Pesta Baratan

  • Posted on:  Saturday, 28 January 2017 11:57
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)
Pelaksanaan : Tanggal 15 Sya'ban (Kalender Komariyah) atau tanggal 15 Ruwah (kalender Jawa)

Lokasi : dipusatkan di Masjid Al Makmur Desa Kriyan Kecamatan Kalinyamatan ,Kabupaten Jepara

 

Salah satu tradisi masyarakat Jepara yang erat kaitannya dengan Ratu Kalinyamat adalah “Pesta Baratan”. Kata “baratan” berasal dari sebuah kata Bahasa Arab, yaitu “baraah” yang berarti keselamatan atau “barakah” yang berarti keberkahan.

Ritualnya sederhana, yaitu setelah shalat maghrib, umat islam desa setempat tidak langsung pulang. Mereka tetap berada di masjid / musholla untuk berdo’a bersama. Surat Yasin dibaca tiga kali secara bersama-sama dilanjutkan shalat isya berjamaah. Kemudian memanjatkan doa nishfu syakban dipimpin ulama / kiai setempat, setelah itu makan (bancaan) nasi puli dan melepas arak-arakan. Kata puli berasal dari Bahasa Arab : afwu lii, yang berarti maafkanlah aku. Puli terbuat dari bahan beras dan ketan yang ditumbuk halus dan dimakan dengan kelapa yang dibakar atau tanpa dibakar.

Ada 2 versi cerita yang mendasari tradisi baratan yaitu :

  • Cerita Versi Pertama
    Sultan Hadirin (Sayyid Abdurrahman Ar Rumi) berperang melawan Aryo Penangsang dan terluka. Kemudian Sang isteri Nyai Ratu Kalinyamat (Retno Kencono) membawanya pulang ke Jepara dengan dikawal prajurit dan dayang-dayang. Banyak desa di sepanjang jalan yang dilewati rombongan diberi nama peristiwa menjelang wafatnta Sultan Hadirin. Salah satu contohnya adalah saat rombongan melewati suatu desa, mendadak tercium bau harum semerbak (gondo) dari jasad Sultan, maka desa tersebut sekarang kita kenal dengan nama Purwogondo.
  • Cerita Versi Kedua
    Setelah berperang melawan Aryo Penangsang, Sultan Hadirin tewas dan jenazahnya dibawa pilang oleh isterinya (Ratu Kalinyamat) pulang ke Jepara. Peristiwa itu berlangsung malam hari, sehingga masyarakat disepanjang jalan yang ingin menyaksikan dan menyambut rombongan Ratu Kalinyamat harus membawa alat penerangan berupa obor.
Setelah makan nasi puli, masyarakat di desa Kriyan dan beberapa desa di sekitarnya (Margoyoso, Purwogondo, dan Robayan) turun dari masjid / mushalla untuk melakukan arak-arakan. Ada aksi theatrikal yang dilaksanakan seniman setempat, selebihnya diikuti oleh seluruh lapisan masyarakat dewasa maupun anak-anak. Ribuan orang dengan membawa lampion bergerak dari halaman masjid Al Makmur Desa Kriyan dengan mengarak simbol Ratu Kalinyamat dan Sultan Hadirin menuju pusat Kecamatan. Mereka meneriakkan yel-yel ritmis : tong tong ji’ tong jeder, pak kaji nabuh jeder, dan sebagian lainnya melantunkan shalawat Nabi.
 
Dari sisi agama, tradisi ini dianggap sebagai ritual penyucian diri bagi umat islam, apalagi pelaksanaannya menjelang puasa bulan Romadlon. Selain itu, tradisi ini menggambarkan semangat dan optimisme dalam menjalani hidup, disamping keteguhan dalam menghadapi berbagai cobaan. Semua itu terangkum dalam do’a nishfu syakban yang dipanjatkan.
 
Untuk Prosesi kali ini, tidak di tempatkan di "Masjid Al Makmur" dikarenakan masjid tersebut sedang mengalami perbaikan dan dipindahkan ke "Gedung Kesenian - Desa Kriyan Kec. Kalinyamatan Kab. Jepara". Untuk Pementasan kolosal sendiri tetap di Kantor Kecamatan Kalinyamatan.

 


BARATAN PARTY

One of the traditions of Jeparasociety which is relevant to history of Kalinyamat Queen is the “Baratan Party”. Baratan word derives from an Arabic word namely “Baraah” which means salvation, or “Barakah” which means Blessing.
The tradition of Baratan Party is held every on 15thSya’ban (Arabic calendar) or on 15thSya’bans’s eve. The activity is centered at Al Makmur mosque, Kriyan village, KalinyamatanSubdistrict.

The ritual is simple. After Maghrib praying (sunset praying time) when community of Moslems finished to pray, they don’t straight go home, but remain to stay at Mosque. Furthermore, they read Surah Yaseen 3 times continued with implementation of Isha praying together.  In the ceremony, local Kiai leads to pray. After that, they eat bancaan (a traditional thanksgiving) and Puli rice and then do the procession. The word of Puli derives from Arabic: Afwu lii, which means please forgive me. Puli is made of real rice and sticky rice which both of them are pounded softly and eaten with fired coconut.
There are two versions of story on background of Baratan tradition:

  • The first version.
    Sultan Hadirin (Sayyid Abdurrahman Ar Rumi) fight with AryoPenangsang and he was injured. Then, his wife, Kalinyamat Queen or RetnoKencono took him to Jepara, escorted by the guards and her followers. Many villages as long as street which passed by Sultan Hadirin and the servants, is named “a certain name” adjusted with events time comes close to Sultan Hadirin’s death. One of them is when Sultan Hadirin and the servants passed a village, suddenly they smell fragnant (Gondo) from Sultan Hadirin’s corpse, then now the village is calledPurwogondo.
  • The second version
    When the fighting againstAryaPenangsang, Sultan Hadirinwas killed and Kalinyamat Queen took Sultan Hadirin’s corpse home to Jepara. This tragedy was held at night, so that, people who are at along the street who want to see and greet the entourage of Queen Kalinyamat should bring lighting equipment in the form of obor((lighting equipment made of bamboo, then filled with kerosene and covered with cloth).

After eating Puli rice, people at Kriyan Village and some villages around it (Margoyoso, Purwogondo, and Robayan village) leave the Mosque to join procession. There is Theatrical action which is held by local artists and a part of it followed by all elements of society either adult or children. Thousands of people bring paper lanterns moves from yard of Al Makmur mosque in Kriyan village by escorting the symbol of KalinyamatQueen and Sultan Hadirin toward the center of the district. They yelling rhythmically: TONG TONG JI’ TONG JEDER, PAK KAJI NABUH JEDERand the others sing Sholawat of prophet.

From the religion side, this tradition is a ritual of purification for Muslims, especially it held before Ramadan fasting month. Moreover, this tradition illustrates the spirit and optimism in life, in addition to firmness In the face of temptation. All were summarized in Sha’ban Nishfu prayers were being said.

 

Read 1006 times Last modified on Monday, 08 May 2017 11:01

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

KALENDER EVENT

October 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31