INFORMASI

CALENDER EVENT

EVENT
INFO
  • Duta Wisata Jepara
  • Ethernet Cable
  • Spectacles
  • Leaning Tower of Pisa
  • Leaning Tower of Pisa
  • Leaning Tower of Pisa
  • Leaning Tower of Pisa

KI GEDE AGENG BANGSRI

Rangkuman dari buku “Legenda Jepara 2014”, Penerbit Hadi Priyanto

Konon pada jaman kasunanan, ada rombongan pedagang yang berjualan hasil bumi jepara dan dijual ke tempat lain. Rombongan tersebut dipimpin oleh Syeh Akhmad Yasin, dan 3 orang pembantu setianya yaitu Buchari, Ahmad Jalalain, dan Abdullah. Mereka berasal dari Negeri Persia, selain mereka berdagang keliling ke berbagai wilayah Jepara, mereka juga menyiarkan agama Islam. Mereka sering dipanggil Syeh oleh masyarakat, karena mereka menyebarkan islam.

Dalam perjalanan berdagangnya, mereka memperoleh cerita bila di sekitar jepara juga ada seorang sunan yang menyebarkan agama islam, yaitu Sunan Muria. Syeh Akhmad yang penasaran dan berminat untuk dapatbertemu dengan sunan tersebut. Mulai saat itu, Syeh Akhmad Yasin berusaha mencari tahu tempat keberadaan Sunan Muria.

Syeh Akhmad Yasin akhirnya mendapatkan informasi tempat tinggal Sunan Muria, dia berusaha keras agar dapat bersilahturahmi kepada Sunan Muria yang dikenal luas sebagai penyiar agama Islam itu. Akhirnya mereka dapat bertemu Sunan Muria.

Pada waktu bertemu, mereka saling berdiskusi perihal agama islam. Syeh Akhmad Yasin memperoleh tambahan ilmu dan wawasan agama Islam dari Sunan Muria. Syeh Akmad Yasin merasa senang bisa belajar dengan orang yang selama ini dicarinya. Karena itu, dia mendaftarkan diri sebagai murid Sunan Muria. Dia menjadi murid “Kalong” yang tidak menetap di pondok, tetapi datang hanya saat ada kegiatan pengajian.

Syeh Akhmad Yasin dikisahkan sebagai seorang murid yang sangat dekat dengan Sunan Kudus. Karena pengaruhnya sangat besar ia kemudian disebut sebagai Ki Ageng Gede Bangsri.

Diceritakan Karena melihat perkembangan dakwah Ki Ageng Gede Bangsri serta luasnya wawasan agama dan ketulusan berdakwah, Sunan Muria juga segan kepada Syeh Akhmad Yasin. Kedekatan inilah membuat saudara seperguruannya yaitu Suronggoto menjadi iri. Ia kemudian menghancurkan keluarga Syeh Akhmad Yasin dengan menculik anak perempuannya yang bernama Dewi Wiji.

Karena hal itu, Suronggoto mengambil kesempatan pada saat Ki Ageng Gede Bangsri menghadap Sunan Muria dan menjalankan siasatnya untuk menghancurkan Ki Ageng Gede Bangsri. Dewi Wiji berusaha menyelamatkan diri. Ia keluar rumah dan lari ke jalan. Melihat anak gurunya dikejar-kejar, maka Ki Jenggot dan Ki Banjar segera menolong Rara Wiji. Perkelahianpun tak terhindarkan, Ki jenggot dan Ki Banjar akhirnya kalah. Mereka lantas melarikan diri, guna memberitahukan kepada gurunya peristiwa yang baru saja terjadi.

Mendengar cerita dari kedua muridnya, kemudian Ki Ageng Gede Bangsri dan Sunan Muria diikuti Ki jenggot dan Ki Banjar segera mencari Suronggoto. Ketika rombongan sudah menemukan Suronggoto, perkelahianpun kembali terjadi. Dalam perkelahian ini Ki Jenggot dan Ki Banjar meninggal dunia. Ki Ageng Gede Bangsri dan Sunan Muria selanjutnya mengatur siasat untuk mundur sejenak, sambil menyuruh warga setempat untuk memakamkan kedua orang murid Ki Ageng Gede Bangsri tersebut pada tempat yang terpisah. Ki Jenggot dimakamkan di sebuah tempat, yang akhirnya tempat itu dinamakan Desa Jenggotan. Sedangkan Ki Banjar dimakamkan di sebuah tempat yang berbeda, yang kemudian tempat itu diberi nama Desa Banjaran.

Dalam perjalanannya kembali untuk mencari Suronggoto, Sunan Muria dan Ki Ageng Gede Bangsri bertemu dengan Sam Po Kong yang telah dikenal baik, dia adalah Laksamana Cheng Ho. Setelah Sunan Muria menceritakan persoalan yang dihadapinya, Sam Po Kong yang dikenal sakti bersedia untuk membantu menangkap suronggoto.

Akhirnya bertemulah mereka, perkelahian sengit antara Suronggoto dan Sam Po Kong. Setelah melakukan perkelahian cukup lama, suronggoto merasa dirinya akan kalah akhirnya menghilang dan masuk ke rumah Mbok Duni yang ketika itu sedang berjualan kembang. Mengetahui ada orang asing yang masuk kerumahnya, Mbok Duni terkejut dan berteriak meminta tolong. Namun Sebelum sempat ditolong suronggoto, mbok duni telah dibunuh oleh suronggoto. Untuk mengingat peristiwa tersebut tempat dimana mbok duni dimakamkan diberikan nama Desa Kembang.

Suronggoto yang melarikan diri terus, tertangkap pula oleh sam po kong. lantas dihajarlah dengan pusaka andalan sam po kong. Terkena pukulan pusaka, suronggoto berubah menjadi Yuyu Gotho yaitu sejenis kepiting berbulu hitam dan beracun yang tinggal dilaut.

Setelah menjadi Yuyu gotho, ia meengucapkan sumpah untuk tetap melawan dan akan membuat kerusakan di bumi bangsri. Mendengar sumpah itu, sam po kong memisahkan bumi mandalika dengan bangsri. Dipuklah tempat itu hingga menjadi laut tawar yang memisahkan Bumi Mandalika dengan bangsri.

Selanjutnya Suronggoto tinggal di laut Tawar yang kemudian kawasan tersebut menjadi dukuh mentawar. Namun ia sering naik ke darat untuk membunuh orang – orang bangsri. Karena hal itu sam po kong berpendapat, kemarahan suronggoto hanya dapat reda, bila niatnya memperistri rara wiji dapat dikabulkan. Mendapat persetujuan dari Ki Ageng Gede Bangsri dan ke ikhlasn dari Rara Wiji demi menyelamatkan masyarakat bangsri, dipukulah Rara wiji hingga berubah menjadi ular lempe.

Konon diceritakan, Yuyu Gotho sangat takut dengan Ular Lempe, Sebab ular lempe memiliki senjata ampuh berupa bisa yang terletak pada ekornya. Setelah rara wiji menjadi ular lempe dilepaslah ke dalam laut untuk berkumpul dengan yuyu gotho.

Menurut cerita, Ki Ageng Gede Bangsri, dalam legenda Suronggotho ia dikisahkan rela mengorbankan anaknya yang bernama dewi Wiji menjadi Ular Lempe. Karena khawatir dengan ancaman atausumpah Suronggotho yang akan membumi hanguskan Bangsri. Ki ageng Gede Bangsri mempunyai Istri bernama Nyi Ratu Panjang Mas yang sekarang makamnya ada di kalinyamatan.

Kisah meninggalnya Ki Ageng Gede Bangsri tidak diceritakan. Namun masyarakat disekitar bangsri percaya bahwa beliau meninggalkan petilasan berupa mkam. Masyarakat di sekitar bangsri tentu penasaran dan bertanya tentang keberadaan makam tokoh besar dalam syiar islam. Karena itu muncullha upaya pencarian mkam tersebut.

Proses pencarian Ki Ageng Gede Bangsri mulai dilakuakan dengan berbagai cara. Sisik Melik makam itu nampak samar. Berawal dari mimpi dari H. Muhammad Arif salah satu warga masyarakat wedelan yang bertemu kyai sepuh yang mengaku sebagai syekh Akhmad yasin. Mimpi itu selanjutnya disampaikan kepada mbah sobib. Mabah sobib mengatakan “Kalina Mondar – Mandir kesana kemari bertahun – tahun sebernarnya mencari hal yang tidak jauh. Kalian cari saja LERENG NGANJUR BANJARSARI, Desa Wedelan”.

Untuk memantapkan keberadaan makam syeikh Akhmad Yasin, H. Muhammad Arif sowan kepada beberapa kyai sepuh di jawa timur seperti Syaikh Akhmad Jumadil Kubro. Kyai sepuh ini memberikan petunjuk bahwa makam Ki Ageng Gede Bangsri ada di desa Nganjur. Di desa ini ada gerumbul atau perdu di kiri jalan. Di tempat itu ada makam kecil. Nah itulah makam dari Ki Ageng Bangsri. Baru pada Tahun 1995 ditemukannya makam kecil itu. Seterusnya makam itu dibersihkan dan dibangun.

 

JADWAL KAPAL MENUJU KARIMUNJAWA DARI KENDAL

img_4171-copy
KMC. BAHARI 2C

Hari

Pelabuhan Keberangkatan

Jam

Pelabuhan Kedatangan

Jam

Senin

OFF

Selasa

OFF

Rabu

Kendal

09.00

Karimunjawa

11.30

Kamis

Karimunjawa

12.00

Kendal

14.30

Jumat

Kendal

09.00

Karimunjawa

11.30

Sabtu

OFF

Minggu

Karimunjawa

12.00

Kendal

14.30

Harga Tiket         :

1.    VIP                       :Rp 260.000

2.    Eksekutif              : Rp 230.000

Pemesanan / Reservation (Booking/Reservation) :
Kantor Ex.Bahari Kendal                 : 082 241 800 700

Kantor Ex.Bahari Karimunjawa       : 029-7312333           

 

 

Status YM

KONTAK KAMI

Jl. Alun - alun No.1
Jepara, Jawa Tengah.

Komplek Museum R.A Kartini

Phone : 0291 - 591169
Email : info@ticjepara.com