Candi Angin

  • Posted on:  Saturday, 28 January 2017 11:52
  • Written by 
Rate this item
(0 votes)

Rangkuman dari buku “Legenda Jepara 2014“, Penerbit Hadi Priyanto

Menurut cerita tutur yang diyakini oleh masyarakat setempat, candi angin terletak didukuh petung desa tempurini, dibangun untuk tempat peribadatan umat Hindu yang ada diujung utara pulau jawa, pada zaman ratu shima. Candi ini dibangun jauh sebelum candi Borobudur. Candi ini merupakan tempat untuk menyembah dewa angin yang dalam jagad pewayangan dikenal sebagai dewa bayu.

Penempatan candi angin yang letaknya kurang lebih 1500 meter diatas permukaan laut ini konon diyakini sebagai usaha untuk mendekatkan diri pada dewa yang disembah/Yang Maha Kuasa. Karena letaknya yang tinggi serta tiupan angin kencang setiap saat membuat candi ini hancur/bubrah. Ada yang beranggapan kerusakan candi ini kemungkinan disebabkan oleh gempa bumi. Walaupun tidak ada ornamen Hindu Budha dalam bentuk ukiran batu, candi angin dibangun dengan teratur dan ada pembagian ruang. Ada tempat yang rendah dan tinggi.Artinya ada ruang-ruang /tingkatan tertentu untuk pemujaan para dewa yang disembah. Candi angin adalah candi yang bubrah atau hancur dan tidak pernah dikunjungi oleh orang karena letaknya yang tinggi. Ketika diketemukan beberapa petilasan berupa tiga makam dan juga benda-benda  bersejarah seperti patung kecil yang terbuat dari tanah. Sampai sekarang tidak diketahui siapa yang dimakamkan ditempat itu. Orang sering datang ke candi pada bulan Syuro hingga maulud. Orang yang memohon sesuatu dan doanya terkabulkan, biasanya akan kembali lagi ke candi angin membawa ketupat-lepet sebagai tanda terima kasih dan tanda syukur.

Untuk masuk ke dalam candi orang harus minum air kelapa muda, dan untuk masuk makam atau petilasan yang ada, pengunjung harus membawa minyak telon dan juga kembang telon. Sebelumnya juga diingatkan untuk masuk kedalam komplek candi,ada pantangan yang harus dipatuhi yaitu tidak boleh kencing dan buang air besar. Setiap perempatan jalan yang dilalui untuk menuju ke candi, perjalanannya sangat melelahkan. Ada pantangan yang tidak boleh diucapkan yaitu mengeluh kelelahan. Apabila ada yang mengeluh kelelahan biasanya ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Masyarakat setempat menganggap candi angin sebagai salah satu peninggalan purbakala dan sekaligus sebagai tempat yang dikeramatkan. Dikomplek candi angin terdapat berupa punden bertingkat. Sedangkan dipadukuhan Duplak yang ada dibawah candi angin, terdapat sumur batu yang bentuknya seperti duplak. Anehnya sumur ini pada musim hujan tidak terendam dan pada musim kemarau tidak kering. Masyarakat setempat meyakini sumur duplak ini ada hubungannya dengan keberadaan candi angin dan sapto argo. Sapto argo terletak disebelah timur candi angin. Ada anggapan masyarakat bahwa ratu shima dahulunya bertapa di candi angin dan kemudian menyempurnakan semedinya di sapto argo. Masyarakat meyakini, kehadiran dan keberadaan candi angin di wilayah dukuh petung desa tempur ini, membawa pengaruh pada kondisi masyarakat tempur. Masyarakat setempat menganggap, di desa ini tidak akan ada orang yang kaya atau terlalu kaya dan juga tidak ada orang yang miskin atau terlalu miskin sehingga tidak bisa makan. Sebab masyarakat dilindungi oleh pandawa lima. Tokoh pewayangan ini yang membuat desa selalu tenteram dan damai. Hal ini sesuai dengan sifat pandawa lima dalam cerita wayang tidak pernah membuat persoalan dan hidup bersama saling tolong menolong.

 

 

 

Catatan kaki :

http://agusmacan.blogspot.com/2009/09/gebyar-kupatan-candi-angin-2009-tempur.html    

 

ANGIN TEMPLE

 

From “LEGENDA JEPARA” book, writer HADI PRIYANTO:

According to the story which is believed by local people, Angin temple located in the Petung hamlet, Tempurini village, built for the Hindus worship existing on the North of Java island, at the era of Queen Shima. This temple built before Borobudur temple. This temple is the place to worship the God of winds, in the puppet known as DewaBayu.

The placement of Angin temple is located approximately 1500 meters above the sea is reputedly believe to be an effort to get closer to God. Because it is high and the wind blowing all the time makes this temple destroyed. People think the damage of this temple caused by an earthquake. Although there are no Hindu Buddhist ornament in the form of stone carvings, Angin temple was built with regularly and division of space. There are high and low places. It means that there are spaces to some worship of the God. Angin temple is a destroyed temple and never visited by people because the place is too high. When found three tombs and historical object such as figurines made of soil. Until now, people do not know who was buried on this place. People often come to the temple in Muharram until Mawlid. People who pray something and his prayer come true, it usually will go back to the Angin temple bring ketupat-lepet(rice cakes boiled in plaited coconut leaves) as a token of thanks and gratitude.

To entrance the temple, the visitors should drink coconut water, and to entrance the tombs or historical sites. Visitors should bring aromatic oil, and bring telonflowers (three flowers for offerings such as roses, jasmine, and ylang-ylang). Before entrance the temple complex, the visitors also reminded that there are the restrictions that must be followed, should not urinating and defecating. Each intersections of the road to go to the temple, the journey is very tiring. There are restrictions that should not be spoken is complaining of fatigue. If anyone complained about fatigue, there are usually something unexpected happens. The local people consider that Angin temple as one of the archeological heritage and also as a sacred place. There is a step pyramid In the Angin Temple complex. While in the Duplak hamlets under Angin temple, a well stone look like duplak(stone with a hole in the middle). Surprisingly, these well is not submerged in the rainy season and does not dry during the dry season. Local people believed that duplakwell has a connection with Angin temple and Sapto Argo. Saptoargo is located on the East of Angin temple. There is a public perception that Queen Shima was meditating in Angin temple, and then perfecting her meditate in Argo sapto. People believes, the presence and the existence of Angin temple in petung hamlet, Tempur village, had an impact on the condition of people of Tempur village. The local people considers, in this village there will be no one who is rich or too rich, and no one who is poor or too poor to be able to eat. It is because five Pandavas protect the societies, the puppet characters that make the village always serene and peaceful. This is appropriate with the five Pandavas in the puppet story that never made problems and help each other to live together.

 

 

 

Read 996 times Last modified on Friday, 28 April 2017 13:17

PILIH BAHASA

English French German Indonesian Italian Portuguese Russian Spanish

Strict Standards: Only variables should be assigned by reference in /home/ticjepar/public_html/modules/mod_wsfbcom/mod_wsfbcom.php on line 18

KALENDER EVENT

August 2017
S M T W T F S
1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31