Perang Obor

  • Posted on:  Saturday, 28 January 2017 11:56
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)
 
 
 
Pelaksanaan: Bulan Apit (Jawa) / Dzulhijah (Bulan Hijriah)
Lokasi: Ds Tegal Sambi Kecamatan Tahunan ( 6 KM dari pusat kota Jepara)
 
Upacara tradisional “Obor-oboran” merupakan salah satu upacara tradisional yang dimiliki oleh masyarakat Kabupaten Jepara, khususnya desa tegalsambi kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara yang tiada duanya di Jawa Tengah ini dan mungkin di seluruh Indonesia. Obor pada upacara tradisional ini adalah gulungan atau bendelan 2 (dua) atau 3 (tiga) pelepah kelapa yang sudah kering dan bagian dalamnya diisi dengan daun pisang kering (jawa : Klaras ).
 
Obor yang telah tersedia dinyalakan bersama untuk dimainkan/digunakan sebagai alat untuk saling menyerang ehingga sering terjadi benturan–benturan obor yang dapat mengakibatkan pijaran–pijaran api yang besar, yang akhirnya masyarakat menyebutnya dengan istilah “ Perang Obor “. Perang Obor diadakan atas dasar kepercayaan masyarakat desa tegalsambi terhadap peristiwa atau kejadian pada masa lampau yang terjadi di desa tersebut.
 
Konon ceritanya pada abad XVI Masehi, di desa tegalsambi ada seorang petani yang sangat kaya raya dengan sebutan “Mbah Kyai Babadan” Beliau mempunyai banyak binatang piaraan terutama kerbau dan sapi. Untuk mengembalakannya sendiri jelas tak mungkin, sehingga beliau mencari dan mendapatkan pengembala dengan sebuatan KI GEMBLONG. Ki Gomblong ini sangat tekun dalam memelihara binatang – binatang tersebut, setiap pagi dan sore Ki Gemblong selalu memandikanya di sungai, sehingga binatang peliharaannya tersebut tampak gemuk – gemuk dan sehat. Tentu saja kyai babadan merasa senang dan memuji Ki Gemblong, atas ketekunan dan kepatuhannya dalam memelihara binatang tersebut.
 

Setelah kejadian ini hampir setiap hari Ki Gemblong selalu menangkap ikan dan udang, sehingga ia lupa akan tugas / kewajibannya sebagai penggembala. Dan akhirnya kerbau dan sapinya menjadi kurus-kurus dan akhirnya jatuh sakit bahkan mulai ada yang mati. Keadaan ini menyebabkan Kyai Babadan menjadi bingung, tidak kurang –kurangnya dicarikan jampi – jampi demi kesembuhan binatang –binatang piaraannya tetap tidak sembuh juga.

Akhirnya Kyai Babadan mengetahui penyebab binatang piaraannya menjadi kurus –kurus dan akhirnya jatuh sakit, tidak lain dikarenakan Ki Gemblong tidak lagi mau mengurus binatang – binatang tersebut namun lebih asyik menangkap ikan dan udang untuk dibakar dan dimakannya.

Melihat hal semacam itu Kyai Banadan marah besar, disaat ditemui Ki Gemblong sedang asyik membakar ikan hasil tangkapannya. Kyai Babadan langsung menghajar Ki Gemblong dengan menggunakan obor dari pelepah kelapa. Melihat gelagat yang tidak menguntungkan Ki Gemblong tidak tinggal diam, dengan mengambil sebuah obor yang sama untuk menghadapi Kyai Babadan sehingga terjadilah “ Perang Obor “ yang apinya berserakan kemana mana dan sempat membakar tumpukan jerami yang terdapat disebelah kandang. Kobaran api tersebut mengakibatkan sapi dan kerbau yang berada di kandang lari tunggang langgang dan tanpa diduga binatang yang tadinya sakit akhirnya menjadi sembuh bahkan binatang tersebut mampu berdiri dengan tegak sambil memakan rumput di ladang.

Kejadian yang tidak diduga dan sangat dramatis tersebut akhirnya diterima oleh masyarakat desa Tegalsambi sebagai suatu hal yang penuh mukjizat, bahwa dengan adanya perang obor segala jenis penyakit sembuh. Pada saat sekarang upacara tradisional Perang Obor dipergunakan untuk sarana Sedekah Bumi sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan Rahmat, Hidayah serta taufikNya kepada warga Desa Tegal Sambi, dan event ini diadakan setiap tahun sekali.

 

 “THE TORCH WAR”

Date of performances: Apit Month (Javanese)/ Dzulhijah (Muslim’s calendar)

Location: Tegal Sambi Village, Tahunan Sub district (around 6km from city center of Jepara). Traditional ceremony “Obor-oboran” is a traditional ceremony, which is owned by the society of Jepara, especially Tegal Sambi village Tahunan sub district Jepara Regency. Obor (torch) in this ritual made by two or three roll of dry-palm frond filed with dry leaves of banana (Javanese: klaras).

The prepared torches are burnt together as an attacker in order to cause big hot flame, then called as “Perang Obor” or Torch War. Perang Obor held on the believed of Tegal Sambi villagers towards the occurrences that happened on the village in the past.

  In the 16th century, at Tegal Sambi  there was a rich farmer called “Mbah Kyai Babadan”. He had many cattles especially buffaloes and cows. It was impossible for him to look after his cattle by himself, so he looked for shepherd and he found one named KI GEMBLONG. Ki Gemblong was very diligent in maintaining the cattle, he always washed his cattle every morning and afternoon at the river it caused the cattle looked fat and healthy. Kyai Babadan was very happy; he then praised Ki Gemblong for his diligences and allegiances in maintaining the cattle. 

One day, the buffaloes and cows was herd by Ki Gemblong was herding on the edge of Kembangan River and saw lot of fish and shrimps there. Without waiting any longer, he immediately cached the fish and shrimps then cooked and ate it at the stable.

After this event, almost every day Ki Gemblong caught fish and shrimps, he forgot about his duty as a shepherd. Finally, the buffaloes and cows became weak and sick even death. This condition made Kyai Bababadan confused. He tried to heal his pets with magic but it didn’t work.

Finally, Kyai Babadan found out the reason, which made his cattles, became weak and sick. It was because Kyai Gemblong did not looking after his cattle but he always caught fish and shrimp then cooked and ate it.

Kyai Babadan was furious when he saw Ki Gemblong was grilled his caughtfish. Then Kyai Babadan hit Ki Gemblong with torch made from coconut palm. Seeing unfavorable body language, Ki Gemblong took a same torch against Kyai Babagan. Then “Perang Obor “finally began. The fire from the torches spread out and burnt haystack beside the stable. The fire blaze made the cows, buffaloes run away from the stable, and the miracle happened. The cattle who was sick suddenly healed even they can stand up and grazing in the field.

Tegal Sambi villagers finally accepted the unpredictable and dramatic moment as a miracle. They believed with “Perang Obor” tradition all of diseases could be healed. Nowadays, the traditional ceremony Perang Obor is used to  hold Sedekah Bumi (a post-harvest thanksgiving ceremony) as an expression to God for his mercy towards Tegal Sambi villagers. This event is held once a year.

Read 904 times Last modified on Saturday, 29 April 2017 09:32

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

KALENDER EVENT

October 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31