mr. Sukamat, Mr. Rahmat, Mr. Sugono. They started their home industry of bakery in Bugo Village, Welahan, Jepara.

In 80’s, Mr. Kuat and Mr. Sukama tried to bring their business to Jakarta. Fortunately, they got succes. Knowing this, many people followed their way to build the business in Jakarta. At after several times, they grew up and succes in several cities of West Java like Banten, Cikampek, Bogor, Karawang, etc.

In 1987, many of them decided to go back to their home town to continue the business there. Years by years, it developed so quickly. They then had an idea to establish a legal cooperative named ”KOPINKRA KARYA BOGA” ( Koperasi Industri Dan Kerajinan Karya Boga ). The members of it are enterpreneurs of cake and bakery from Bugo Village. This cooperative has been made a cooperation with a flour company named Sri Boga Ratu Raya from Semarang.

Bugo Village nowadays becomes a center of cake and bakery industry in Jepara. The Regent of Jepara was officially launched the village as the center of cake and bakery trade and industry. Therefore, the producers do not need to distribute their products, but there will be a seller who take it and then distribute it to some cities like Jepara, Kudus, Rembang, Pati, Semarang, Demak, and etc.

Sentra Relief

  • Saturday, 28 January 2017 12:22
  • Written by

Lokasi: Desa Senenan Kecamatan Tahunan (2 KM kearah Timur dari pusat Kota)

Relief adalah seni pahat dan ukiran 3-dimensi yang biasanya dibuat di atas batu. Tetapi di Jepara Relief dibuat dari kayu, bisa dari kayu jati, kayu mahoni, kayu sono, kayu meh, atau kayu yang lain. Kayu-kayu tersebut kemudian diukir sedemikian rupa sehingga membentuk suatu ornamen yang nantinya bisa menjadi barang seni yang bernilai tinggi.


 

Sentral Mainan Tradisional

  • Saturday, 28 January 2017 12:21
  • Written by

Di tengah dominasi aneka mainan modern, produk mainan tradisional anak masih bertahan. Salah satu sentra mainan tradisional ini berada di Desa Karanganyar, Kecamatan Welahan, Jepara, Jawa Tengah.

Hampir semua warga desa berprofesi sebagai pengrajin mainan tradisional anak, seperti kitiran dan hewan-hewanan yang bisa berjalan jika dilepaskan talinya.

Desa Karanganyar Kec. Welahan berada di sebelah selatan pusat Kabupaten Jepara. Perjalanan menuju desa ini bisa ditempuh mengunakan kendaraan bermotor atau dengan mobil.

Desa ini berada di ujung Jepara karena berbatasan langsung dengan Kecamatan mijen, Kabupaten Demak. Dengan jarak tempuh hanya 15 menit.

Salah seorang pengrajin mainan anak,Bapak Budiman mengatakan bahwa, sentra mainan anak di Karanganyar telah berdiri sejak 2007. Bahkan mainan anak sudah menjadi mata pencaharian bagi warga Desa Karanganyar.Adapun jenis mainan Antara lain: kitiran, lele-lelean,tikus-tikusan, dan mainan kipas putar. Harganya bervariasi, mulai Rp 1.000 - Rp 1.800 per piece.

Bahan yang di gunakan antara lain: spon, kertas minyak, dan bahan pewarnaan yang dibentuk dengan berbagai macam variasi.

Adapun reques terbanyak kerajinan ini dipasarkan keberbagai kota di Indonesia terutama  dari Kalimantan bahkan kerajinan yang terbuat dari spon  berhasil menembus pasaran sampai keluar negeri seperti, Thailand dan Malaysia.

 

 

Kerajinan Keramik dan Genteng - Desa Mayong

  • Saturday, 28 January 2017 12:20
  • Written by
 
Mayong, selain dikenal sebagai kota kelahiran RA. Kartini juga sebagai pusat keramik / gerabah. Produk yang dihasilkan meliputi guci, terakota, souvenir pernikahan, celengan anak, peralatan dapur,  permainan anak, dan maih banyak lagi. Produk gerabah dari mayong sudah menjangkau wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan sudah diekspor ke Turki, Perancis, dan Malaysia.
 
Proses pembuatan kerajinan
  1. Tanah liat digiling menggunakan molen sampai 2 kali
  2. Tanah liat kemudian dipadatkan
  3. Proses pembentukan
  4. Proses pengeringan (tidak boleh terkana sinar matahari)
  5. Proses pengasapan / pembakaran
  6. Proses Pengecatan

Hasil Kerajinan dan Kisaran Harga

  • Souvenir Pernikahan : Rp. 3.000,00 - Rp. 5.000,00 (min order 100)
  • Terakota : Rp. 800 /pcs
  • Guci : Rp. 16.000 (uk : 30 cm) - Rp. 2.000.000,00 (uk : 2 m)
  • DLL

 

 

CRAFT OF CERAMICS AND TILES

Mayong not only known as the hometown of Kartini, Mayong also known as a center of ceramics/pottery. Products produced in Mayong include jars, terracotta, wedding souvenirs, savings, kitchen utensils and children’s games. Pottery products from Mayong already reach the region of Central Java, East Java, even exported to Turkey, France and Malaysia.

The process of making the crafts:

1.      Mix the clay using concrete mixer up to 2 times

2.      The, compacted the clay

3.      Formation process

4.      Drying process (should not be exposed to sunlight)

5.      Fumigation/combustion process

6.      Painting process

Price range:

·         Wedding souvenirs     : 3.000 IDR – 5.000 IDR (minimum order 100)

·         Terracotta                    : 800 IDR/pcs

 

·         Jar                                : 16.000 IDR (size: 30 cm) – 2.000.000 IDR (size: 2 meters)

 

SEJARAH GERABAH

keterampilan membuat gerabah telah dilakukan sejak jaman dahulu dan telah menjadi bagian dari perkembangan peradaban bangsa di nusantara,jejak historinya pun jelas yaitu terwariskan hingga masa kini,menurut kajian arkeologis,keahlian membuat gerabah ini baru di kenal di masa bercocok tanam,siklus cocok tanam yang menyisahkan waktu luang cukup panjang bagi para petani sehingga memberikan kesempatan bagi mereka untuk mengembangkan keahlian ini dan jenis gerabah yang di hasilkan kebanyakan berupa peralatan rumah tangga,

Jenis - jenis kerajinan gerabah

  • wajan
  • kendhi
  • gentong air
  • kap lampu
  • panel-panel keramik
  • asbak
  • celengan
  • dan aneka bentuk hiasan lainnya yang dari tanah liat

 

 

 

 

 

Kerajinan Cangkang Kerang - Welahan

  • Saturday, 28 January 2017 12:01
  • Written by

Kerajinan simping atau Cangkang Kerang merupakan salah satu handycraft dari kota Jepara.Selain merupakan hasil laut ,yaitu sejenis kerang,dimana dalam kerajinan ini bahan bakunya adalah cangkang dari kerang simping. Salah satu pengrajin simping yaitu Bpk. Gupomo yang mempunyai sendiri home indrustri ini beralamat di Gang Kauman Lor ,kecamatan Welahan, Kab.Jepara.Jarak tempuhnya sekitar 28 km dari pusat kota Jepara.Bahan kulit simping diperoleh pengrajin dari desa Wedung yg merupakan salah satu desa di pesisir pantai Jepara.Kerajinan simping ini bermacam-macam diantaranya yaitu Kursi,lampion,lampu hias,tempat lilin,dll.Kisaran harganya mulai dari puluhan ribu rupiah hingga jutaan rupiah per- buah.Dalam pengerjaannya kerajinan simping memerlukan kreatifitas,keuletan dan ketelatenan dikarenakan bahan simping tergolong tipis dan rapuh.Pemasaran kerajinan simping sebagian besar lewat event pameran dikabupaten jepara,propinsi,dan luar propinsi.

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish