Jembul Tulakan

  • Posted on:  Saturday, 28 January 2017 11:55
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)
 

Pelaksanaan Jembul Tulakan diadakansetahun sekali, setiap bulan Apit hari Senin Pahing, sebagai tanda rasa syukur pada Tuhan Yang Maha Esa atas rizki yang dilimpahkan pada penduduk Kademangan Tulakan.

Lokasi Jembul Tulakan terletak di desa Tulakan Kecamatan Donorojo + 40 km dari kota Jepara.

Ki Demang Barata mengadakan upacara syukuran yang kemudian dikenal dengan sedekah bumi. Arti kata sedekah bumi adalah sedekah ( amal )dari hasil bumi yang diwujudkan dengan berbagai macam makanan kecil.
Sebagai langkah untuk mengingat laku tapa brata yang dilakukan oleh Nyai Ratu Kalinyamat dalam menuntut keadilan atas kematian suaminya Sunan Hadiri, yang dibunuh oleh Arya Panagsang. Sebelum sedekah bumi pada hari Senin Pahing, didahului manganan dipunden Nyai Ratu Kalinyamat, yaitu bekas pertapaan. Pada hari Jum’at Wage sesuai dengan riwayat yang menyebutkan bahwa kedatangan Ratu Kalinyamat untuk bertapa adalah Jum’at Wage.
Sebagai tanda bukti dan setia murid-murid Ki Demang Barata yang sudah memimpin pedukuhan, masing-masing mengantarkan makanan kecil kerumah Ki Demang. Makanan kecil tersebut diletakkan dalam dua buah ancak dan diatas makanan kecil ditanamkan belahan bambu yang diirat tipis-tipis. Iratan tipis bambu tersebut melambangkan rambut jembul dengan diatur sedemikian rupa.
Ancak dari rambut jembul dari iratan bambu tipis tersebut dinamakan Jembul Tulakan. Jembul merupakan perlambangan dari ungkapan yang diucapkan oleh Ratu Kalinyamat waktu menjalani pertapaan yaitu Ora pati-pati wudhar tapaningsun, yen durung keramas getehe lan karmas keset jembule Aryo Panangsang yang dapat berarti tidak akan menyudahi tapa kalau belum keramas dengan darah dan keset rambut Aryo Panangsang.

2. Manfaat.
Dari sisi atraksi budaya, upacara tradisional Jembul Tulakan cukup menarik karena melibatkan seluruh masyarakat yang merasa memiliki tradisi tersebut. Dengan terlibatnya masyarakat secara merata membuat tradisi ini mampu terpelihara dari waktu ke waktu dengan berbagai nuansa-nuansa baru dengan tetap mempertahankan persyaratan upacara yang dianggap harus ada, baik dari segi peralatan maupun langkah- langkah yang harus dilalui.
Atraksi Jembul Tulakan ini, disamping menarik bagi masyarakat pendukung budaya tersebut sebagai bagian dari aktifitas budaya penyelarasan dengan alam lingkungan, juga menjadi tontonan budaya bagi masyarakat lain yang tidak terlibat secara langsung dengan kegiatan ini.
Dengan berkumpulnya berbagai lapisan masyarakat pendukung maupun yang datang sebagai penonton, maka tradisi ini sekaligus dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata, minimal wisata local. Munculnya aktifitas budaya ini juga dibarengi dengan aktifitas ekonomi. Setiap kali perayaan pasti mendatangkan penjual makanan kecil maupun warung-warung souvenir dan oleh-oleh yang menjadi makanan khas disana. Atraksi ini mampu mendatangkan betuk kegiatan ekonomi baru sebagai unit usaha yang mendukung kegiatan pariwisata meskipun masih dalam lingkup kecil atau local. Namun demikian lama kelamaan dengan tersebarnya informasi mengenai lokasi-lokasi wisata yang ada di Kabupaten Jepara, diharapkan atraksi budaya Jembul Tulakan ini dapat menjadi daya tarik wisata yang bersifat nasional. Apalagi melihat perkembangan yang ada di Jepara sekarang ini berkaitan dengan hadirnya para pengusaha asing untuk melakukan kegiatan ekonomi pada industri kerajinan ukir. Biasanya para pendatang asing tersebut juga tertarik dengan tradisi budaya yang amsih terpeihara untuk lebih mudah menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat.
Langkah strategis yang ditempuh oleh Dinas Pariwisata Jepara juga dapat dijadikan indikator bahwa Upacara Jembul Tulakan memberi kontribusi pada daya tarik wisatawan, dengan cara memasukkannya sebagai salah satu jadwal paket wisata yang dapat dikunjungi. Hal tersebut sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatan Pemerintah Kabupaten, baik berupa pajak penjualan pada warung-warung dan pemasukan bagi masyarakat sendiri sebaagi penjual.
Berkaitan dengan hal tersebut, Pemerintah Kabupaten sendiri mempunyai kepedulian untuk melestarikan tradisi ini. Di satu sisi sebagai salah satu sumber pemasukan daerah sisi lainnya memang sudah menjadi bagian sumber mata pencaharian tambahan masyarakat sekitar objek wisata tersebut dengan menjual makanan, jasa penitipan sepeda dan transportasi.
Masyarakat secara umum merasa bahwa pelaksanaan tradisi sedekah bumi memberikan manfaat. Pertama, sebagai sarana bersyukur pada sang pencipta karena selama satu tahun masyarakat talah diberi rejeki hasil panen. Kedua sebagai media pembelajaran bagi setiap pemimpin desa bagaimana menempatkan dirinya menjadi seorang pemimpin yang baik. Mampu mengayomi dan menciptakan ketemtraman dan kasejahteraan seluruh masyarakat. Hil ini disampaikan melalui proses mengitari jambul. Seorang pemimpin harus selalu memperhatikan kehidupan masyarakat secara umum.
Ketiga, tadisi sedekah bumi ini merupakan sarana hiburan bagi masyarakat, beupa wayang maupun tayub. Keempat, pada saat dilakukan sedekah tersebut biasanya mincul usaha-usaha sampingan penduduk baik dalam bentuk jasa maupun makanan kecil, sebagai cara untuk menambah pendapatan penduduk. Kelima, sebagai sarana untuk mengingat perjalan sejarah desa, baik yang berupa cerita rakyat maupun yang sudah dapat dibuktikan kebenarannya. Terutama dalam tradisi sedekah Bumi Tulakan ini adalah sejarah mengenai perjuangan ratu Kalinyamat.
Menurut cerita masyarakat setempat yang selalu dituturkan melalui prosesi Sedekah bumi, pada waktu ratu bertapa yang memakan waktu cukup lama , banyak sekali rambut panjangnya rontok. Rambut-rambut tersebut kemudian dikumpulkan ditanam oleh Kasturi (sesepuh dukuh )bapaknya rukan sehingga seolah-oalh sperti makam. Ada dua bumbung yang berhasil ditemukan, yang satu berisi rontokan rambut sedangkn satunya cacatan namun sulit dilacak keberadaanya dan hilan.Akan tetapi masyarakat meyakini bahwa meskipun buktinya belum ditemukan namun keberadaan Ratu Kalinyamat diyakini adanya.

3. Peralatan dan Simbul-simbul.
Dalam pelaksanaan Sedekah Bumi Tulakan atau dikenal juga dengan Upacara Jembul Tulakan ini, disuguhkan dua macam Jembul. Jembul yang besar di depan atau sering disbut Jembul Lanang, sedangkan jembul kecil berada di belakang disebut dengan jembul wadon. Khusus Jembul Lanang dihiasi dengan iratan bambu tipis sedangjan Jembul Wadon tidak. Jembul Lanang di dalamnya terdapat bermacam-macam makanan kecil, seperti jadah (gemblong), tape ketan. Apem dan sebagainya, sedangkan Jembul Wadon berisi lauk-pauknya
Jumlah jembul disesuaika dengan jumlah pedukuhan yang dipimpin oleh kepala-kepal dukuh atau dalam istilah sekarang adlah Kamituwo. Antara lain,pertama, jembul Krajan yaitu jembul dari penduduk dukuh Krajan,tempat kediman Ki demang sebagai pusat pemerintahan Kademangan. Jembul ini memounyai cirri khas berupa golek yang mengganbarkan seorang tokoh bernama Sayid Usman, seorang Nayoko Projo Ratu Kalinyamat.
Kedua, Jembul Ngemplak merupakan wujud dari penghargaan masyarakat untuk Ki Leboh atas perjuanganya membuka perdukuhan Ngemplak, mengingat Ki Leboh adalah kepala dukuh Kedondong yang wilayahnya termasuk Ngemplak. Sebagai identitas Ki Leboh dibuatlah golek dari tokoh yang bernama Mangun Joyo seorang Nayoko Ratu Kalinyamat.
Ketiga, jembul Winong adalah penghargaan terhadap Ki Buntari yang telah merintis sebagai kepala dukuh dan membangunnya dengan baik. Sebagai perlambang dari tokoh tersebut dibuat golek yang merupakan barisan prajurit yang gagah perkasa yang mengawal dan mengamankan keberangkatan Ratu Kalinyamat dari kabupaten Jepara sampai selama di pertapaan Siti Wangi-Sonder.
Keempat, Jembul Drojo merupakan penghargaan terhadap Ki Purwo atas segala jasanya membuka pedukuhan. Sebagai bentuk dari penghargaanya maka dibuatlah golek yang menggambarkan seorang tokoh yang bernama Mbah Leseh seorang tokoh Kalinyamat.
Prosesi dari penampilan jembul ini adalah satu-persatu dengan pertunjukan tarian tayub. Hal ini sebagai pengulangan kembali peristiwa pada waktu para nayoko menghadap Ratu Kalinyamat dan dipertunjukan tarian penghormatan dengan tayup.

4. Prosesi Upacara.
Upacara Jembul Tulakan ini dimulai denan mencuci kaki petinggi atau sekaaran dikenal dengan kepala desa dengan kembang setaman. Aktivitas ini dilakukan oleh perangkat desa, sebagai perlambang kepad Ratu Kalinyamat. Pada mas asekarang masyarakat lebih memajnai sebagai bentuk permohonan agar tercipta kehidupan yang tentram, bersih dari malapetaka dan segala kesulitan yang mebimpa penduduk. Disamping itu sekaligus untuk mengingatkan kepada petinggi agar selau bersih dalam segalatindakan dan langkahnya, tidak melnggar larangan-larangan agama, larangan pemerintah dan menerapkan asas kejujuran dan keadilan dalam memimpin masyarakat desa Tulakan.
Setelah pencucian kaki petinggi maka dilakukan selamtan sebagai lambing permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar desa Tulakan tetap selamat sentosa dan hasil bmi pada tahun mendatang melimpah ruah sehingga kehidupan penduduk Tulakan menjadi sejahtera, cukup sandang, pangan dan papan.
Acara mengitari Jembul dibanyak tiga kali merupakan inti dari proses Jembul Tulakan. Kegiatan mengitari Jembul ddilakukan oleh petinggi diikuti oleh ledek atau penari tayup dan para perngakat desa. Prosesi ini dilakukan unuk menggmbarkan kembali suasana pada waktu Ratu Kalinyamat melakukan pemeriksaan terhadap para nayoko projo yang datang menghadap bekiau sekaligus untuk menyerahkan hulu bekti yang dibawanya . Kesetiaan para nayoko projo ini ditunjukan sewaktu ratu melakukan pertapaannya. Suasana ini pada masa sekarang lebih diartikan sebagai pengingat-ingat agar para pemimpin desa Tulakan selalu menyempatkan diri untuk memberikan perhatian pada staf perangkat desanya dalam menjalankan tugas sehari-hari. Dengan pemantauan tersebut akan tercipte keadaan desa yang aman sentausa.
Di samping memantau para pembantunya, pemimpim desa juga perlu memperhatihan rakyat yang dipimpinnya, dengan turun langsung mengenal masyarakat secara dekat dari perdudukuhan–perdukuhan yang ada, sehingga terciptalah kondisi di desa yamg tertib. Pemimpin benar-benar dapat bertindak mengayomi dan nganyemi dalam arti melindungi dan menciptakan ketemtraman desa yang dipimpinnya.
Setelah dilakukan inti dari upacara Jembul Tulakan, maka sebagai penutup dilakukan Resikan yaitu kergiatan membersihkan tempat yang telah dipakai untuk melakukan upacara. Aktivitas ini dilakukan oleh warga masyarakat Desa Tulakan secara beramai-ramai. Hal ini dimaksudkan sebagai bentuk pengusiran terhadap penyakit-penyakit dan kajahatan-kejahatan dari Desa Tulakan .
Seminggu setelah dilakukan sedekah bumi Tulakan, di dukuh Pejing juga melakukan sedekah bumi yang dusebut sedekah bumi Pejing. Hal ini berkaitan dengan cerita, bahwa pada waktu dilakukan sedekah bumi Tulakan, Mbah Cabuk selaku ketua pedukuhan sakit sehingga tidak bisa datang.
Melihat sakitnya Mbah Cabuk, anak-anaknya serta masyarakat dukuh mengharapkan agar dukuh tersebut diijinkan melakukan upacara jembul serndiri setelah mbah Cabuk sembuh. Harapan ini terkabul, masyarakat di dukuh tersebut diijinkan melakukan sedekah bumi sendiri oleh Kademangan dengan syarat dalam prosesi tersebut tidak ada jembul.
Setelah seminggu kemudian Mbah cabuk sembuh, diadakanlah upacara sedekah bumi Pejing. Diijinkanya Pajing melakukan sedekah bumi sendiri ini, dikarenakan Ki Barata selaku Demang dikenal seorang pemimpin yang arif bijaksana. Sehingga untuk tetap menjaga kerukunan masyarakat di Kademangan, meskipun Pejing melakukan sedekah bumi sendiri harus tetap mematuhi beberapa persyaratan yang diajukan oleh Ki Barata
Syaratnya adalah sedekah bumi di Kademangan Tulakan harus tetap didatangi oleh masyarakat Dukuh Pejing. Waktu pelaksanaan sedekah bumi Pejing tidak boleh bersamaan dengan sedekah bumi Tulakan. Hal ini dimaksudkan agar pada waktu dilaksanakannya sedekah bumi Tulakan, masyarakat Pejing masih bisa mendatangi. Adapun pembagian waktunya, sedekah bumi Tulakan dilakukan pada hari senin pahing maka sedekah bumi Pejing dilakukan seimnggu kemudian yaitu senin Wage
Syarat utama lainnya adalah tidak adanya jembul dalam rangkaian upacara, adapun keramaian yang diperbolehkannya Tayub. Berbagai persyaraan telah disetujui oleh Mbah Cabuk dan kembalilah beliau ke Pejing untuk melakukan sedekah bumi sendiri.
Tradisi Jembul Tulakan dilaksanakan setiap bulan Apit (Dzulqo'dah ) tepatnya pada hari senin sesudah upacara pada malam Jum’at Wage di Desa Sonder, hal ini disesuaikan dengan cerita Ratu Kalinyamat di Desa Sonder pada waktu malam Jum’at Wage. Kemudian pada hari Senin Pahing para Nayoko Projo (para pembesar negeri) menghadap Ratu dengan membawa Hulu Bekti glondong pangareng-areng (penghormatan dengan membawa kebutuhan dan perlengkapan sang Ratu ).
Perlambangan jembul-jembul yang jumlahnya empat dimaksudkan sebagai perwakilan dukuh dukuh yang ada pada waktu itu dan menghadapnya para Nayoko Projo untuk mengantarka hulu bekti. Prosesi upacra yang menggambarkan penyembahan jembul jembul oleh tledek (penari Tayub wanita) mempunyai arti bahwa menurut cerita masa lalu pada waktu sang nayoko menghadap sang ratu mendapat penghormatan dari dayang dayang atau pendamping. Tarian tayub sendiri sebagai bentuk penghormatan para nayoko yang diwujudkan dengan jembul jembul.

JEMBUL TULAKAN

When: JembulTulukan is held once a year, every April on Monday Pahing (traditional day in Javanese culture), as a gratitude expression to God for the Mercy and Blessing to KademenganTulakan people.

Location: JembulTulakanis located in Tulakan village in Donorojosub-district ± 40 kilometers from Jepara Regency.

Ki DemangBarata held a thanksgiving ceremony which is known as SedekahBumi (a post-harvest thanksgiving ceremony). The meaning of SedekahBumi is alms from the earth in the formof traditional food.

As a step to remember laku tapa brata (meditation) which had been done by Queen Kalinyamat in demanding the justice for her husband’s death SunanHadiri. Who was killed by AryaPanangsang, it was held SedekahBumi. Before sedekahbumi on Monday Pahing, it begins with manganan(pilgrim) in Queen Kalinyamat’spunden (Javanese holy place), a place for meditate. The history says that on Friday Wage Queen Kalinyamat arrived to meditate. To show their faith to Ki Demang who had led the small village, they delivered traditional food to Ki Demang’s house. The traditional food had been set in two ancak (a place to put offerings) and while on the top of it a part of bamboo which is cut into a layer was planted. It was a symbol of rambutjembul(front of the head hair)which had been arranged.

Ancak from rambutjembul from layers bamboo’s cut named JembulTulakan. Jembul is a symbol of Queen Kalinyamat’s expression while she was meditating. She said “Orapati-patiwudhartapaningsun, yen durungkramasgetehelankesetjembuleAryoPenangsang” it means she would not finish the meditation until she washed her hair with AryaPenangsang’sblood and wiped her feet with AryaPenangsang’s hair.

2. Benefit

The traditional ceremony of JembulTulakan is quite interesting because all of the people participate in the ceremony. The participation of the people would keep the existence of the tradition from time to time with new nuance but it still keeps the rule of the tradition, both in the tools and steps. Besides attracting the people, JambulTulakan attractionbecomes one of cultural activities which are held annually.

All of people who come to see the tradition could be the attractivenessfor local tourist interest to see the tradition.In every celebration there are many sellers and stands which sellsnacks, souvenirs and traditional foods. This event brings economic activity as a businessunit for local people to support tourism activity.  As the time flies the information about tourism objects in Jepara Regency has been spread. JembulTulukan attraction is expected to attract many people and to become the national tourism destination. Furthermore, the developments in Jepara Regency there are many foreign entrepreneurs starting the carving industry.

Strategic step taken by Jepara Department of Tourism is putting JembulTulakan attraction in a schedule tour package that can be visited.  It becomes one of income sources of the Government of Jepara Regency, both in the sales tax and the income for local people as sellers.They provide food, parking area, and transportation. The society in general thinksSedekahBumi tradition give advantages. The first advantage is as a thanking expression for God because in the last year the villagers have been given plentiful yields. Second is as an instructional media for the leader to be a good leader for villagers. The leader can protect, create peace and prosperity for all villagers. A leader should always pay attention to people's lives in general.

Third, this tradition is to entertain the public, in the form of a puppet or tayub. Fourth, when SedekahBumi is held usually appears the sideline from the society in the form of services and snacks. Fifth, this tradition is to remember the journey of the history of the village in the form of folklore. It is also as a means to remember the struggle of queen Kalinyamat.

3. Tools and Symbols

In the SedekahBumi ceremony or known as JembulTulakan ceremony, two kinds of Jembul are served.The big Jembul called JembulLanang, while the small Jembulcalled JembulWadon. JembulLanangis decorated with part of bamboo which is cut into a layer, while JembulWadon is not. There are many kinds of traditional foods such as jadah (gemblong), tape ketan, apem,etc in JembulLanang. In the JembulWadon there are side dishes.

The totals of Jembul areadapted to the total of small village which led by small village’s head or known as Kamituwo. First, JembulKrajan is jembul for Krajan local people, house of Ki Demang as the central goverment of Kademengan. The characteristic of this Jembul is a puppet which is described as a figure of Syahidusman, a NayokoProjo (government official) of Queen Kalinyamat.

Second, JembulNgemplak is formed of tribute to Ki Leboh from the local people because of his struggle to create the small village of Ngemplak. The head of a small village head, Kedondong which is included Ngemplak area. The local people made a puppet as the identity of Ki Lebohfrom the figure of Mangun Joyo, a Nayoko of Queen Kalinyamat.

Third, JembulWinongisa tribute to Ki Buntari who had started as a small village head and built it well. The local people made a puppet as a symbol from the figure of line of brave troops who guard and secure the departure of Queen Kalinyamat from Jepara Regency to place of meditation Siti Wangi-Sonder.

Fourth, JembulDrojo is a tribute to Ki Purwofor his effort to start the small village. The local people made a puppet which was described as a figure of MbahLeseh from Kalinyamat. The procession of Jembul performanceshowed one by one with tayub dance. It is a repetition of the event when Nayoko faced Queen Kalinyamat and performed it by tayub dance.

4. The ceremonial Procession

JembulTulakan ceremony begins by washing the feet of the village chief using kembangsetaman (Clusters of Flowers). This activity is done by village councilor as a symbol of Queen Kalinyamat. Nowadays, this ceremony is held in purpose to ask for the peaceful life, safe from the disaster, and any difficulties among the villagers. Besides, it also remained the officers to trust in all actions and stride, obedient with religious order, do not violet Government ban, and applying the principle of honesty and fairness in the lead of Tulakan villagers.

After finishing the ritual of washing the feet of the village chief, the next step is doingselamatan (ritual meal) as a symbol to God for asking safety and the next resources will overflow so Tulakan villager life prosperous, enough for sandang (clothing), pangan (food) and papan (house).

The process of circling Jembul in three times is the main process of JembulTulakan. This process done by the village chiefand it followed by ledek or tayub’s dancers and also the village councilor. The procession is conducted to remain the atmosphere when Queen Kalinyamatchecked the servants who met her for giving hulubekti.Nowadays, this atmosphere defined as a reminder for the leaders of the Tulakan village to give attention to the village councilor when they do their duty. The monitoring will create safety and comfort in village.

Besides monitoring their servants, the village chief should pay attention to the society by knowing them well from small villages to others. This policy will create safe condition in the village. The leader can act mengayomi and nganyemiwhich means that the leader can protect and create harmony of the village.

After the core of JembulTulakan ceremony, the closing is done by Resikan. Resikan is cleaning the place that had been used to held ceremony. Tulakan villagers do this activity together with the other villagers. It is mean as an action to extrude diseases and crimes from Tulakan village.

A week after SedekahBumiTulakan, Pejing small village also held the same ceremony called SedekahBumiPejing. When SedekahBumiof Tulakan was held, MbahCabuk as a small village’s chief got sick. It made him did not come to the ceremony.

Seeing the pain of MbahCambuk, his children and the villagers want to hold their own SedekahBumi ceremony after MbahCambuk heals. Their wished came true, Kademangan allowed the villages to hold their own SedekahBumi ceremony with the term.

After a week MbahCambukheals, people heldSedekahBumiPejing. Pejing’s people are allowed doing their own SedekahBumibecause of Ki Brata. Ki Bratais known as a wise leader. To keep the harmony among Kademangan villagers, Pejing villagers should obey some requirements proposed by Ki Barata. The first requirement was Pejing villagers should attend SedekahBumi in Tulakan. Second was the time of SedekahBumiPejing ceremonywas not allowedin the same time ofSedekahBumiTulakan ceremony. As for the division time is, SedekahBumiTulakan held on MondayPahing then SedekahBumiPejing held a week later, Monday wage. Another requirement is there is no jembul (ancak from rambutjembul from layers bamboo’s cut) in SedekahBumiPejing. It only allowed a Tayub dance. MbahCambuk had approved the requirements then he returned to Pejing to do SedekahBumiPejing.

JembulTulakan tradition held every Apitmonth (Dzulhijah) precisely on Monday after the ceremony on Jumat wage night in Sonder village. It considered with the story of Queen Kalinyamatwho arrived to meditatein Sonder village on Jumat Wage night. Then the ceremony held on Monday Pahing, it considered with a story ofNayokoProjo or state officials’ met Queen Kalinyamat by bringing HuluBektiglondongpangareng-areng (as a tribute by carrying the needs and equipment of the Queen).

The symbolism of the four Jembul (JembulKrajan, JembulNgemplak, JembulWinong, JembulDrojo)adapted to the total of small villages in that time. The ceremonial process describes the worship of Jembul-jembul by Ledek (woman Tayub dancers). It means that in the past when NayokoProjo met the Queen they have a tribute from maids. Dance Tayub itself as a tribute for NayokoProjo which established with Jembul-jembul.

 

 

 

Read 477 times Last modified on Thursday, 27 April 2017 14:26
More in this category: « Memeden Gadu Perang Obor »

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/ticjepar/public_html/modules/mod_wsfbcom/mod_wsfbcom.php on line 18

KALENDER EVENT

June 2017
S M T W T F S
1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30