RATU SHIMA

  • Posted on:  Saturday, 01 October 2016 14:42
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)

Rangkuman dari buku "Legenda Jepara 2014", Penerbit Hadi Priyanto

Menurut catatan sejarah, Dinasti Tang tahun 618 – 906 Masehi di Cho-po atau Pulau Jawa terdapat kerajaan yang bernama Ho-Ling (Kalingga). Ratu shima menjadi ratu sejak tahun 674 Masehi.
Ibu kota kerajaan ini dikelilingi dengan benteng yang terbuat dari kayu atas perintah ratu Hsi-mo atau Shima. Ia memimpin dengan sangat keras, tegas, adil dan bijaksana sehingga kerajaan sangat aman dan tentram. Tidak ada yag berbuat kejahatan, sebab siapapun yang melakukan pelanggaran ia akan mendapatkan hukuman yang berat. Ratu Shima dibantu 28 Orang menteri sebagai pengusaha wilayah dan 4 orang menteri utama yang berkedudukan di ibukota kerajaan.

Berdasarkan catatan I-Tsing pada tahun 664-665 Masehi ada seorang pendeta cina bernama Hwi-Ning Berkunjung ke Ho-Ling. Kerajaan ini menjadi salah satu pusat pengetahuan budha hinayana di jawa. Ia berada di kerajaan tersebut selama 3 tahun hingga 667 M untuk menerjemahkan kitab suci budha Hinayana ke dalam bahasa cina. dengan dibantu pendeta bernama Jnanabhadra. Kitab terjemahan ini antara lain memuat cerita tentang nirwana. Daerah kekuasaannya meliputi sebagian pantai utara Jawa dimulai dari Jepara hingga Pekalongan.
Penduduk kerajaan Ho-Ling bermata pencaharian penduduk kalingga adalah bertani, menambang, berdagang, nelayan dan berburu. Mereka juga sudah mengenal cara membuat perahu, pandai menulis dan mengenal ilmu perbintangan. Ratu Shima mulai mengembangkan kalingga sebagai salah satu bandar perdagangan yang banyak dikunjungi saudagar, baik dari Asia maupun Eropa. Kalingga telah menjadi salah satu pintu masuk para pendatang.
Konon ketika hamil 7 bulan, Ratu Shima ngidam ingin makan buah kecapi yang rasanya kecut. Sebenarnya banyak abdi yang ingin mencarikan, tetapi ratu Shima menolak karena ingin langsung memakan buah kecapi yang segar dan dipetik sendiri dari pohon. Akhirnya rombongan Ratu Shima berangkat menuju arah barat. Namun sampai tengah hari buah kecapi yang diinginkan tidak juga dijumpai. Ketika rombongan sampai di suatu wilayah yang banyak ditumbuhi pohon rembulung mereka beristirahat. Daerah tempat Ratu Shima beristirahat ini kelak bernama desa Bulungan. Setelah sejenak beristirahat, akhirnya rombongan berjalan lagi kearah selatan. Saat itu Ratu Shima melihat banyak melihat banyak pohon kecapi yang sedang berbuah. Karena senang Ratu Shima berteriak Kecapi.... kecapi.... kecapi....
Konon kelak wilayah ini nantinya bernama Desa Kecapi.
Menurut cerita parahyangan, Ratu Shima memiliki anak yang bernama parwati, yang menikah dengan Mandiminyak, putra mahkota kerajaan galuh. Mandiminyak kemudian menjadi raja kedua dari kerajaan Galuh. Dari pernikahannya dikaruniai anak bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga kerajaan Galuh bernama Brantasenawa.
Mereka memiliki anak bernama sanjaya yang kemudian menjadi raja kerajaan sunda dan galuh.
Konon setelah ratu shimameninggal tahun 732 Masehi, Sanjaya menggantikan buyutnya menjadi raja di kerajaan kalingga utara yang kemudian disebut bumi mataram dan kemudian mendirikan dinasti atau wangsa sanjaya di mataram kuno. Pada akhirnya kekuasaan di sunda diserahkan kepada putranya yang bernama tamperan barmawijaya . kemudian raja sanjaya menikah lagi dengan sudiwara, putri dewasinga, raja kalingga selatan atau bumi sembara dan memiliki putra bernama Rakai Penangkaran.
Diperkirakan kerajaan kalingga yang berdiri sejak abad ke7 ini berada di Jepara hingga abad ke X. Setelah itu pusat kerajaan pindah ke kawasan pulau jawa sebelah selatan dan kemudian bergeser ke daerah timur.
Penemuan benda bersejarah oleh Rabinah tahun 1961 di dukuh drojo, Desa Tulakan berupa atribut dan perhiasan seorang Ratu yang terbuat dari emas, perak, perunggu dan monel diperkirakan berasal jaman ratu Shima. Penemuan Rabinah di dinding sungai yang beratnya mencapai 28 Kg lebih ini sangat menggemparkan. Benda yang ditemukan Rabinah di sebuah tempat seperti dandang besar ini antara lain terdiri dari topeng, perhiasan cincin,stempel,gelang, penutup dada, keropak, kendi, dan tempat perhiasan. Juga jenis-jenis perhiasan bagi bangsawan wanita lainnya. Ada yang mengatakan bahwa barang-barang tsb adalah peninggalan ratu kalinyamat yang dititipkan kepada ki leseh dan istrinya sebelum muali bertapa di tanah wangi.
Keberadaan Candi Angin serta Candi bubrah di desa tempur, kecamatan keling juga diyakini oleh sebagian masyarakat merupakan bukti bahwa kerajaan kalingga berada di sekitar keling, Jepara.
Jejak kerajaan hindu dan budha yang banyak tersebar di sekitar wilayah Jepara bagian utara mulai mlonggo, bangsri, donorojo juga merupakan bukti bahwa pada masa itu di kawasan ini telah berkembang sebuah kebudayaan.
Bahkan di wilayah ini banyak terdapat peribadatan umat hindu dan budha termasuk juga pemeluk agamanya. Hanya memang para ahli memang belum sepakat tentang lokasi kerajaan kalingga secara tepat. Sebab berdasarkan cerita tutur yang berkembang di daerah lain, Ratu Shima juga dikenal di daerah Kendal dan Purbalingga.

Read 452 times Last modified on Tuesday, 07 February 2017 11:18

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/ticjepar/public_html/modules/mod_wsfbcom/mod_wsfbcom.php on line 18

KALENDER EVENT

June 2017
S M T W T F S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30