RATU KALINYAMAT

  • Posted on:  Friday, 30 September 2016 13:06
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)

Rangkuman dari buku “Legenda Jepara 2014", Penerbit Hadi Priyanto

Ratu kalinyamat adalah putri Sultan Trenggono cucu dari Raden Patah, sultan demak yang pertama. Nama aslinya masih menjadi perdebatan, ada yang menyebutnya Ratu Arya Jepara, Ratu Retno Kencana dan Raden Ayu Wuryani. Ia dikenal sebagai putri sultan yang cantik pintar dan berani. Ia memiliki ilmu kanuragan yang tinggi.Waktu ia masih gadis dipercaya menjadi Adipati Jepara yang di daerah kekuasaannya meliputi  Jepara, Kudus, Pati, Rembang dan Blora. Kerajaan konon ada di Kriyan. Ada yng menyebut kerajaan di Mantingan.

Ratu Kalinyamat mengembangkan jepara menjadi wilayah yang maju bukan saja nampak pada kesejahteraan pada warganya, tetapi berhasil dikembangkan menjadi bandar perdagangan. Ia kemudian menikah dengan “Toyib” yang kemudian bergelar Sultan Hadirin. Ada beberapa versi tentang Toyib. Ada yang menyebut dia putra “Sultan Aceh Ibrahim” yang bergelar Sultan Mukhayat Syah. Pertemuan dengan Ratu Kalinyamat waktu itu Toyib diutus ayahnya untuk belajar ilmu agama dengan pemerintahan di Kasultanan Demak. Ia pemuda tampan bijaksana memiliki ilmu agama yang luas dan sangat berani. Ia kemudian dijodohkan dengan Ratu Kalinyamat dan bergelar “Pangeran Hadirin”.

Ada versi lain tentang Toyib. Ia adalah putra Sultan Aceh. Karena memiliki kemampuan yang lebih dan berkepribadian yang baik, ia diangkat ayahnya menjadi Sultan Aceh. Namun kakaknya yang bernama “Takyim” tidak menyetujui sehingga terjadi perselisihan diantara mereka. Walaupun ayahnya bersih keras mengangkat menjadi Sultan, namun ia tidak bersedia. Karena perselisihan tersebut pangeran Toyib meninggalkan negerinya dan mengembara ke negeri Cina. Disana ia diangkat anak oleh seorang punggawa Kerajaan Cina. karena lafal bahasa Cina sulit menyebut nama Toyib, namanya kemudian dikenal dengan “Toyat”. Kurang lebih 5 tahun Toyib berada di Cina. Ia kemudian menuju ke pulau Jawa dan bekerja di istana Ratu menjadi tukang kebun.

Ada versi lain yang menceritakan asal-usul Pangeran Hadirin sebelumnya bernama “Juragan Wintang”. Ia seorang pedagang dari cina datang ke pulau  Jawa dengan 3 buah kapal yang penuh dengan berbagai dagangan dari Cina. Sampai di Ujung Lor, semua kapal tenggelam dikarenakan dihantam badai. Semua penumpang kapal meninggal termasuk istrinya, hanya Juragan Wintang yang selamat. Ia kemudian bertemu dengan Sunan Kudus.

Setelah masuk islam dan menjadi murid Sunan Kudus, kemudian diberi nama “Rakit”. Ia diperintahkan untuk bertempat tinggal di pinggir Sungai Kalinyamat. Lama - kelamaan tempat ini menjadi desa, dan dinamakan Kalinyamat oleh Sunan Kudus. Ia kemudian mulai berdagang dan dikenal  sebagai saudagar yang sangat kaya, juga memiliki galangan kapal dan menempatkan diri dibawah kekuasaan Sultan Trenggono dari Demak. Kemudian ia dinikahkan dengan putri Sultan Trenggono yaitu “Retno Kencono”.

Setelah pernikahan dengan Sultan Hadirin, kekuasaan adipati diserahkan oleh Ratu Kalinyamat kepada suaminya. Kemudian bersama-sama mengembangkan dan membangun Jepara.

Sayangnya, Pernikahan  Ratu Kalinyamat dengan Sultan Hadlirin tidak berlangsung lama. Sultan Hadirin dibunuh oleh orang suruhan Adipati Arya Penangsang pada tahun 1549.

Ada cerita rakyat yang mengisahkan pembunuhan pangeran Hadirin terjadi seusai upacara pemakaman Sunan Prawata. Kakak Ratu Kalinyamat tewas ditangan Arya Penangsang yang berambisi merebut tahta Kasultanan Demak. Mendengar berita tentang pembunuhan kakaknya, Ratu kalinyamat bersama suaminya menghadap Sunan Kudus untuk memohon keadilan. Setelah menghadap, Ratu Kalinyamat menilai Sunan Kudus memihak kepada Arya Penangsang. Sunan kudus mengatakan, bahwa Arya Penangsang melakukan pembunuhan sebagai pembalasan atas pembunuhan yang telah dilakukan Sunan Prawata terhadap ayah Arya Penangsang yaitu “Pangeran Sekar Seda Lepen”.

Mendengar jawaban itu, Ratu Kalinyamat dan suaminya segera pulang. Ketika ditengah perjalanan pulang ke Jepara, mereka di cegat oleh orang - orang Arya Penangsang, sehingga terjadi perkelahian yang mengakibatkan Pangeran Hadirin tewas. Setelah peristiwa pembantaian kakak kandung serta suaminya, Ratu Kalinyamat bersumpah akan menebus sakit hatinya. Ratu kalinyamat sangat sedih kehilangan suami dan kakaknya. Ia tidak pulang ke istananya, tetapi bersama dengan dayang-dayangnya bertapa di Bukit Gelang atau Gilang Mantingan, dimana tempat suaminya  dikuburkan. Ia kemudian memindah tempat bertapanya ke bukit Danarasa letaknya menghadap kelaut dan pindah lagi ke Danaraja.

Meninggalnya Sultan Hadlirin dan Sultan Prawoto membuat kepedihan mendalam dari Ratu Kalinyamat sehingga dia bersumpah mengadakan “ Tapa Ngrawe ” digunung Danarasa. Ada 2 versi penafsiran Tapa Ngrawe. Pertama bertapa tanpa menggunakan pakaian dan kedua bertapa melepaskan  semua atribut kerajaan. Sumpah ini dilakukan sebagai bentuk protes dan meminta keadilan, dari tuhan atas meninggalnya kedua orang yang sangat dicintainya. Ia tidak akan berhenti bertapa, sebelum keramas darah  Arya Penangsang dan menggunakan rambut Arya Penangsang untuk membersihkan kakinya.

Selain itu Ratu Kalinyamat juga bersayembara, barang siapa dapat mengalahkan Arya Penangsang kalau perempuan akan di akui sebagai saudara “Siniro Wedi” bila laki-laki akan mendapatkan kedua putri angkatnya bernama RR. Semangkin dan RR. Ayu prihatin untuk diangkat menjadi istrinya. Tindakan Ratu Kalinyamat membingungkan Sultan Hadiwijaya. Ia meminta Ratu Kalinyamat pulang ke keraton, ia menolak sebelum membalaskan kematian dari kakak dan suaminya.

Sultan Hadiwijaya berjanji akan berusaha untuk mewujudkan keinginan sang Ratu. Sultan Hadiwijaya mengadakan pertemuan, yang diikuti Ki Panjiwa, Ki pamanahan dan Ki Juru Mertani. Akhirnya Sultan Hadiwijaya memberikan pengumuman, barang siapa yang mengalahkan Arya Penangsang diberi hadiah “Bumi Pati atau Alas Mentaok”. Akhirnya Sutawijaya menyanggupi dan menjadi Senopati perang.

Menghadapi Arya Penangsang harus diatur strategi untuk menantang  Arya Penangsang, melalui surat yang disampaikan juru pencari rumput dengan memotong telinganya. Telinga tersebut kemudian diberi surat tantangan. Tukang pencari rumput kuda Arya Penangsang dengan mengerang-ngerang kesakitan mengadukan perihal surat tantangan ini bersama Patih Mataun.  Karna mendapatkan tantangan, Arya Penangsang tanpa berpikir panjang ia berlari dan menaiki kuda Gagak Rimang dengan membawa tombak saktinya.

Sutawijaya menunggu diseberang bengawan sore caket beserta 200 prajurit. Gagak rimang adalah kuda Jantan maka Sutawijaya menaiki kuda betina warna putih bersih. Akhirnya kuda Gagak Rimang menjadi binal dan naik birahinya sehingga mengejar kuda Sutawijaya. Karena lengah, Sutawijaya melemparkan tombak Kyai Pleret ke arah perut Arya Penangsang. Arya Penangsang sakti mandraguna terluka, ususnya terburai keluar. Ia mengalungkan ususnya ke gagang kerisnya bernama Brongot Setan Kober dan terus mengejar Sutawijaya. Arya semakin tidak terkontrol, merasa diledek dan ditantang. Akhirnya Keris Brongot Setan Kober dihunus dari warangkanya dan mengenai ususnya sendiri hingga akhirnya Arya Penangsang tewas.

Kematian Arya Penangsang disampaikan oleh Sultan Hadiwijaya kepada Ratu Kalinyamat. Sejak itu Ratu Kalinyamat mengakhiri pertapaannya dan berkemas kembali ke istana kerajaan. Ia dinobatkan menjadi Adipati Jepara dengan gelar Ratu Kalinyamat dengan candra sengkala "Trus Karya Tataning Bumi” tahun 1549.

Pada pemerintahan Ratu Kalinyamat, kerajaan mengalami kemajuan yang pesat di berbagai bidang antara lain : agama islam, ekonomi, perdagangan, sosial dan kebudayaan terutama seni ukir, pertahanan dan keamanan. Dalam menjalankan pemerintahanya, dipusatkan di Kaliyamatan. Untuk pesanggrahan dan pertapaan di desa Mantingan berdekatan dengan makam Sultan Hadirin.

Agar pesanggrahan dapat dijadikan tempat peristirahatan, dilengkapi dengan bangunan masjid. Masjid ini diberi beberapa ornamen yang dibuat oleh “Cie Wie Gwan”. Pembangunan masjid Mantingan ditandai candra sengkala, berbunyi ”Rupa Brahmana Warna Sari” tahun 1748.

Ratu kalinyamat dikenal mempunyai jiwa patriotisme anti penjajahan. Hal ini dibuktikan dengan pengiriman armada perang ke malaka guna menggempur portugis tahun 1552 dan 1574. Orang Portugis menyebut sang Ratu sebagai “De Kranige Dame” artinya “Wanita yang gagah berani”. Seorang penulis berbangsa Portugis, De Coute dalam bukunya menyebut Ratu Kalinyamat sebagai Rainha De Japara, Senhora Paderosa e Rica artinya Ratu Jepara seorang wanita yang sangat kaya dan berkuasa.

Serangan sang Ratu melibatkan 40 buah kapal yang berisikan kurang lebih 5.000 orang prajurit. Namun serangan ini gagal. Sebab ketika prajurit Kalinyamat melakukan serangan darat dalam upaya mengepung benteng pertahanan portugis di Malaka, tentara Portugis dengan bersenjata lengkap berhasil mematahkan kepungan tentara Ratu Kalinyamat. Semangat patriotisme sang Ratu tidak pernah luntur menghadapi penjajah bangsa Portugis, yang di abad 15 itu sedang dalam puncak kejayaan dan di akui sebagai bangsa pemberani di dunia.

24 tahun kemudian atau tepatnya Oktober1574, sang Ratu Kalinyamat mengirimkan armada militernya yang lebih besar ke Malaka. Ekspedisi militer kedua melibatkan 300 buah kapal di antaranya 80 buah kapal jung besar berawak 15.000 orang prajurit pilihan. Pengirim armada kedua ini dipimpin oleh panglima “Quilimo”, Sebutan dari orang Portugis. Ekpedisi kedua ini yang berlangsung berbulan-bulan tentara Kalinyamat tidak berhasil mengusir Portugis dari Malaka.

Tindakan Ratu Kalinyamat yang gagah berani ini telah membuat Portugis takut dan jera berhadapan dengan Raja Jepara. Ini terbukti dengan bebasnya dipulau jawa dari penjajahan portugis di abad 16. Sebagai peninggalan sejarah perang besar antara Jepara dan Malaka, sampai sekarang masih terdapat dikomplek makam yang disebut makam tentara jawa di Malaka. Akhirnya Ratu Kalinyamat wafat pada tahun 1579 dan dimakamkan di Desa Mantingan Jepara, di sebelah makam suaminya.

Read 531 times Last modified on Tuesday, 07 February 2017 11:18

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/ticjepar/public_html/modules/mod_wsfbcom/mod_wsfbcom.php on line 18

KALENDER EVENT

August 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31