Makam dan Masjid Mantingan

  • Posted on:  Saturday, 28 January 2017 11:54
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)

Pada saat Sultan Hadirin berkuasa, pusat pemerintahan berada di Kalinyamat. Namun ia memiliki pesanggrahan dan pertapaan yang letaknya cukup jauh yaitu di desa Mantingan. Pada saat Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat menghadapi persoalan yang penting, mereka akan bersemedi di tempat ini. Karena tempat ini sangat berarti, maka ketika Sultan Hadirin wafat karena di bunuh oleh orang suruhan Arya Penangsang dan dimakamkan di pesanggrahan yang dikenal masyarakat sebagai tempat keramat. Ratu Kalinyamat memulai pertapannya menuntut keadilan atas kematian suaminya, ia juga melakukan di bukit Gelang atau Gilang tempatnya tidak jauh dari makam suaminya dibangun, setelah sepuluh tahun berkuasa, Ratu Kalinyamat sering mengunjungi makam suaminya, ia ingin membangun masjid. Pembangunan masjid ditandai dengan candrasengkala yang berbunyi Rupa Brahmana Warna Sari tahun 1559.  

Masjid ini adalah masjid tertua kedua setelah masjid Demak. Masjid yang terletak diatas bukit ini dihiasi dengan ornamen ukiran yang terbuat dari batu putih, dindingnya dihiasi dengan relief berbentuk bundar, bujur sangkar, persegi panjang dengan kedua sisinya berbentuk garis kurawal. Motif hiasannya berupa bunga teratai dan hewan yang telah disesuaikan dengan nilai budaya islam. Masuknya budaya islam dalam ornamen ukiran yang ada dimasjid Mantingan konon berasal dari Sunan Kalijaga yang masih nampak unsur Hindu dan Budaya Tiongkok, nampak juga pada gapura makam yang menggunakan gerbang candi bentar. Gerbang ini salah satu ciri khusus bangunan candi Hindu.

   

 

Ukiran Masjid Mantingan ini dibuat oleh Chi Hui Gwan, ayah angkat Sultan Hadirin yang berasal dari Tiongkok. Karena keahliannya mengukir yang luar biasa beliau dikenal juga dengan panggilan Patih Sungging Bandar Duwung. Masjid ini di buat Chi Hui Gwan dengan di bantu oleh penduduk setempat yang sebelumnya telah mendapatkan bimbingan seni ukir. Bahannya menggunakan batu putih yang saat itu banyak tersedia di Mantingan.

Pada Ornamen masjid Mantingan, hiasan binatang disamarkan dalam huruf Arab dan menjadi kaligrafi yang indah. Bentuk binatang yang tersamar dalam huruf Arab ini merupakan jalan keluar terhadap larangan dalam islam untuk menggambarkan makhluk hidup.

Makam Mantingan terletak di belakang masjid. Letaknya membujur kebelakang, terdiri atas tiga bagian. Masing masing bagian dibatasi dengan tembok dan memiliki pintu gerbang. Sesuai dengan bentuk makam kuno, letak makam menunjukkan kedudukan sosial dari orang yang dimakamkan. Teras pertama letaknya paling bawah merupakan pemakaman umum, tersas kedua untuk pemakan orang yang statusnya cukup tinggi termasuk abdi terdekat Ratu Kalinyamat. Sedangkan teras ketiga adalah makam orang-orang yang statusnya tinggi, terutama yang di dalam cangkup.

Teras terbawah, pintu gerbangnya berupa candi bentar yang terbuat dari batu bata. Pintu ini seperti candi terbelah yang ditengahnya bisa untuk di lewait pengunjung. Diantara teras bawah dan teras berikutnya diberi sekat berupa tembok keliling yang juga terbuat dari batu bata merah. Sedangkan teras teratas pintu gerbangnya berupa Paduraksa, yaitu semacam candi yang bagian tengahnya berlubang. Pada lubang ini ada pintu yang bisa dibuka dan ditutup. Bentuk gerbang semacam ini dalam pemakaman jawa dikenal sebagai tempat suci atau disucikan. Pada teras teratas, terdapat bangunan cungkup makam terbuat dari bata merah dan memiliki 2 pintu. Diantara 2 pintu ini terdapat papan batu putih bertuliskan ‘’ Yasanipun Kanjeng Raden Mas Panji Sosroningrat. Tumenggung Nagari Jepara 1812’’. Pada makam didalam cangkup ini dimakamkan Ratu Kalinyamat, Pangeran hadirin dan keluarga dekatnya.

 

Makam Ratu Kalinyamat dan Sultan hadirin sering dikunjungi oleh peziarah umatnya saat memperingati  meninggalnya Sultan Hadirin yaitu pada tanggal 17 Robiul Awal, sehari sebelum hari jadi jepara.

Pada saat seperti itu dilakukan prosesi buka luwur yaitu mengganti penutup makam Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadirin. Makam mantingan sampai saat ini masih dianggap keramat bahkan sebagian masyarakat meyakini bahwa pohon pace yang tumbuh disekitar makam memiliki kasiat, bagi seorang istri yang belum memiliki anak buah ini dapat menjadi obat. Namun hanya buah yang jatuh yang memiliki khasiat dan cara makannya harus dimakan bersama suaminya.

Hal lain yang dianggap keramat adalah air yang ada di komplek makam tersebut. Air keramat ini sangat ampuh untuk menguji kejujuran seseorang. Karena itu air ditempat ini sering digunakan untuk menyelesaikan sengketa atau perselisihan. Caranya dengan doa dan minum air ini, bila bersalah dan tidak mau mengakui kesalahannya, maka akan mendapatkan hukuman dari yang maha kuasa.

Masjid dan Makam Mantingan terletak 5 km arah selatan dari pusat kota Jepara di desa Mantingan kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara, sebuah yang menyimpan peninggalan kuno islam dan menjadi salah satu aset wisata sejarah di jepara, dimana disana berdiri megah sebuah masjid yang dibangun oleh seorang islamik yaitu PANGERAN HADIRIN suami Ratu Kalinyamat yang dijadikan sebagai pusat aktivitas penyebaran agama islam dipesisir utara pulau jawa dan merupakan masjid kedua setelah masjid Agung Demak.

 

 Artikel ini dikutip dari buku :

  1. Sejarah Budaya DINAS PARIWISATA & KEBUDAYAAN KABUPATEN JEPARA 2013
  2. Legenda Jepara, Hadi Priyanto 2014
Read 1110 times Last modified on Wednesday, 03 May 2017 13:11

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/ticjepar/public_html/modules/mod_wsfbcom/mod_wsfbcom.php on line 18

KALENDER EVENT

August 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31