SENTRA TENUN TROSO

  • Posted on:  Thursday, 20 April 2017 11:15
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)

Troso adalah nama salah satu desa yang terdapat di kecamatan Pecangaan Kabupaten Jepara. Di Desa inilah tempat komunitas pengrajin tenun ikat troso berada. Sebenarnya Tenun Troso adalah teknik tenun gedok dan kemudian dalamkurun waktu yang cukup panjang, berkembang menjadi tenun ikat.Sebenarnya Tenun Troso adalah teknik tenun gedok dan kemudian dalam kurun waktu yang cukup panjang, berkembang menjadi tenun ikat, Namunmasyarakat Kabupaten Jepara & sekitarnya lebih mengenal dengan sebutan “Tenun Troso”.

 

 

 

    

 

Kerajinan tenun ini tumbuh dan berkembang sejak jaman Belanda dan terus dilestarikankan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, yang saat ini sudah pada generasi yang kelima.Terdapat 2 (dua) motif tenun hasil karya cipta komunitas Desa Troso, yaitu :
– Motif/pola Cemara (pohon cemara)
– Motif/pola Lompong (daun Tales)

Tenun motif cemara dan lompong adalah jenis motif yang ditorehkan pada kain sarung. Dengan kain sarung tersebut Desa -Troso menjadi dikenal oleh khalayak ramai (terkenal). Namun seiring dengan perjalanan waktu, motif tenun cemara & lompong sudah jarang dibuat oleh pengrajin, yang dikarenakan tidak adanya permintaan pasar Padahal kala itu kain tenun yang bermotifkan lompong dan cemara pernah mengalami jaman keemasan. Namun jaman keemasan tersebut telah sirna ditelan waktu yang disebabkan oleh beberapa persoalan yang sangat komplek, diantaranya adalah : Sulitnya medapatkan bahan baku dengan jumlah banyak dan yang konsisten spesifikasinya. Suhu Politik saat itu kurang kondusif yang dikarenakan terjadinya perang saudara. (tragedi G 30 S/ PKI)
Keinginan Pemerintah Daerah Jepara untuk mengedepankan kerajinannya selain meubel ukir, diantaranya adalah tenun troso. Salah satu upaya Pemerintah Daerah adalah membantu penyerapan pasar hasil kerajinan tenun troso yang berupa kewajiban kepada jajaran Pemerintah Daerah untuk menggunakan pakaian seragam tenun ikat yang dibuat oleh pengrajin Desa Troso. Seragam tersebut wajib dikenakan pada hari yang telah ditentukan pula. Kewajiban tersebut adalah bentuk keseriusan Pemerintah Daerah Jepara dalam melestarikan dan melindungi asset kekayaan budaya daerah yang berupa pengetahuan tradisional dan upaya Pemerintah Daerah Jepara dalam mewujudkan keinginannya untuk menggali potensi daerah serta mengedepankan industri kerajinan selain meubel ukir, untuk dijadikan produk unggulan daerah Kabupaten Jepara. Dengan kewajiban memakai tenun ikat untuk kalangan pegawai Pemerintah Daerah tersebut, pengrajin mulai bergairah kembali untuk membuat (produksi) tenun ikat yang selama beberapa kurun waktu ini mengalami kelesuan pasar.

Produk tenun ikat yang banyak diproduksi oleh pengrajin adalah kain jok meubel, gorden, pakaian seragam & pakaian adat Kabupaten Jepara serta beberapa jenis motif kain tenun ikat yang bermotifkan etnik dari daerah lain di Indonesia seperti motif tenun dari daerah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, Bali dan sebagainya, karena motif dari daerah yang telah disebutkan diatas,
pasarnya masih terbuka luas.

Berbagai motif kain tenun troso dapat kita jumpai pada berbagai showroom / ruang pamer yang ada di desa Troso, jaraknya sekitar 12 km dari ibukota Jepara.

 

WOVEN TROSO

Troso is the name of one of the villages in Pecangaan sub-district, Jepara Regency, Central Java. This village is the place of weaving Troso artisan community. Actually,Troso weaving is a technique of Gedokweaving, the name “Gedhok” is taken from the sound of the loom, “Dhok-Dhok” or “knock-knock” during the weaving.Over a long period time woven Gedhokdeveloped into woven Ikat(Ikatis dyeing technique used to create the designs). However, people of Jepara and its surrounding prefer to call their woven product as “Woven Troso” or “TenunTroso”.

This weaving craft has grown and developed since Dutch colonial era and continue to be preserved from one generation to the next generation, which is now in the fifth generation. There are 2patterns of woven created by the communities in Troso village:

-          Pattern of Cemara(spruce)

-          Pattern of Lompong (Taro leaves)

Woven cemara(spruce) and lompong(taro leaves) patterns are patterns that are inscribed in sarongs. Because of the sarong, the public knows Troso village. Overtime, woven with cemara and lompongpatterns were rarely made by the artisans dues to the lack of market demand. In the past, Woven with cemara and lompongdesignshad reached its popularity. However, the popularityendedbecause of some issues, such asdifficulty to obtain raw materials in large quantities with consistent specifications. At that time, the political situation was also less favorable due to civil war related to 30 September movement.

Besides hand carved Jeparafurniture which is very famous,Local Government wishes to promote the craft of Jepara, especially Woven Troso. One of the efforts of the Local Government is to help the promotion of Woven Troso by issuing the rule for the Local Government officer to wear Woven Troso in the office. The uniform must be worn in a certain day during the week. The obligation shows the seriousness of Local Government of Jepara in preserving and conserving the local culture knowledge and assetin realizing their desire to explore the potential of the region as well as promoting the handicraft industry to be a superior product of Jepara Regencybesides carved furniture. This obligation for wearing woven Troso has made the Troso artisan excited and become productive again in making woven Troso which period of time has been cutback.

Ikat products of Troso village includeupholstery fabrics furniture, curtains, uniforms and traditional clothing of Jepara Regency. Some types of ikat has many kinds of ethnic patterns from other parts of Indonesia such as patterns from East Nusa Tenggara, West Nusa Tenggara, Borneo, Bali, and the others. They are also made because the patterns fromthose areasattractconsumers in the market.

Various patterns of woven Troso can be found in various showroom in Troso village, located about 12 km from the city of Jepara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Read 481 times Last modified on Sunday, 18 June 2017 09:10

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/ticjepar/public_html/modules/mod_wsfbcom/mod_wsfbcom.php on line 18

KALENDER EVENT

August 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31