Batik Jepara

  • Posted on:  Thursday, 29 September 2016 08:45
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)

Sekilas Batik di Jepara

Di samping seni mengukir kayu yang menjadi icon budaya daerah, seni batik jepara tak kalah masyhur dalam merekam jejak makna ke sejarahan di mata dunia.

Hal yang cukup menonjol adalah ketika Raden Ajeng Kartini mengajarkan pelajaran membatik kepada murid – muridnya, membawa karya batiknya pada pameran untuk karya wanita di DEN HAAG pada tahun 1898, dimana karya – karya batiknya mendapat perhatian besar dari Ibu Suri Kerajaan. Bahkan naskah – naskah batik kartini yang ditulis di Had Schrif Japara menjadi bagian penting dari G.P. Rouffaer pada buku karangannya DE BATIK KUNTS IN NED INDIE EN HARE GESCHEIDENIS.

Kartini belajat membatik dari ibundanya sendiri yaitu R.A. Ngasirah, di samping mbok dullah & mbok kardumah pegawai tetap Pendopo Kabupaten.

Ketika R.M.A.A. Sosroningrat ayahanda kartini wafat, R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo ditunjuk oleh pemerintah kolonial untuk menjadi Bupati penggantinya, kemudian sekolah membatik dilanjutkan oleh R.A. Atas Warin yang tidak lain  adalh garwa padmi R.M.A.A. Koesoemo Oetoyo.

 

BATIK FROM JEPARA

 

About Batik of  Jepara

 Besides woodcarvings, another well known local cultural icon of Jepara is batik arts. Jepara batik is well known in the world, and historically has made its own meaningful footprints in the world.

The most prominent was when Raden Ajeng Kartini taught batik arts making to her students, and brought  the batiks to the exhibition of women’s  artworks in  DEN HAAG in 1898, where they received great attention from Mother of  the Queen of the  Dutch kingdom. Even the scriptures on batik that was written by Kartini inHand Schrif Japarabecomes an important part in  G.P. Rouffaer’s  book DE BATIK KUNTS IN NED INDIE EN HARE GESCHEINDENIS. Kartini learnt the art of making bating from her mother, R.A. Ngasirah, and from the women workers of the Regncy Hall, MbokDullah and MbokKardumah.

When Kartini’s father, R.M.A.A Sosroningrat died,  the Colonial Government appointed R.M.A.A Koesoemo Oetoyo as the successor of the regent, and RA Atas Warin, Garwapadmi, or the first wife,  of R.M. A.A. Koesoemo Oetoyo, continued   the  batik school.

 

Read 915 times Last modified on Saturday, 29 April 2017 09:46

Related items

More in this category: Pasar Durian - Ngabul »

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

KALENDER EVENT

November 2017
S M T W T F S
1 2 3 4
5 6 7 8 9 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30