Legenda Dan Tokoh - Tokoh Penting Jepara

Legenda Dan Tokoh - Tokoh Penting Jepara (16)

RADEN AJENG KARTINI

  • Wednesday, 03 May 2017 13:46
  • Written by

1. Masa Kelahiran Kartini

                Sewaktu R.A. Kartini dilahirkan pada tanggal 21 april 1879, ayahnya masih berkedudukan sebagai wedono mayong, sedangkan ibunya adalah seorang wanita berasal dari desa teluk awur yaitu mas ajeng ngasirah yang berstatus garwo ampil.R.M.A.A. Sosroningrat dan urutan keempat dari ibu kandung mas ajeng ngasirah, sedangkan eyang  R.A. Kartini d pihak ibunya adalah seorang ulama besar pada jaman itu bernama kyai haji madirono dan hajjah siti aminah.

Istri kedua ayahnya yang berstatus garwo padmi adalah putri bangsawan yang dikawini pada tahun 1875 keturunan langsung bangsawan tinggi madura yaitu raden ajeng woeryan anak dari R.A.A. Tjitrowikromo yang memegang jabatan bupati jepara sebelum R.M.A.A. Sosroningrat.perkawinan dari kedua istrinya itu telah membuahkan putra sebanyak 11 (sebels) orang. Mula pertama udara segar yang dihirup R.A. Kartini adalah udara desa yaitu sebuah desa di mayong yang terletak  ±25km sebelum masuk jantung kota jepara. Disinilah dia dilahirkan oleh seorang ibu dari kalang rakyat biasayang dijadikan garwo ampil oleh wedono mayong R.M.A.A. Sosroningrat. anak yang lahir itu adalah seorang bocah kecil dengan mata bulat berbinar-binar memancarkan cahaya cemerlang seolah menatap masa depan yang penuh tantangan.

2. Masa Kepindahan Kartini dari Mayong

                Hari demi hari beliau tumnuh dalam suasana gembira, dia ingin bergerak bebas , berlari kian kemari, hal yang menarik baginya ia lakukan meskipun dilarang. Karena kebebasan dan kegesitannya bergerak ia mendapat julukan TRINIL dari ayahnya. Kemudian setelah kelahiran R.A. Kartini, yaitu pada tahun 1880 lahirlah adiknya R.A. Roekmini dari garwo padmi. Pada tahun 1881 diangkat sebagai bupati jepara dan beliau bersama keluarganya pindah kerumah dinas kabupaten di jepara. Jadi bertepatan kartini usia 2 tahun itulah diboyong dari tempat kelahirannya mayong menuju btempat tinggal yang baru dirumah dinas kabupaten jepara.pada tahun yang sama lahir pula adiknya yang diberi nama R.A. Kardinah sehingga si trinil senang gembira dengan kedua adiknya sebagaiteman bermain. Lingkungan pendopo kabupaten yang luas megah itu semakin memberikan kesempatan bagi kebebasan dan kegesitan setiap langkah R.A. Kartini.

3. Masa Kartini Mengikuti Pendidikan

Sifat serba ingin tahu R.A. Kartini inilah yang menjadikan orang tuanya semakin memperhatikan perkembangan jiwanya. Memang sejak semula R.A. Kartini paling cerdas dan penuh inisiatif dibandingkan saudara perempuan lainnya. Dengan sifat kepemimpinan  R.A. Kartini yang menyolok, jarang terjadi perselisihan diantara mereka bertiga yang dikenal deng nama (TIGA SERANGKAI) meskipun dia agak diistimewakan dari yang lain. Agar putrinya keliling dengan menaiki kereta kuda. Secara terarah agar putrinya kelak akan mencintai rakyat dan bangsanya, sehingga apa yang dilihatnya dapat tertanam dalam ingatan R.A. Kartini  dan adik-adiknya serta dapat mempengaruhi pandangan hidupnya setelah dewasa. Saat mulai menginjak bangku sekolah (EUROPENES LAGERE SCHOOL) terasa bagi sesuatu yang mengembirakan. Karena sifat yang ia miliki dan kepandaiannya yang menonjol  R.A. Kartini cepat disenangi teman-temannya kecerdasan otaknya dengan mudah menyaingi anak-anak belanda baik pria maupun wanitanya, dalam bahasa belanda pun R.A. Kartini dapat diandalkan. Menjelang kenaikan kelas disaat liburan pertama, NY.Ovink Soer suaminya berserta adik-adiknya roekmini dan kardinah menikmati keindahan pantai bdan andengan letaknya 7 km  ke utara kota jepara, yaitu sebuah pantai yang ndah dengan hamparan pasir putih yang memukau sebagaimana yang sering digambarkan lewat surat-suratnya kepada temannya stella di negeri belanda. R.A. Kartini Dan kedua adiknya mengikuti NY.Ovink Soer  mencari kerang sambil berkejaran menghindari ombak, kepada    R.A. Kartini ditanyakan apa nama pantai tersebut dan dijawab dengan singkat yaitu pantai bandengan.

Kemudian NY.Ovink Soer mengatakan bahwa di Holland  pun ada sebuah pantai hampir sama dengan bandengan namanya (Klien Scheveningen) secara spontan mendengar itu menyela kalau begitu kita sebut saja pantai bandengan ini dengan nama Klien Scheveningen. Selang beberapa tahun kemudian setelah slesai pendidikan di EUROPENES LAGERE SCHOOL, R.A. Kartini berkehendak ke sekolah yang lebih tinggi, namun timbul keraguan di hati karena terbentur pada aturan adat apalagi kaum bagi ningrat bahwa wanita seprti dia harus menjalani pingitan.

4. Masa Kartini Memasuki Usia Pingitan 

Memang sudah saatnya R.A. Kartini memasuki masa pingitankarena usianya telah mencapai 12 tahun lebih, ini semua demi keprihatinan dan kepatuhan kepadatradisi ia harus berpiash pada dunia luar dan terkurung oleh tembok kabupaten. Dengan semangat dan keinginannya yang tak kenal putus asa R.A. Kartini berupaya menambah pengetahuannya tanpa sekolah karena menyadari dengan merenung dan menangis tidaklah akan hasilnya, maka satu-satunya jalan untuk menghabiskan waktu adalah dengan tekun membaca apa saja yang di dapat dari kakak dan juga dari ayahnya.

Beliau pernah juga mengajukan lamaran untuk sekolah dengan beasisiwa ke luar negeri belanda dan ternyata dikabulkan oleh pemerintah Hindia Bleanda, hanya saja dengan berbagai pertimbangan maka beasiswa tersebut diserahkan kepada putra lainnya yang namanya kemudian cukup terkenal yaitu H.Agus Salim.

5. Masa Kartini Menjalani Masa pingitan

walaupun  R.A. Kartini tidak berkesempatan melanjutkan sekolahnya, namun himpunan murid-murid pertama kartini yaitu sekolah pertama gadis-gadis priyayi bumi putra elah dibina diserambi pendopo belakang kabupaten. Ketika itu sekolah kartini memasuki pelajaran apa yang kini dikenal dengan istilah krida R.A. Kartini dimana sedang menyelesaikan lukisan dengan cat minyak. Murid-murid sekolahnya mengerjakan pekerjan tangan masing-masing. Ada yang menjahit dan ada yang membuat pola pakaian dan lain-lain.

6. Masa Kartini dapat Lamaran & Menikah

Adapun bupatai RMAA. Sosroningrat dan Raden Ayu tengah menerima kedatangan tamu utusan yang membawa surat lamaran dari Bupati Adipati Djojodiningrat yang sudah dikenal berpandangan maju dan modern. Tepat tanggal 12 Nopember 1903 RA. Kartini melangsungkan pernikahannya dengan Bupati Rembang Adipati Djojodiningrat dengan cara sederhana

7. Masa Kartini Melahirkan Putra Pertama

Pada masa kandungna RA. Kartini berusian 7 bulan, dirinya merasakan kerinduan yang amat sangat pada ibunya dan kota jepara yang sangat berarti dalam kehidupannya. Suaminya telah berusaha menghiburnya dengan musik gamelan dan tembang – tembang yang menjadi kesayangannya, namun semua itu membuat dirinya lesu. Pada tanggal 13 september 1904 RA. Kartini melahirkan seorang bayi laki – laki yang diberi nama Singgih / RM. Soesalit

8. Masa Wafat Kartini

Tetapi keadaan RA. Kartini setelah melahirkan putra pertamanya itu semakin memburuk meskipun sudah dilakukan perawatan khusus, dan akhirnya pada tanggal 17 september 1904 RA. Kartini menghembuskan nafasnya yang terakhir pada usia 25 tahun. Kini RA. Kartini telah tiada, cita – cita dan perjuangannya telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dapat kita nikmati, kemajuan yang telah dicapai kaum wanita Indonesia sekarang ini adalah berkat goresan penannya semasa hidup yang kita kenal dengan buku (HABIS GELAP TERBITLAH TERANG)

Rade

PUNDEN SENOPATI DESA MINDAHAN KECAMATAN BATEALET

  • Saturday, 29 April 2017 11:46
  • Written by

         Punden Senopati adalah sebuah nama tempat dimakamkannya nama seorang tikih besar dari mataram yang tidak diketahui nama aslinya, oleh masyarakat setempat tokoh itu dikenal dengan nama kanjeng senopati. Konon ceritanya Kanjeng Senopati diperintahkan oleh Sultan Mataram untuk memimpin pasukan kedaerah pesisir utara pulau Jawa (Jepara), dalam rangka mengawasi gerak gerik dari Belanda yang sedang gencar gencarnya melakukan eksploitasi di daerah itu. Jabatan dari kanjeng senopati di kerajaan mataram ketika itu adalah seorang senopati kerajaan yang membawahi seribu orang prajurit. Kisah mengenai Kanjeng Senopati ini juga ada hubungannya dengan kisah tiga orang tokoh yang dikenal sebagai cikal bakal desa Mindahan Kidul, ketiga orang itu adalah Mbah Buyut Sangku, Mbah Rabil dan Kyai Kanjeng Gusti. Sebelum mereka menetap di desa Mindahan Kidul, ketiga tokoh itu adalah pengawal setia dari Kanjeng Senopati yang dipercaya untuk membuka hutan dan mengelola potensi alam yang ada di desa Mindahan Kidul.

        Sambil menyelam minum air, pepatah tersebut kiranya cocok untuk menggambarkan apa yang dilakukan oleh Kanjeng Senopati dan pasukannya di daerah Jepara (Desa Mindahan). Karena disamping menjalankan tugas negara, Kanjeng Senopati juga mengajarkan banyak hal kepada penduduk setempat. Hal – hal yang diajarkan itu meliputi : ajaran mengenai syariat islam, ketrampilan bela diri (pencak silat), atau bahkanhal-hal mengenai pengolahan pertanian. Pembelajaran mengenai ketrampilan pencak silat di khususkan untuk para pemuda pemudi yang ingin membekali dirinya dengan ketrampilan itu. Pengajaran pencak silat ini dimaksudkan untuk melatih dan mendidik pemuda-pemuda desa agara dapat membela dirinya dan sebagai bantuan pasukan tambahan kalu terjadi pertempuran dengan musuh. Dalam perkembangan selanjutnya,  Senopati meninggal dunia karena usia yang telah lanjut, jasad beliau dimakamkan di komplek pemakaman umum desa Mindahan Lor. Untuk menghormati dan mengenang jasanya maka diatas makam Kanjeng Senopati dibangun sebuah cungkup yang memilIki panjang 4 meter dan lebar 2 meter. Selain itu masyarakat desa Mindahan juga mengadakan khoul dimakam Kanjeng Senopati setiap hari Senin Pahing dibulan Apit . acara khoul itu di isi dengan kegiatan pengajian ( pembacaan tahlil dan surat yasin di makam Kanjeng Senopati), selanjutnya pada siang harinya acara khoul itu di isi dengan takziah oleh pembicara yang di datangkan dari luar kota. Rangkaian acara khoul itu di akhiri dengan pementasan tayub di balai desa.

           Menurut cerita dari masyarakat setempat, pengikut dari Kanjeng Senopati tidak hanya dari bangsa manusia saja, tetapi ada juga dari bangsa lelembut atau bangsa jin. Oleh masyarakat setempat, makam Kanjeng Senopati dianggap sebagai makam yang kramat, terkadang disketiar makam Senopati ada orang yang melakukan pati geni untuk ngalap berkah dari makam Senopati. Menurut penuturan salah seorang warga desa Mindahan, dimakam senopati juga terdapat pusaka-pusaka (azimat) yang memiliki banyak khasiat. Tak jarang ada orang yang jauH-jauh datang kesitu hanya untuk mengambil pusaka dimakam Kanjeng Senopati.

Punden Gomblo terletak ditengah disebelah aliran sungai kecil dan area persawahan desa beringin cangkring, kecamatan Batealit, kabupaten Jepara. Di Punden Gomblo terdapat sebuah sumur tua dan tempat sesajian yang dipercaya telah berusia ratusan tahun. Menurut penuturan warga setempat mengenai asal-usul mbah Gomblo, Mbah Gomblo adalah orang yang berasal dari Mataram yang melarikan diri ke wilayah utara pulau Jawa (Jepara), karena ketika itu di Mataram sedang terjadi peperangan. Mbah Gomblo oleh masyarakat Beringin Cangkring dikenal sebagai seorang Mbah Buyut ahli pengairan. Ahli pengairan disini maksudnya adalah bahwa Mbah Gomblo memiliki wewenang dan kemampuan untuk membagi air ke sawah-sawah warga Beringin Cangkring. Berkat jasanya itulah maka pembagian air untuk daerah persawahan (irigasi) di desa Beringin Cangkring menjadi teratur dan terbagi secara merata. Dari hal itu dampaknya adalah kehidupan masyarakat Beringin menjadi makmur gema ripah lo jinawi karena hasil panen petani Beringin Cangkring begitu melimpah.

Namun sekarang, seperangkat gamelan gaib itu tak dapat dipinjam lagi seperti pada masa lalu. Hal ini dikarenakan, dahulu ada seorang warga yang meminjam gamelan yang kurang. Sejak saat itulah maka seperangkat gamelan gaib itu tidak dapat dipinjam lagi, masyarakat menganggap bahwa danyang atau penungguy seperti telah disinggu diatas.

Di Punden Gomblo terdapat sebuah sumur tua yang airnya tak pernah kering sepanjang tahun. Masyarakat setempat meyakini bahwa di sumur tua itu terdapat seperangkat gamelan gaib itu relatif sederhana, yang punya hajat tinggal memasukan sewakul nasi putih kedalam sumur tua, setelah ia tinggal membakar kemenyan dan membaca mantra-mantra kemudian menyampaikan maksudnya, maka dengan seketika maka seperangkat gamelan gaib itu muncul dari dalam sumur.Punden Gomblo telah marah. Menurut cerita dari beberapa orang, suara yang dihasilkan oleh gamelan-gamelan itu begitu merdu dan menyejukkan di hati sehingga dahulu setiap masyarakat selalu mengadakan acara yang ada unsur musik distu, maka akan meminjam gamelan gaib di Punden Gomblo.

Setiap selesai musim panen padi para petani desa Beringin Cangkring selalu mengadakan selamatan menyerahkan sesajian di Punden Gomblo. Hal itu dimaksudkan sebagai ungkapan terimakasih dan rasa syukur atas hasil panen yang begitu melimpah. Ketika kami sampai di Punden Gomblo, kami melihat sebuah bekas sesajian dari warga sekitar yang terlihat masih baru. 

Nyi Dewi Siti Sendari adalah seorang penggede desa Bantrung pada zaman desa Bantrung masih berupa hutan.Ada pepatah mengatakan hutan di daerah ini dulu diibaratkan “jalmo moro jalmo mati” yang artinya kurang lebih adalah saking berbahayanya setiap manusia yang datang ke hutan ini dipastikan akan mati dimakan hantu atau binatang buas yang menunggu tempat ini.Pada saat itu ada seorang gadis yang baru saja turun dari gunung Muria berguru pada Kyai Sadeli.Oleh gurunya,gadis itu diberi pusaka yang bernama panah angin.Gadis itu bernama Nyi Dewi Sendari anak keturunan dari Pajang.

Sesapainya di hutan itu,Nyi Dewi Sendari banyak mendapatkan binatang buruan.Menurut kisah ,panah angin Nyi Dewi Siti Sendari bisa kembali sendiri setelah dilepaskan dari busurnya.Karena senang hatinya ,Nyi Dewi mencari tanah lapang untuk dijadikan tempat mendirikan “rompok” nya.Tetapi ketika akan mendirikan ‘rompok’ tiba-tiba dari dalam belik keluar ular yang sangat besar.Ular itu ingin memakan Nyi Dewi dan dengan sigap dia memanah ular dengan menggunakan panah angin pusaka.Panah mengenai mulut ular dari bawah ke atas.Akibatnya mulut ular terkunci oleh panah tersebut.Ular jatuh dan tidak bisa membuka mulutnya.Namun demikian, ular itu bisa berbicara seperti manusia ular dan mengatakan kalau dia tidak akan mengganggu Dewi Sendari .Ularpun bersumpah untuk akan mengabdi pada Dewi Sendari.Tempat keluarnya ular tadi dinamakan ‘belik gowok’ yang artinya sumber mata air yang berlubang.

Kemudian ular mengumpulkan teman-temannya dan mengatakan tidak mengganggu Nyi Dewi Siti Sendari.Tetapi ‘danyang’  kali Jiring mengatakan  kalau dia tidak akan mengganggu Dewi Siti Sendari dan anak cucunya asalkan memenuhi permintaannya,yaitu apabila habis panen atau menyetujui apa yang menjadi syarat dari ‘danyang kali’ .Akhirnya perkampungan yang didiami oleh Nyi Dewi Suminah menjadi ramai dan semakin banyak orang yang tinggal di situ.Setelah ramai Nyi Dewi Siti Sendari dijadikan penggede tempat tersebut.Kemudian desa itu diberi nama Bantrung.Yang berasal dari jarwa dasok ‘babat arep wurung’ yang artinya akan melakukan pembukaan kampung yang akan gagal.Punden  Mbah Siti Sendari ini menjadi satu dengan belik Gowok.Lokasi belik Gowok atau pundeng Siti Sendari di pinggir kali dan berada di tengah-tengahnya.Punden ini apabila banjir tidak terkena air banjir walaupun letaknya hanya sekitar 5 meter dari bibir sungai.Di belakang punden belik Gowok ini dulu ada pohon bulu yang ditanam oleh Nyi Siti Sendari untuk menambatkan kerbau apabila akan disembelih.Diperkirakan besarnya pohon ini sampai rangkulan tangan 10 orang laki-laki dewasa.Pada masa dahulu ketika diadakan sedekah bumi apabila hujan banyak orang-orang yang masuk ke dalam sela-sela akar pohon bulu itu .Tapi bulu itu sekarang sudah tidak ada dan yang tersisa hanya pohon beringin yang sangat besar.Dari bawah akar pohon beringin ini keluar air yang tidak kering di masa kemarau sekalipun.

Di Belik Gowok ada sesaji khusus yang harus dibawa oleh para peziarah apabila akan melakukan ritual.Sesaji itu berupa ayam ingkung matang yang harus ditinggal di tempast itu.Tujuannya untuk memberi persembahan kepada sang ular agar tidak marah dan mengganggu anak keturunan dari Dewi Siti Sendari .Lokasi punden ini berjarak sekitar 800 meter dari pemukiman  warga dan terpisah oleh dua kali kecil.Menurut kepercayaan masyarakat Bantrung masih melaksanakan perintah dari Dewi Siti Sendari untuk menanggap wayang dan menyembelih kerbau pada saat sedekah bumi.

 

SYEH JONDANG - DESA JONDANG KECAMATAN KEDUNG

  • Saturday, 29 April 2017 11:33
  • Written by

Syeh Jondang adalah salah satu tokoh besar penyebar agama Islam di daerah Kedung dan sekitarnya. Bersama pengikut dan murid-muridnya, Syeh Jondang begitu gigih mengajarkan syareat Islam dan menegakkan panji-panji kebesaran agama Islam di Desa Jondang, dan di desa-desa lain disekitar kecamatan Kedung. Syeh Jondang wafat pada pertengahan abad ke-12 tepatnya pada tahun 1300 M. Menurut informan, jasad beliau dimakamkan dikomplek pemakaman umum desa Jondang, kecamatan Kedung.

Syeh Jondang adalah putra dari Roro Kemuning atau Roro Kuning yang berasal dari Demak. Setelah menginjak usia remaja beliau melakukan pengembaraan dan berguru serta mendalami ilmu agama dengan Kanjeng Sunan Muria. Syeh Jondang tergolong murid yang cerdas karena dalam waktu yang relatif singkat Syeh Jondang dapat mendalami dan menguasai ilmu agama dan ilmu oleh kanuragan dengan sangat baik. Karena dinilai sudah cukup memiliki pengetahuan tentang agama dan keahlian ilmu kanuragan, maka kanjeng Sunan Muria memerintahkan Syeh Jondang untuk menyebarkan agama islam di daerah pesisir Pulau Jawa dan kebetulan yang menjadi tempat persinggahanya adalah Desa Jondang.

Konon ceritanya Syeh Jondang melakukan perjalanan dengan mengendarai macan putih dengan ditemani beberapa orang pengikut. Diantaranya yaitu Kyai Sumo dan Nyai Sari. Ditengah Perjalanan ketika melintasi suatu pemukiman yang masyarakat masih jauh dari akidah Islam, maka Syeh Jondang memerintahkan kepada dua orang pengikutnya yang bernama Pak Simo dan Mbok Sari untuk tinggal didaerah itu dan menyiarkan agama Islam. Daerah tempat Pak Simo dan Mbok Sari mensyiarkan agama islam tersebut dikemudian hari bernama Desa Sumosari. Setelah beristirahat sebentar di Desa Sumosari kemudian Syeh Jondang dan pengikutnya yang lain melanjutkan perjalananya, dan sampailah mereka di Desa Jondang

Sesampainya Syeh Jondang di Desa Jondang, beliau bersama pengikutnya langsung mendirikan sebuah padepokan kecil sebagai pusat penyebaran agama Islam. Pada awal kedatanganya, masyarakat di Desa Jondang masih mempercayai hal-hal yang bersifat animisme dan dinamisme serta jauh dari akidah Islam. Secara perlahan tapi pasti Syeh Jondang dan pengikutnya mengajarkan agama Islam kepada masyarakat Desa Jondang. Buah dari kerja keras Syeh Jondang dan pengikutnya adalah hampir semua masyarakat di Desa Jondang telah menganut agama Islam. Nama asli Syeh Jondang tidak diketahui, karena tidak ada sumber yang menyebutkan mengenai nama asli Syeh Jondang.

Benda-benda peninggalan Syeh Jondang yang sampai saat ini masih bisa kita lihat adalah: Watu giling yang diyakini oleh masyarakat Desa Jondang sebagai tempat persujudan Syeh Jondang. Peninggalan Syeh Jondang yang lain adalah Gumuk Sikeranjang. Gumuk Sikeranjang merupakan gundukan tanah yang berwarna coklat yang berasal dari tempat menaruh keranjang milik Syeh Jondang ketika beliau sedang melakukan tirakat. Sebagai seorang Waliullah, Syeh Jondang sering melakukan Tirakat dan menyepi untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Yang menjadi tempat Tirakat Syeh Jondang adalah kawasan Putat atau bilik Putat yang terletak di Desa Jondang. Ada satu hal yang menarik yang dipercaya masyarakat Desa Jondang sampai sekarang. Hal itu adalah tidak ada yang berani memakamkan jenazah disekeliling makam Syeh Jondang sampai radius lima puluh meter dari makam Syeh Jondang.  Begitulah cara masyarakat Desa Jondang menghormati sesepuh Desanya. Pada tahun 1970 atas dana swadaya dari masyarakat diatas makam Syeh Jondang dibangun sebuah rumah keci. Pada tahun 1985 untuk pertama kalinya diadakan khaul diarea komplek makam Syeh Jondang atas prakarsa dai H. Abdurahman selaku Petinggi Desa Jondang ketika itu. Dan pada akhir 2001 dibangun pagar tembok yang menjadi batas antara komplek makam dengan pemukiman penduduk. Selain itu bentuk makam Syeh Jondang diperindah lagi.

 

 

 

MBAH SULIYONO – DESA BANTRUNG

  • Saturday, 29 April 2017 11:29
  • Written by

         Mbah Suliyono merupakan tokoh yang belum jelas asal usulnya. Menurut cerita masyarakat Bantrung bahwa sebenarnya dahulunya makam ini adalah makam yang tak bertuan atau tidak jelas ahli warisnya.Pada mulanya nisan makam dari Mbah Suliyono tidak terawat atau sudah lepas dari makamnya. Suatu ketika ada salah seorang warga yang mengambil bekas batu nisan dari Mbah Suliyono.Ketika sampai di rumah,bekas nisan itu dipakai untuk alas kaki di tempat wudhu.Ternyata orang yang memakai bekas batu nisan untuk alas kaki itu sakit berkepanjangan dan tidak sembuh-sembuh.Sudah banyak dana dihabiskan untuk berobat,tapi tidak ada kemajuan.

        Akhirnya dibawalah kepada salah seorang Kyai kampung. Kyai menyarankan agar keluarga mengembalikan batu nisan yang dipakai untuk landasan tempat wudhu ke tempat asalnya. Tanpa pikir panjang, anak orang yang sakit tadi langsung mengembalikan batu nisan itu ke tempat asalnya. Lama-kelamaan keadaan orang yang sakit itu membaik dan sehat walafiat. Setelah kejadian itu banyak warga yang berziarah ke makam Mbah Suliyono.

        Lama-kelamaan para peziarah yang datang bukan hanya warga desa setempat tetapi juga dari desa tetangga. Lucunya,sudah beberapa tahun lamanya para warga kampung dan peziarah tidak mengetahui nama dari makam yang diziarahi tersebut. Banyak peziarah yang membaca tahlil atau yasin di makam yang belum ada cungkupnya. Setelah sekian lama akhirnya ada seorang peziarah yang bermalam di situ dan berdoa mencari petunjuk siapa yang sebenarnya dimakamkan di situ. Orang itu mengatakan mendapat petunjuk dari Allah kalau sebenarnya yang dimakamkan di tempat itu bernama Mbah Suliyono, seorang Wali Allah. Batu nisan makam Mbah Suliyono terbuat dari batu karang yang sangat sulit ditemukan di makam manapun. Ciri makam Mbah Suliyono yang menggunakan batu karang, juga dapat ditemui pada nisan makam  Mbah Sasongko Desa Bawu. Bentuk dan batunya hampir sejaman. Setelah ada kepastian dari seorang Kyai tadi kalau yang dimakamkan itu adalah seorang Wali Allah, warga yang kebetulan rumahnya dekat dengan pemakaman itu membuatkan cungkup kecil. Beberapa bulan kemudian datang orang dari daerah Jepara yang bersedia membangun tempat ini asalkan semua tenaganya berasal dari warga sekitar. Syarat itupun diterima warga dengan gembira dan akhirnya berdirilah cungkup yang besar dan bagus. Setelah diselidiki, ternyata orang yang dari Jepara yang telah berbaik hati mau mendanai pembangunan itu ternyata dulu orang tersebut pernah berziarah ke makam itu dan bernazar apabila usahanya maju maka dia akan membangun cungkup Mbah Suliyono. Cungkup itu berdiri hingga sekarang.

         Makam Mbah Suliyono ini terdapat di pemakaman umum Desa Bantrung. Pemakaman ini terletak di tengah-tengah desa Bantrung. Lokasi pemakaman sangat gampang dicari karena terletak di pinggir jalan desa yang menghubungkan Bantrung dan Batealit. Pada setiap malam Jum’at banyak peziarah yang datang membaca yasin dan tahlil.Menurut warga desa setempat apabila memanjatkan doa kepada Allah dan dilantarkan pada Mbah Suliyono Insya Allah terkabul apa yang menjadi tujuan hidup atau mencari rizki. Ada juga yang mengambil tanah dari makam Mbah Suliyono  untuk penolak balak.

 

Mbah Beniah - Ds. Batealit Kec. Batealit

  • Saturday, 29 April 2017 11:15
  • Written by

          Di desa Batealit, kecamatan Batealit, ada dua makam yang dikeramatkan keberadaannya oleh masyarakat setempat. “Pertama“ adalah Makam Pundang Sari, yaitu makam dari Mbah Samino dan yang “Kedua” adalah makam Mbah Beniah yang terletak di RT 15/RW 3. Mbah Beniah adalah seorang keturunan bangsawan dari keraton Surakarta. Mbah Beniah bersama dengan suaminya, mbah Sukadar melakukan hijrah ke desa Batealit dengan tujuan untuk mengajarkan agama islam kepada masyarakat setempat. Sebagai seorang wanita, Mbah Beniah tergolong sebagai wanita yang tangguh dan pantang menyerah. Sekian tahun mengajarkan agama Islam di desa Batealit, hanya sedikit warga yang mau masuk dan memeluk agama Islam. Sepeninggal Mbah Beniah dan Mbah Sukadar, hanya beberapa warga yang mau menganut agama Islam sebagai agamanya. Mbah Beniah dan Mbah Sukadar dimakamkan secara berdampingan dan pada tahun 2001 atas dana swadaya dari warga, di atas makam Mbah Beniah dan Mbah Sukadar dibangun sebuah rumah kecil (Cungkup). Selanjutnya perjuangan Mbah Beniah dan Mbah Sukadar dalam mengajarkan agama Islam di desa Batealit dilanjutkan oleh murid-muridnya.

         Oleh masyarakat setempat makam Mbah Beniah dan Mbah Sukadar di khouli setiap hari Jum’at Legi. Pelaksanaannya satu bulan setelah khoul di makam Pandung Sari (Mbah Samino). Pada acara ini biasanya ada pengajian dan tahlil umum di makam Mbah Beniah dan Mbah Sukadar. Pada hari-hari biasa masyarakat juga banyak yang mengadakan acara manganan atau bancaan di makam Mbah Beniah ketika telah berhasil dalam tujuan hidupnya. Banyak pula orang dari luar kota yang berziarah ke makam ini.

        Kadang justru ada para peziarah yang membawa kambing dan disembelih di makam setelah itu daging kambing dibagikan pada warga kampung. Sesaji yang diminta oleh Mbah Beniah dan Mbah Sukadar adalah Tlempok. Tlempok ini adalah sejenis makanan yang berbahan dasar ketan dengan taburan dari parutan kelapa dan diberi sedikit garam. Selain tlempok, juga ada sesaji yang lain berupa ‘Blenyek’ yaitu makanan yang berbahan dasar ikan teri yang dikukus dan dibungkus dengan daun pisang.

        Makam dari Mbah Beniah berada di pinggir jalan raya Desa Batealit. Makam ini sudah tertata dengan rapi. Jalan masuk menuju makam sudah  dicor beton dengan kuat dan di depan dibangun gapura warna biru yang berdiri dengan gagah menandakan kalau makam itu mendapat perawatan yang memadai. Di belakang makam Mbah Beniah tumbuh pohon ‘gembilina’  raksasa. Itulah yang membedakan makam Mbah Beniah dan Mbah Sukadar dari makam-makam lainnya.

Maulana Mangun Sejati - Ds. Bugel Kec. Kedung

  • Saturday, 29 April 2017 11:08
  • Written by

      Maulana Mangun Sejati adalah salah seorang Waliullah yang berasal dari Arab. Beliau datang ke nusantara pada pertengahan abad ke-16. Begitu banyak halangan dan rintahan yang menghadang perjalanan beliau, namun Maulana Mangun Sejati tetap membulatkan tekat untuk melanjutkan perjalanannya hingga sampai di Desa Bugel. Sesampainya di Desa Bugel, Maulana Mangun Sejati dihadang oleh kawanan perampok yang berjumlah sekitar 10 orang yang ingin merampas barang bawaannya. Menghadapi hal itu, Maulana Mangun Sejati bersikeras untuk tetap mempertahankan barang miliknya dan di pihak lain para kawanan perampok berusaha merampas barang bawaan Maulana Mangun Sejati.

     Setelah bersitegang selama beberapa saat akhirnya perkelahian hebat pun tak dapat terhindarkan. Dengan bersenjatakan bongkahan kayu dan toya, kawanan perampok itu menyerang Maulana Mangun Sejati secara bersamaan , “Subhanallah” , atas seijin Allah bongkahan-bongkahan kayu dan toya tadi langsung patah menjadi kecil-kecil ketika mengenai atau menyentuh tubuh Maulana Mangun Sejati. Bagaikan tersambar petir di siang bolong, kawanam perampok itu tercengang melihat kesaktian dari Maulana Mangun Sejati. Akhirnya kawanan perampok menyerah pada Maulana Mangun Sejati dan selanjutnya mereka menjadi murid Maulana Mangun Sejati.

     Dari peristiwa diserangnya Maulana Mangun Sejati oleh kawanan perampok yang bersenjatakan bongkahan kayu dan toya tersebut,masyarakat desa Bugel meyakini bahwa latar belakang sejarah berdirinya Desa Bugel adalah seperti itu. Kata Bugel berasal dari bongkahan kayu yang patah-patah (tugel-tugel) secara rapi. Oleh masyarakat sekitar, Makam Maulana Mangun Sejati diperingati (khauli) setiap tanggal 27 Maulid. Seperti pada umumnya makam seorang syeh, banyak dikunjungi oleh para peziarah yang datang dari berbagai daerah. Menurut seorang musafir yang tinggal di Mushola dekat makam, mbah Dayat menuturkan bahwa yang datang berziarah tidak hanya orang dari daerah sekitar saja tetapi ada juga rombongan yang berasal dari Saudi Arabia. Mereka khusus datang dan berziarah ke Makam Syeh Maulana. Pada saat Khoul banyak para peziarah yang membawa kambing ataupun sapi yang disembelih di dekat makam Syeh Maulana untuk disedekahkan. Dalam kebiasaan masyarakat Bugel Kulon pada saat Khoul makanan yang dihidangkan tidak dimasak dirumah masing-masing namun dimasak di bawah pohon ingas di belakang makam Syeh Maulana.

      Hal ini disebabkan karena Makam Syeh Maulana agak jauh dari lingkungan masyarakat setempat.Makam Syeh Maulana ini dipercaya oleh masyarakat setempat membawa berkah bagi setiap orang yang mau berziarah . Keadaan ini juga dibenarkan oleh beberapa musyafir yang pernah tinggal di makam itu untuk bertafakur. Pada saat pengambilan data dan gambar ini pun ada sekitar 4 musafir yang tinggal sementara di makam tersebut.

     Dari keterangan yang diperoleh, Syeh Maulana Mangun Sejati dan Syeh Jondang sama - sama pernah berguru pada Sunan Muria. Menurut Mbah Dayat, kedua makam ini sama-sama dijaga oleh harimau yang berwarna putih. Pada hari-hari tertentu sang harimau akan keluar atau memberi pertanda kemunculannya pada para musyafir yang kurang ikhlas dalam melakukan atau berserah diri kepada Allah. Tetapi kemunculan harimau putih itu juga bisa saja memberikan peringatan kepada masyarakatnya Desa Bugel agar berhati-hati karena akan ada bahaya yang menyerang desa Bugel, entah itu pagebluk atau bencana.

      Karomah yang dipancarkan dari makam Syeh Maulana juga diakui oleh salah seorang musyafir yang tidak mau disebutkan namanya. Dia mengatakan bahwa apabila dilihat dengan menggunakan mata batin di sekeliling makam Syeh ini memancarkan sinar yang sangat terang. Banyak sekali para musyafir yang berzikir di makam ini pada malam hari dengan tujuan mendapatkan karomah dari Syeh Maulana Mangun Sejati.

Loji Gunung

  • Saturday, 29 April 2017 10:59
  • Written by

LOJI GUNUNG


Loji gunung merupakan nama sebuah komplek pemakaman yang dibangun oleh pemerintah belanda, pembuatan komplek pemakaman loji gunung ini khusus diperuntukan bagi orang-orang Belanda yang meninggal dijawa dan sekitarnya. Dahulu side keliling makam dibangun tembok pembatas yang tinggi dan tebal,sehingga bentuknya persis menyerupai benteng pertahanan belanda. Mungkin karena dilihat seperti loji atau dalam bahasa jawa sering diartikan menara atau bangunan yang tinggi, besar dan kokoh, sehingga masyarakat sekitar menyambut komplek pemakaman itu dengan dengan sebutan “ loji gunung “.


Dahulu luas lahan yang digunakan  untuk pembuatan loji gunung ini sangat luas, luasnya diperkirakan sampai 1 Ha. Namun seiring perkembangan  zaman, secara lambat luas komplek pemakan ini dari tahun ketahun terus berkurang. Di  sebelah selatan dibawah loji gunung ini perumahan warga padat. Komplek pemakaman loji gunung oleh masyarakat sekitar dimanfaatkan sebagai tempat pemakan umum, disebelah barat komplek pemakan utara loji gunung. Pemerintah Kabupaten Jepara membangun sebuah monument dengan nama VOOR JEPARA pembangunan yang terakhir yang dilakukan oleh PEMKAB Jepara disekitar komplek pemakaman loji gunung adalah pembangunan sebuah taman buah. Yang sekarang masih tersisa dari keberadaan loji gunung adalah duah buah makam tua yang dikelilingi dua makam itu sekarang sudah dibangun tembok pembatas dengan ketinggian kurang lebih 2 m. Masyarakat sekitar menyakini  bahwa dua makam yang masih tersisa dari komplek pemakaman loji gunung adalah makam dari kapten tTuck dan orang kepercayaanya.


Menyinggung sedikit mengenai siapa itu kapten Tuck?, dia bernama asli Kapten Francois Tack( Perwira VOC senior yang ikut berjasa dalam penumpasan. Trunajaya dan Sultan Ageng Tirtayasa). Diceritakan bahwa pada bulan Februari 1686 kapten tuck ditugaskan oleh pemerintah berangkat ke Kartusora dengan tujuan untuk menangkap Suropati. Pertempuran pun meletus dihalaman keraton. Pasuakn VOC hancur sebanyak 75 orang Belanda tewas. Kapten Tack sendiri tewas ditangan pangeran Puger (adik Amangkurat II) yang menyamar sebagai prajurit Suropati. Itulah sekelumit kisah mengenai siapa itu kapten tuck. Mengenai kepercayaan masyarakat Jepara yang mengagap bahwa dua makam yang ada dibekas makam itu adalah makam dari kapten Tack peneliti belum menemukan titik temu untuk mengatakan bahwa makam itu merupakan makam kapten tack. Tetapi ada cerita lain yang agak berseberangan dengan pendapat pertama yang mengatakan jenazah kapten Tack ketika terbenuh, itu jenazahnya dibawa ke Batavia dan dimakamkan disana. Jangan berharap sukses dengan cara instan karena kesuksesan butuh perjuangan dan yg lebih sulit adalah mempertahankannya.

Mbah Suto Jiwo - Ds. Bondo

  • Friday, 21 April 2017 08:50
  • Written by

Petilasan Eyang Sutojiwo terletak didukuh Ngelakmulyo Desa Bondo Kecamatan bangsri. Eyang Sutojiwo adalah anak seorang bangsawan dari mataram.Sekitar abad ke-16 beliau bersama adiknya meninggalkan kerajaan mataram untuk hijrah ke wilayah jepara, yang merupakan salah satu daerah  secara geografis terletak dipesisir utara pulau jawa.Tujuannya adalah mencari keterangan tentang maksud kedatangan orang-orang Portugis di mandalika. Kedua putra bangsawan ini memilih berpisah dan melakukan pengintaian secara sendiri-sendiri.

Sutojiwo berjalan ke arah utara hampir mendekati laut.Dalam perjalanannya ,tiba-tiba ia berhenti dibawah pohon ketapang dan berteduh sejenak karena hari sudah panas.Pada saat mengantuk terdengar suara burung perkutut berkicau dengan merdu.Sutojiwo kemudian berdiri dan mencari darimana suara itu berasal.Ternyata burung perkutut itu berwarna putih bersih.Melihat burung perkutut itu Sutojiwo terpikat dan bertekad untuk mendapatkan dan memiliki burung tersebut.Tanpa berfikir panjang ia memanjat pohon ketapang itu.Ketika tangan sutojiwo tinggal satu jengkal,tiba-tiba angin bertiup sangat kencang sehingga burung tersebut terbang.Perkutut tersebut terbang kearah rerimbunan dan hilang didahan pohon yang besar.Dia sangat menginginkan perkutut itu sampai berhari-hari dia diam di tempat tersebut.Dalam penantiannya ketika bulan purnama tiba-tiba ia didatangi seorang laki-laki berjubah hitam.Sutojiwo bertanya kepada laki-laki tua yang berpakaian hitam dihadapannya.Orang itu menjawab bahwa dia adalah Kyai Ireng.Pada awalnya Sutojiwo tidak berterus terang pada Kyai Ireng tentang burung perkutut yang menjadi buruannya.Tapi akhirnya ia bercerita dan gayung pun bersambut.Akhirnya Kyai ireng mengatakan bahwa burung perkutut putih yang diinginkannya adalah burung piaraan Kyai Ireng.Sutojiwo boleh memilahara burung perkutut putih itu asalkan mau memperistri anak dari Kyai Ireng yang sangat buruk rupa.Sesaat Sutojiwo terdiam,namun akhirnya ia bersedia memperistri anak dari Kyai Ireng.Setelah berjalan beberapa saat sampailah mereka di rumah kecil yang terletak ditengah sawah.Kyai ireng lalu menyuruh Sutojiwo untuk menemui calon istrinya.Sutojiwo bingung karena setelah masuk ternyata tidak ada manusia dan anehnya diatas tempat tidur terdapat burung perkutut putih yang disukainya.Ketika burung itu dipegang,tiba-tiba petir dan hujan menyambar dan asap tebal menyelimuti tubuh burung itu dalam sekejap burung itu berubah menjadi seorang yang sangat cantik dan putih.”Itulah Dewi Kukilowati istrimu”,kata Kyai Ireng.Sutojiwo kemudian diberi jubah yang berwarna hitam sama dengan yang dipakai Kyai Ireng.Saat jubah hitam dipakai Sutojiwo tidak kelihatan wujudnya.Setelah itu Kyai ireng pun menghilang.Biasanya masyarakat Desa Bondo melakukan sedekah  bumi atau khoul pada hari senin pahing pada bulan apit.


The historical sites of Grandfather Sutojiwo located in Ngelakmulyo hamlet, Bondo Village, Bangsri District. Grandfather Sutojiwo was the son of a nobleman from Mataram. Around the 16th Century, he and his brother leaving Mataram kingdom to move to Jepara, which is one of the area geographically located in the north of Java Island. The goal is to find information about the purpose of the arrival of the Portuguese in Mandalika. Two sons of a nobleman chose to split and do reconnaissance personally.

Sutojiwo walking to the northapproaching the sea. In his journey, suddenly he stopped under the Ketapang tree and shelter for a moment because it was hot. When he sleepy, he heard melodious sound of doves bird. Then, Sutojiwo stands and look for where the sound was coming from. Evidently, the color of the dove still pure white. Seeing the bird, Sutojiwo hooked and determined to get and has the bird. Without think twice, he climbs that Ketapang tree. When Sutojiwo almost catch the bird, suddenly the wind was blowing very hard so that the birds fly. He wanted it dove until he lived in many days in that place. In his anticipation, when full moon, suddenly he was approached by a man in black robes. Sutojiwo asked to the old men dressed in black in front of himself, then the old man answered that he is KyaiIreng. At the first, Sutojiwo not frankly to KyaiIreng about the dove that he hurrying, but, at the end he told about the dove to KyaiIreng. KyaiIreng said that the white dove is KyaiIreng’s pet. Sutojiwo can maintain this bird, but he must marry KyaiIreng’s daughter who is very ugly. Sutojiwo silent for a moment, but eventually he was willing to marry KyaiIreng’s daughter. After walking a while, they came to the small house located in the middle of rice field. KyaiIreng told Sutojiwo to meet his future wife. Sutojiwoconfused, because after he entering the house, there is no human and it is oddly because there are only a dove that he likes on the bed. When he held the bird, suddenly lightning and rain strike and thick smoke enveloped the body of the bird. For a moment, this bird changed into a pretty and white girl. “That is Dew Kukilowati, your wife”, said KyaiIreng. Then Sutojiwo given black robes same with KyaiIreng’s worn.  When the black robes worn, Sutojiwo looks invisible. After thatKyaiIreng disappeared. People in Bondo village usually do sedekahbumi(traditional thanksgiving and offering) or Haul on Monday Pahing (Java Calendar) on the bulanapit (a special month). 

 

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish