Pesta Lomban ( Larungan Kepala Kerbau )

  • Posted on:  Saturday, 28 January 2017 11:57
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)

Pesta Lomban di Jepara pada awalnya adalah pestanya masyarakat nelayan di wilayah Kabupaten Jepara, namun dalam perkembangan peasta ini telah menjadi milik masyarakat Jepara pada umumnya. Pesta ini merupakan puncak acara dari Pekan Syawalan yang diselenggarakan pada tanggal 8 syawal atau 1 minggu setelah hari Raya Idul Fitri. Pesta lomban oleh masyarakat Jepara sering pula disebut sebagai “ Bakda / Bada Lomban “ atau Bakda / Bada Kupat . Disebut “ Bakda Kupat “ kasrena pada saat itu masyarakat Jepara merayakannya dengan memasak kupat dan lepet disertai rangkaian masakan lain yang lezat seperti : opor ayam, rendang daging, sambal goreng, oseng-oseng dan lain-lain. Kupat adalah bentuk tradisional yang tidak asing lagi bagi masyarakat khususnya masyarakat Jawa Tengah. Kupat ini terbuat dari beras yang dibungkus daun kelapa muda (janur), rasanya seperti nasi biasa. Sedangkan lepet hampir seperti kupat tetapi terbuat dari ketan disertai parutan kelapa dan di beri garam. Lepet ini rasanya lebih gurih dan dimakan tanpa lauk. Bentuknya bulat panjang 10 cm. selain hidangan khas bakda kupat dengan kupat lepetnya, masyarakat Jepara masih menyediakan aneka macam makanan kecil. Sedangkan anak-anak merayakan hari raya ini dengan memakai pakaian baru warna-warni dan siap untuk “berlomban-ria” di Pantai Kartini Jepara sebagai pusat keramaian Pesta Lomban.
 
Istilah Lomban oleh sebagian masyarakat Jepara disebutkan dari kata “Lomba-lomba” yang berarti masyarakat nelayan masa itu bersenang-senang melaksanakan lomba-lomba laut yang seperti sekarang masih dilaksanakan setiap pesta Lomban, namun ada sebagian mengatakan bahwa kata-kata lomban berasal dari kata “Lelumban” atau brsenang-senang. Semuanya mempunyai makna yang sama yaitu merayakan hari raya dengan bersenang-senang setelah berpuasa Ramadhan sebulan penuh.
 
Mereka mempersiapkan “Amunisi” guna dipergunakan dalam “Perang Teluk Jepara” baik amunisi logistic berupa minuman dan makanan maupun amunisi perang berupa ketupat, lepet dan kolang kaling, guna meramaikan dibawa pula petasan sehingga suasananya ibarat perang masa sekarang Keberangkatan armada perahu ini diiringi dengan gamelan Kebogiro.
Bunyi petasan yang memekakkan telinga dan peluncuran “Peluru” kupat dan lepet dari satu perahu ke perahu yang lain. Saat “Perang Teluk” berlangsung dimeriahkan dengan gamelan Kebogiro. Seusai pertempuran para peserta Pesta Lombang bersama-sama mendarat ke Pulau Kelor untuk makan bekalnya masing-masing. Di samping makan bekalnya situasi di Pulau Kelor tersebut ramai oleh para pedagang yang juga menjual makanan dan minuman serta barang-barang kebutuhan lainnya. Selain pesta-pesta tersebut, para nelayan peserta Pesta Lomban tak lupa lebih dahulu berziarah ke makam Encik Lanang yang dimakamkan di Pulau Kelor pada sore hari satu hari sebelum Pesta Lomban berlangsung.

Pesta Lomban masa kini telah dilaksanakan oleh warga masyarakat nelayan Jepara bahkan dalam perkembangannya sudah menjadi milik warga masyarakat Jepara. Hal ini nampak partisipasinya yang besar masyarakat Jepara menyambut Pesta Lomban. Dua atau tiga hari sebelum Pesta Lomban berlangsung pasar-pasar di kota Jepara nampak ramai seperti ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri. Ibu-ibu rumah tangga sibuk mempersiapkan pesta lomban sebagai hari raya kedua. Pedagang bungkusan kupat dengan janur (bahan pembuat kupat dan lepet) juga menjajakan ayam guna melengkapi lauk pauknya.


pesta Lomban berlangsung sejak jam 06.00 pagi dimulai dengan upacara Pelepasan Sesaji dari TPI Jobokuto. Upacara ini dipimpin oleh pemuka agama desa Jobokuto dan dihadiri oleh Bapak Bupati Jepara dan para pejabat Kabupaten lainnya.
 
Selanjutnya sesaji dibawa perairan barat pulau panjang untuk di larung.
 
 
Maksud dari upacara pelarungan ini adalah sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Alloh SWT, yang melimpahkan rizki dan keselamatan kepada warga masyarakat nelayan selama setahun dan berharap pula berkah dan hidayahnya untuk masa depan.

Tradisi pelarungan kepala kerbau ini dimulai sejak Haji Sidik yang kala itu menjabat Kepala Desa Ujungbatu sekitar tahun 1920. Upacara pemberangkatan sesaji kepala kerbau yang dipimpin oleh Bapak Bupati Jepara, sebelum diangkut ke perahu sesaji diberi do’a oleh pemuka agama dan kemudian diangkat oleh para nelayan ke perahu pengangkut diiringi Bupati Jepara bersama dengan rombongan. Sementara sesaji dilarung ke tengah lautan, para peserta pesta lomban menuju ke “Teluk Jepara” untuk bersiap melakukan Perang Laut dengan amunisi beragam macam ketupat dan lepet tersebut. Selanjutnya dengan disaksikan ribuan pengunjung Pesta Lomban acara “Perang Teluk” berlangsung ribuan kupat, lepet, kolang kaling telur-telur busuk berhamburan mengenai sasaran dari perahu ke perahu yang lain.

 “Perang Teluk” usai setelah Bupati Jepara beserta rombongan seusai melarung sesaji kepala kerbau merapat ke Pantai Kartini dan mendarat di dermaga pantai kartini dilanjutkan dengan acara Pesta Kupat Lepet. Jumlah kupat lepet yang disediakan panitia untuk pesta tersebut sebanyak 2.014 buah.

Di sini para peserta pesta lomban dihibur dengan tarian tradisional.

 

 


LOMBAN PARTY

Lomban Party in Jepara was a party for the fishermen in Jepara. As the time changes, this party now is done by the people of Jepara. This party becomes the highlight of Shawwal week. It is held on the eighth day of Shawwal month every year of Islamic Calendar. It is a week after the day of Eid Al Fitr. Jepara people often called it as ‘bakda’, ‘bakda kupat’, or ‘bakda lomban’. They called it bakda kupat because when it is the day, they celebrate it by cooking kupat, lepet and others delicious food like opor ayam, rendang daging, sambal goreng, oseng-oseng, etc. Kupat (Javanese) or ketupat (Indonesia) is not a new food for Indonesian especially those who come from Central Java. This food is made of rice packed up inside a diamond-shaped pouch made of a woven palm leaf. The taste is the same with rice in common. On the other hand, lepet and kupat is alike but lepet is made of sticky rice served with a salted coconut grated. Lepet tastes savory so we can eat it with no side dishes. It is 10 cm long and has a round shape. Besides cooking the typical food of Bakda kupat and lepet, people also cook snacks. The childrens are celebrating by wearing new colorful clothes and getting ready to the Kartini Beach. Kartini Beach is the center of crowd when Lomban Party is happening.

Some people said that the word Lomban derives from the word Lomba-lomba which means the time when the people was very joyful doing any sea competition which is still be done nowadays. Some said that the word derives from the word lelumban or having fun. These two derivations have the same meaning. They are having fun after having a full month of Ramadan fasting. 

People prepare “ammunition” which is used in “Perang Teluk Jepara”. Perang Teluk Jepara is a series of Lomban Party. Ammunitions used are foods and beverages, and also “weapons” like ketupat, lepet, and kolang kaling. They also bring fireworks so that it sounds like a real war. The traditional boats depart with the back sound of kebogiro, a gamelan playing.

The firework sounds and the bullet break the ears. The kebogiro song is still played during the war. After it finishes, all of the participants land in Kelor island to eat their foods. There also many people who sell foods, beverages and also others needs. On the day before Lomban Party, all of the fishermen who participate in the party go to the tomb of Encik Lanang who is buried in Kelor Island.

Lomban Party nowadays is celebrated by not only the fishermen but also the people of Jepara. It can be seen by their enthusiasm for the preparation of the party. Two or three days before the party, markets in Jepara are becoming as crowded as the days before Eid Al-Fitr day. The housewives are busy preparing the lomban party as the second big day after eid al-fitr. The seller of kupat and janur (young palm tree leaf) as the stuff to make kupat also sells chickens as the side dish.

Lomban Party starts at 6 a.m. with the ceremony of releasing the offerings from TPI Jobokuto. This ceremony is led by Muslim figure from Jobokuto Village. It is attended by the Regent and the crews. After that, the offerings are brought to the west of Panjang Island to be thrown to the sea.

The purpose of throwing the offerings is to thank God for all bless and safety that have been given to the villagers during the year before and hoping for the year ahead.

The tradition of throwing the buffalo head to the sea started since Haji Sidik being the village head of Ujungbatu Village in 1920. The ceremony of releasing the buffalo head to the sea is led by the Regent of Jepara. Before the buffalo head is put at the traditional boat filled with offerings, the religious leaders lead the prayers and the fishermen put the ammunitions to the boat accompanied by the Regent and the crews. Meanwhile, the offerings are thrown to the middle of the sea. All of the participants are heading to the Gulf of Jepara to do the sea war. The participants throw Kupat, lepet, kolang kaling and rotten eggs to each other.

 “Perang Teluk” ends after the Regent of Jepara and the crews released the buffalo’s head to the sea. The Regent and the Crews then go to Kartini Beach, they land in Kartini Beach Port. They continued the celebration to Kupat Lepet Party. The amount of Kupat Lepet served by the committee is 2.014. There is also a show of traditional dance to entertain the participants

 

 


Read 667 times Last modified on Monday, 29 May 2017 12:58

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/ticjepar/public_html/modules/mod_wsfbcom/mod_wsfbcom.php on line 18

KALENDER EVENT

August 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31